Setelah gagal memperoleh kesaktian dengan jalan bertapa di kebun belakang rumah, aku jadi tak banyak bicara. Hanya Budi yang tahu kesedihanku. Dia pula satu-satunya orang yang tahu bahwa aku pernah bertapa di bawah pohon melinjo yang kelak tumbang berbarengan dengan meninggalnya ibuku. Tak perlu kuceritakan bagaimana jalannya samadiku yang pertama dan terakhir itu. Yang terang tak sehening Begawan Ciptoning di cerita wayang. Tak ada setan atau bidadari yang menggoda dan duduk di pahaku. Tak ada Narada atau Jibril yang datang membawa wahyu. Cuma sejumlah semut rangrang, menggigitku berulang-ulang.

Seminggu setelah kegagalan itu, Budi datang membawa kabar bahwa Antok, anak pawang ular yang tinggal ujung timur kampung, telah mengangkat dirinya menjadi guru. Aku tak terlalu mengenalnya meski sebenarnya jika dirunut-runut kami masih bersaudara. Nenek Antok, kami biasa memanggilnya Mbah Dukun, dan Nenekku, Mbah Dukuh Lawas, memiliki ikatan persaudaraan, entah bagaimana persisnya pertalian itu. Budi meyakinkanku bahwa kami bisa diterima menjadi muridnya. Kata Budi telapak tangan kanan Antok seperti mata air. Tiap kali haus Antok tinggal menempelkan telapak tangannya ke bibir. Aku tak sepenuhnya percaya tapi saat itu juga kami segera mencarinya. Aku lupa apakah kami berhasil menemuinya sore itu atau tidak. Ada beberapa bagian yang hilang, memang, dari kisah ini—semoga tak terlalu mengganggu.

Seingatku Antok berbadan besar, lebih besar dari kebanyakan anak-anak di kampung kami. Wajahnya bulat dengan kedua mata yang besar dan juga bulat. Rambutnya cepak dan tegak. Entah bagaimana wujudnya sekarang. Waktu itu terus terang aku segera meragukan keampuhannya. Meragukan mata air di genggaman tangannya. Tapi tetap saja aku datang pada pertemuan pertama yang telah diatur oleh Budi.

Ilmu pertama yang diturunkannya adalah ajian Brajamusti. Entah darimana Antok mendapatkan ilmu sakti Raja Pringgondani itu. Kami, aku, Budi dan si Kus, sepupu Budi, menerima ilmu itu di tempat rahasia kami: di belakang gardu diesel yang tersembunyi di balik rimbun kalanjana yang terletak persis di utara kampung kami. Menurut Antok Brajamusti memiliki tiga tingkatan dan kami harus menguasainya satu persatu dengan urut. Tak bisa melompat? Tanyaku waktu itu. Antok menggeleng. Dadamu bisa pecah, katanya dengan dingin. Aku langsung melirik Budi dan mengacungkan jempol dengan sembunyi-sembunyi. Budi mengangguk puas.

Kami segera bersiap menerima ilmu pertama itu. Antok meminta kami buka baju. Aku mendapat giliran pertama. Setelah berkomat-kamit dan mengusap-usap kedua telapak tangannya Antok memukul dadaku lima kali dengan telapak tangan kanannya. Pukulan pertama membuatku terdorong ke belakang dan jatuh terjengkang. Aku segera bangun sambil meringis kesakitan. Budi dan si Kus menatapku dengan tegang. Pukulan kedua segera kuterima. Meski terasa lebih keras dan lebih sakit, pukulan itu hanya mampu membuatku terdorong sedikit ke belakang. Pukulan-pukulan berikutnya bisa kuterima dengan mudah. Budi mendapat giliran setelahku. Ia menerima pukulan pertama hingga ke empat dengan sangat meyakinkan. Sama sekali badannya tak terdorong atau jatuh. Hanya sedikit goyah. Sedikit sekali. Diam-diam aku kagum dengan ketabahan dan ketahanan tubuh Budi. Tapi pukulan ke lima membuyarkan kekagumanku dengan segera. Budi jatuh. Tidak ke belakang tapi malah ke depan. Jatuh tertelungkup dan tak segera bangun. Aku dan si Kus panik. Kami spontan bergerak untuk menolong Budi. Tapi Antok segera mencegah. Kami tertahan. Antok duduk bersila di samping tubuh Budi yang terbujur diam. Kedua matanya terpejam, mulutnya komat-kamit, tangan kiri menempel di punggung Budi sedangan tangan kanannya tegak mengarah ke langit. Budi pun segera bangun tak lama berselang. Kulihat dadanya membiru. Wajahnya pucat. Tapi ia tetap mencoba tersenyum kepadaku. Aku merasa tenang.

Si Kus mengurungkan niatnya. Mungkin karena takut setelah melihat kejadian yang menimpa Budi. Tapi Antok berhasil membujuknya untuk tetap menerima ilmu sore itu. Lebih ringan syaratnya tapi tak kalah ampuh dengan Brajamusti, katanya. Namanya Lembu Sekilan. Jika Brajamusti adalah ilmu menyerang dengan telapak tangan, Lembu Sekilan adalah sebaliknya, ilmu bertahan tanpa tangkisan. Lawan tak akan berhasil menyentuh badan kita, ia hanya merasa menemu sasaran padahal sejatinya sasaran itu meleset satu kilan—jarak terjauh antara ujung jempol dan ujung kelingking telapak tangan kita. Si Kus cuma diminta duduk bersila dan memejamkan matanya. Lalu dengan jari-jari tangan kanannya Antok ngilani tubuh si Kus. Selesai. Aku dan Budi saling tatap, tak rela si Kus mendapatkan ilmu dengan cara yang mudah. Tapi mau apalagi. Aku bahkan tak berani menduga apa yang sebenarnya berlangsung di kepala Antok. Apakah lantaran Budi jatuh kesakitan sehingga ia segera mengubah caranya menurunkan ilmu. Apakah si Kus membayar lebih mahal sehingga ia mendapat perlakuan khusus. O, ya, aku lupa menjelaskan bahwa kami harus membayar untuk setiap ilmu yang kami terima. Tapi Antok memang tak menetapkan jumlah nominal yang harus kami bayar. Sukarela, jelasnya. Dan pembayaran itu dilakukan dengan rahasia, maksudku, murid yang lain tak tahu berapa duit yang dikeluarkan oleh murid lainnya. Aku tahu berapa yang dibayar oleh Budi karena Budi pakai duitku. Tapi kami berdua tak tahu berapa yang dibayar si Kus pada Antok.

Pertemuan pertama ditutup dengan menjajal kesaktian yang telah kami miliki. Budi tak ikut. Dadanya masih terlalu sakit. Antok juga tak memaksanya turun gelanggang. Jadi tinggal aku berhadapan dengan si Kus: Brajamusti melawan Lembu Sekilan. Aku cukup bersemangat menghadapi ujian itu. Mungkin karena jauh di dalam hatiku aku mulai membenci si Kus atas segala kemudahan yang telah diperolehnya. Aku ingin menghajar dadanya dengan pukulan Brajamustiku. Antok berlaku sebagai wasit. Setelah aba-aba untuk mulai diberikan aku langsung merangsek si Kus dengan pukulan bertubi-tubi ke dadanya. Si Kus diam saja. Tak berusaha mengelak atau menangkis. Aku tak ingat berapa kali telapak tanganku menghantam dadanya. Aku hanya ingat si Kus bergeming dari posisinya. Lalu Antok memisah kami. Aku masih tak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Pukulan-pukulanku tak mampu menumbangkan si Kus. Padahal jelas-jelas aku melihat dan merasakan sendiri bagaimana kerasnya pukulanku menghajar dadanya. Lembu Sekilan tampaknya telah berhasil dikuasai oleh si Kus dengan sangat baik. Dan Bajramustiku tak ada apa-apanya. Aku makin tak terima. Begitu juga Budi ketika bertatapan denganku. Antok menutup pertemuan sore itu dengan membagi secuil kertas. Masing-masing dari kami mendapat satu. Dia berpesan supaya kami membakarnya lalu mencampur abu sisa pembakaran itu dengan segelas air putih. Dan kami harus meminum tepat jam duabelas malam dalam satu kali tegukan. Lalu kami pulang dan janji ketemu tiga hari kemudian.

Aku pulang bareng dengan Budi. Sedang si Kus kulihat jalan berdua dengan Antok. Tanpa bersepakat sebelumnya, sejak sore itu, si Kus adalah musuh kami berdua. Dalam perjalanan pulang Budi mengatakan bahwa ia akan minta Antok untuk menurunkan Lembu Sekilan kepadanya. Ia tak mau kalah dengan si Kus, saudara sepupunya itu. Aku juga, kataku. Pokoknya kita berdua jangan sampai kalah dengan si Kus. Mulai besok uang jajanku akan kusimpan, biar bisa bayar Antok lebih mahal.

Tiga hari kemudian di tempat yang sama kami bertemu lagi. Murid Antok bertambah lagi seorang. Si Kus membawa adiknya yang bernama Aris. Sore itu aku dan Budi jadi meminta Lembu Sekilan. Tapi Antok menolaknya. Katanya kami belum cukup kuat untuk menerima ilmu itu. Kami harus menggenapkan Brajamusti terlebih dahulu setelah itu baru bisa dapat Lembu Sekilan. Aku dan Budi sebenarnya kepingin protes. Si Kus sama sekali belum dapat Brajamusti tapi kok bisa langsung dapat Lembu Sekilan. Antok sepertinya tahu keberatan kami. Maka ia buru-buru menambahkan bahwa jika sama sekali belum dapat ilmu justru bisa milih dengan leluasa. Sekali Bajramusti maka si penerima harus menggenapkannya sampai tuntas, baru kemudian setelah itu bisa berpindah ke ilmu yang lain.

Pertemuan kedua itu adalah pengulangan pertemuan pertama. Aku dan Budi mendapat Brajamusti lagi, sedang si Kus tetap Lembu Sekilan. Bedanya adalah pada tingkatan ilmu yang kami terima. Brajamusti tingkat kedua membutuh sepuluh kali pukulan. Tapi anehnya pukulan-pukulan Antok waktu itu terasa sangat lemah. Aku sama sekali tak merasa kesakitan. Budi cuma meringis menahan nyeri luka lamanya. Menurut Antok itu karena daya tahan kami sudah bertambah. Hanya Aris yang membuat pertemuan itu berbeda. Bukan hanya kehadirannya, tapi juga ilmu yang diturunkan kepadanya. Ia mendapat Ajian Kethek Putih. Bukan ilmu serangan atau pertahanan, kata Antok. Dengan menguasai Ajian Kethek Putih seseorang akan dapat berlari dengan sangat cepat, melebihi kecepatan manusia biasa. Sama dengan ilmu-ilmunya yang lain, Kethek Putih juga memiliki tingkatan-tingkatan. Aris akan dapat berlari lima kali lebih cepat dari biasanya jika sore itu ia bisa menguasai tingkatan pertama.

Kami, aku, Budi dan si Kus, berdebar menanti turunnya Ajian Kethek Putih. Aris sudah bersiap menerimanya. Ia berdiri telanjang dada dan memejamkan mata. Seperti biasa Antok mengusap-usap kedua telapak tangannya. Lalu tiba-tiba ia terjatuh dan berguling-guling. Kemudian meloncat bangun dengan cepat. Kelakuannya mirip monyet atau seseorang yang tengah kerasukan roh monyet. Aku tanpa sadar mundur ke belakang. Budi dan si Kus ternyata telah lebih dulu menjauh dari tempatnya semula. Wajah Aris tampak tegang. Mungkin ia juga kepingin lari menjauh seperti kami. Antok menggeram-geram lalu dalam sekali lompatan ia telah berada di depan Aris. Aris mundur selangkah. Kurasa ia tak sepenuhnya memejamkan matanya. Antok menggeram lagi. Aris mundur selangkah lagi. Kejadian berikutnya entah kenapa sudah bisa kutebak sebelumnya. Antok mencakar dada Aris berkali-kali. Mungkin ada sepuluh kali. Kedua tangan Antok seperti sedang mengais-ngais dada Aris dengan cepat. Aris meringis. Lalu selesai. Antok meminta Aris membuka matanya. Kami mendekat lagi dan dapat melihat dengan jelas bekas-bekas cakaran di dada Aris. Merah. Beberapa goresan bahkan mengeluarkan sedikit darah. Aris mengusap dadanya dengan hati-hati. Membersih daki dan kulit arinya yang terkelupas. Pertemuan selesai. Antok kembali membagi kertas untuk kami bakar dan minum malam harinya. Tak ada uji tanding sore itu. Gantinya, Antok meminta Aris lari pulang ke rumah. Aris pun segera berlari pulang. Aku tak ingat seberapa cepat lari Aris sebelum ini, tapi sore itu aku merasa ia berlari dengan cepat. Sangat cepat.

Malamnya setelah mengerjakan tugas sekolah aku menemui Budi di rumahnya. Diam-diam tentu saja. Kalau sampai ketahuan ibuku bisa runyam kejadiannya. Aku mengajak Budi keluar dari kamarnya. Kami pergi ke Punthuk yang terletak di barat kampung. Punthuk adalah sebuah tempat terbuka, seperti tanah lapang yang dipenuhi dengan gundukan-gundukan pasir. Seperti padang pasir tepatnya. Dulunya adalah persawahan. Sawah kakekku juga berada di sana. Kemudian dengan cepat sawah itu berubah menjadi padang pasir seperti yang kuceritakan. Mesin-mesin pengeruk berukuran raksasa yang membuatnya menjadi seperti itu. Katanya akan dibangun sebuah stadiun olahraga di atasnya. Tapi hingga bertahun-tahun kemudian bangunan stadiun itu tak juga berdiri. Tak tahu kenapa. Hingga kemudian kami menyebutnya Punthuk. Sampai sekarang, bahkan ketika stadiun itu telah benar-benar didirikan.

Di Punthuk aku mengajak Budi untuk membuktikan keampuhan Brajamusti. Aku benar-benar merasa penasaran. Jangan-jangan itu semua hanya akal-akalan Antok untuk menghabiskan uang jajan kami. Tapi jika melihat Lembu Sekilan dan Kethek Putih yang dikuasai si Kus dan adiknya, aku kembali menimbang tuduhan itu. Siapa tahu justru kamilah yang bodoh dan tak mampu menyerap kesaktian Antok. Budi setuju. Meski nyeri di dadanya belum sembuh benar ia menuruti ajakanku. Apalagi Brajamusti tingkat dua yang diberikan Antok sore itu belum sempat kami uji. Aku meminta Budi untuk mencobanya terlebih dulu. Kupersilakan ia memukul dadaku terlebih dulu. Budi bersiap. Ia mundur kira-kira sepuluh langkah dari hadapanku dan segera menyatukan kedua belah telapak tangannya, menggesek-gesekkannya dengan keras. Aku membuka dadaku lebih lebar. Dengan sebuah teriakan Budi berlari ke arahku. Tangan kanannya diacungkan ke depan dengan posisi telapak terbuka. Sedang tangan kiri memegang dadanya sendiri. Jantungku berdegub dengan kencang. Aku benar-benar ketakutan. Sementara itu Budi sudah makin dekat. Ia sama sekali tak mengurangi kecepatannya. Aku makin gemetar ketakutan. Aku memejamkan mataku dan tak ingat lagi apa yang terjadi kemudian. Tahu-tahu aku terpental jauh ke belakang. Jatuh menghantam gundukan pasir yang basah. Budi buru-buru menghampiriku. Gak apa-apa, kataku sambil buru-buru bangun dan membersihkan celana dan jaketku yang kotor kena pasir. Wajah Budi terlihat lega. Aku bertanya apa yang sesungguh terjadi baru saja. Budi menggelengkan kepalanya. Ia juga tak tahu. Ia tak merasakan apa-apa. Tangannya juga tak merasa memukul dadaku. Ia hanya berlari dan tahu-tahu aku melayang jatuh ke belakang. Aku juga merem tadi, katanya. Kami tak melanjutkan percakapan. Tapi segera buru-buru pulang. Sudah jauh malam. Bulan sudah hilang dari Punthuk

Entah bagaimana kejadiannya, sekali lagi memang banyak yang hilang dari ingatanku, aku dan Budi tak lagi menjadi murid Antok. Seingatku setelah kejadian di Punthuk itu aku dan Budi masih menerima beberapa ilmu lagi dari Antok. Brajamusti lengkap, Kethek Putih, Welut Putih, Topeng Waja dan beberapa lagi yang aku lupa namanya. Setelah itu baru kami undur diri. Si Kus dan Aris masih bertahan mengikuti Antok sampai beberapa lama kemudian. Dan selama itu pula kami tak pernah bertegur sapa dengan mereka. Bersama dengan anak-anak lain kami selalu meledek kakak beradik itu jika kebetulan berpapasan. Kami mengajak anak-anak yang lain untuk mengolok-olok kebodohan mereka karena bisa diperdaya Antok. Pada anak-anak yang lain itu kami tak pernah bercerita kami pernah menjadi murid Antok. Bahkan aku bilang kepada Budi bahwa aku tak pernah sekalipun minum abu kertas pemberian Antok.

Jogjakarta, 2008

Comments (2)

  1. minta skripsinya atau analisisnya

  2. saya tidak menulis skripsi atau analisisnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *