Aku harus menemukan Tukang Tidur. Secepatnya. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa menyelamatkanku. Tapi di mana kamu berada, Pemalas? Aku tak bakal sanggup menghadapi mereka berdua, Sepasang Alap-alap dari Kalasan itu, terlebih Sepasang Alap-alap yang mendidih karena kehilangan satu-satunya anak yang mereka cintai. Di mana kau tidur, Tukang Tidur?

Jangan-jangan kau sudah tidur untuk selamanya.

Aku sudah lama tak mendengar kabarnya, sejak peristiwa di kaki bukit Langse, sepuluh tahun yang lalu. Sebelum berpisah dia sempat mengutarakan niatannya untuk menjadi manusia lumrah, membangun rumah dan beranak-pinak. Tapi di mana dan dengan siapa, ia hanya bisa tertawa pahit.

“Itulah soalnya.” Perutnya yang gendut itu bergerak naik-turun, berusaha menahan perasaannya tapi tak bisa. Lalu ia menghela keledainya, meninggalkanku. Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana keledainya yang setia itu berjalan pelan—karena kelebihan beban—menuju matahari yang sedang tenggelam. Aku masih ingat.

Tukang Tidur, entah siapa namanya, ia tak pernah mengaku, sementara aku juga malas menanyakannya. Buat apa? Menurutku Tukang Tidur adalah nama yang paling tepat. Coba, apalagi sebutan yang lebih cocok buat seseorang yang hanya terjaga saat makan tiba dan tidur lagi setelahnya? Tapi bagaimanapun ia adalah satu-satunya teman yang kumiliki. Satu-satunya orang yang siap melakukan apa pun untuk membelaku. Satu-satunya orang yang bisa kuyakini, jika surga itu ada, akan masuk surga karena kebersihan hati dan ketulusan perbuatannya. Dan jika ada bertanya adakah seorang pendekar yang bisa mengalahkan musuh-musuhnya sambil tidur pulas, aku akan menjawab dengan pasti: ada. Dan ia adalah sahabat terbaikku.

Aku bertemu dengannya duabelas tahun yang lalu, kurang lebih dua tahun sebelum peristiwa Langse. Bisa dibilang pertemuan kami adalah sebuah kebetulan. Kebetulan yang menyenangkan. Dan menguntungkan. Bukan hanya buatku. Aku yakin ia juga merasa demikian. Waktu itu aku sedang memburu Watu Gilang, begal dari Kali Adem. Aku mendapat perintah—dan, tentu saja, sejumlah uang—dari Bupati Tawang Alun untuk memburu begal berwajah tampan itu. Pasalnya, begal itu melarikan Arum Dalu, puteri semata wayang sang Bupati. Aku harus bisa menemukannya dengan cepat sebelum sempat terjadi apa-apa dengan gadis cantik itu. Aku sendiri tak tahu, dan tak peduli, seberapa cantiknya Arum Dalu. Aku hanya membayangkan tambahan sejumlah uang yang bisa kudapatkan. Tiga hari adalah rentang waktu yang diberikan kepadaku, lepas dari itu, aku harus merelakan tubuhku menjadi rebutan macan-macan lapar piaraan sang Bupati. Meskipun jika aku ternyata memang gagal, aku berencana untuk melarikan diri.

Dan tepat di hari ketiga, di lereng gunung Ijen, aku berhasil menemukan tempat persembunyian mereka—maksudku, Watu Gilang dan Arum Dalu. Sebagaimana dugaanku semula, meski tak tegas benar, Arum Dalu tidak diculik, melainkan memang sengaja melarikan diri dari kabupaten karena sang Bupati tidak merestui hubungan mereka. Tentu saja sang Bupati sewot bak kebakaran jenggot begitu mengetahui anaknya bercinta dengan begal. Siapa pun tentu tak ingin anaknya kawin dengan begal, bahkan jika orang tua itu adalah begal sekalipun. Yang sama sekali tak kuduga adalah bahwa mereka adalah sepasang pendekar yang pilih tanding. Aku sama sekali tak mengira gadis secantik dan serapuh Arum Dalu memiliki ilmu kanuragan yang tinggi dan mampu menahan pukulan Wesi Kuning sambil tersenyum manis.

Aku melompat mundur beberapa tombak. Niatanku untuk membawa pulang gadis itu dan meminta tambahan uang dari bapaknya segera kubatalkan. Ada yang lebih menggetarkan ketimbang uang, yakni: mengalahkan mereka. Aku tahu ini tantangan yang berat. Menghadapi gadis itu saja aku tak terlalu yakin, apalagi jika dalam waktu yang bersamaan aku harus membagi perhatianku kepada Watu Gilang, yang menurut dugaanku jauh lebih berbahaya. Aku mengatur nafas sambil berpikir keras. Terus terang aku sudah merasa kalah. Dan terhina. Karena yang maju menghadapiku terlebih dahulu adalah Arum Dalu. Watu Gilang hanya jongkok di atas batu sambil merokok. Yang lebih menjijikkan lagi: matanya tak pernah lepas dari pantat Arum Dalu yang semok. Sialan. Pertarungan ini harus kumenangkan dengan cara apa pun. Kalau tidak, aku tak akan punya harga lagi. Atau tidurku tak akan nyenyak selamanya.

“Pulang saja, Mas. Bilang sama bapak aku tak mau pulang. Aku lebih bahagia di sini.”  Arum Dalu berkata dengan lembut. Lebih lembut dari angin gunung yang mengelus rambutnya yang tergerai. Setan Hutan! Di telingaku suaranya terdengar seperti letusan gunung. Tapi aku harus tetap tenang. Aku harus menguasai keadaan. Aku tak boleh terpancing dan hilang diri. Tapi sulitnya bukan main. Bernafas dengan teratur pun susah. Dan ini untuk pertamakalinya nyaliku gentar, bukan hanya oleh ketakutan tapi juga kekaguman yang tumbuh dengan pelan dan mendebarkan. Gadis itu cantik sekali. Luar biasa cantik. Lebih dari bayangan terjauhku tentang kecantikan seorang perempuan. Berbahagialah Watu Gilang yang memperoleh cintanya. Sebab lelaki mana pun kupastikan akan jatuh cintanya kepadanya, tapi untuk mendapatkan cintanya, mereka hanya bisa bermimpi. Dan harus berpuas dengan itu.

Aku merendahkan tubuh, menguatkan kuda-kuda dan menghimpun tenaga. Secantik apa pun ia tak boleh merendahkanku. Wesi Kuning kupersiapkan lagi, kali ini dengan tenaga tambahan dari bumi yang kuhisap dengan telapak kaki. Aku merendahkan tubuh sedikit lagi. Kedua belah tanganku, dari kepalan hingga siku sudah berwarna kuning sepenuhnya. Tapi aku masih menunggu. Menunggu saat yang tepat. Menunggu kedua tanganku menggerakkan perasaanku. Watu Gilang membuang rokoknya. Rupanya ia tahu bahaya besar sedang mengancam kekasihnya. Tapi ia tetap tak bergerak. Tetap jongkok seperti seekor kodok. Arum Dalu bukannya tak menyadari hawa kematian yang meruap dari kedua kepalan tanganku. Ia mengangkat sebelah kakinya, meniru sepasang kaki bangau di tepi danau. Kedua tangannya mengembang seperti sayap sepasang. Dan kedua matanya, Gusti Allah, memancarkan ketenangan dan kebeningan sebuah telaga.

“Waduh! Pantas saja udara gerah nggak karuan. Nggak nyaman buat tidur!” Tiba-tiba terdengar suara dari atas, dari salah satu pohon yang terdekat dengan Watu Gilang. Bukan hanya aku yang terkejut, Arum Dalu dan Watu Gilang pun tak bisa menutupi kekagetannya. Rupanya sedari tadi, bahkan mungkin sebelum kedatanganku, ada seseorang yang sedang tidur di atas sebuah pohon.

“Walah, malah bengong. Udah sana pergi. Jangan ganggu tidurku! Dan kalian, sepasang remaja yang jatuh cinta, di sini bukan tempat buat pacaran. Pulang sana. Bapak-ibu kalian nunggu di rumah.” Suara itu terdengar lagi. Lebih keras dan seenaknya. Semula aku akan langsung menghantamkan pukulanku ke arah datangnya suara pengganggu itu, tapi segera kuurungkan. Tiba-tiba saja terlintas dalam kepalaku, siapapun pemilik suara yang menyebalkan itu, tentulah ia seorang pendekar yang berilmu tinggi. Ia berada begitu dekat dengan kami dan tak seorang pun di antara kami bisa menyadari kehadirannya. Aku jadi berpikir untuk memanfaatkannya. Jika ia berada di pihakku, pertarungan ini setidaknya akan berimbang, dan sangat mungkin kamilah yang berada di atas angin. Aku segera melepas tenagaku dan berusaha tertawa meski harus agak memaksa.

“Ha.. ha .. ha. Tukang Tidur, turun sini. Jika kamu terganggu oleh orang yang sedang pacaran, ya, usir saja sendiri. Atau perlu kuusirkan mereka?”

“Tidak perlu, Temanku yang baik.” Aku hampir saja jatuh karena kaget. Orang itu tiba-tiba sudah berada di sampingku. Aku sama sekali tak melihat kelebat apa-apa, padahal mataku tak lepas sekejap pun dari pohon itu. “Kita usir bareng-bareng saja, biar asik. Dan tampak kompak, ya nggak?”

Kekagetanku berubah menjadi kegembiraan yang tak terkira. Aku tak menyangka demikian mudahnya ia memihakku. Dan ini berarti kemenangan sudah berada di genggaman tangan.

“Ah, terimakasih atas tawarannya, Tukang Tidur. Aku akan merasa terhormat bisa bekerja sama denganmu.”

Watu Gilang dan Arum Dalu telah bersiaga. Mereka bisa meraba perkembangan suasana yang jadi tidak menguntungkan. Dalam satu tarikan nafas, Arum Dalu telah bertengger di pundak Watu Gilang, dengan kuda-kuda bangau yang tadi sudah sempat diperagakannya. Watu Gilang menegangkan seluruh urat-uratnya. Warna kulitnya menggelap, serupa dan sekeras batu kali.

Aku melirik sahabat baruku. Ia juga melirik ke arahku sambil menguap dan mengucek-ucek matanya yang masih merah dan bertahi sebesar biji jagung.

“Haaahh…. Masak orang seperti kita cuma disuguhi tontonan bangau menclok di batu kali? Ya, mending kita ke kolam saja, yuk, bangaunya lebih banyak dan cakep-cakep. Batu-batunya juga bersih dan nggak lumuten kayak gitu.”

Aku tertawa mendengar celotehan Tukang Tidur yang seenak perutnya sendiri itu. Padahal jika kupikir-pikir, bangau dan batu kali di depan kami adalah sepasang malaikat maut yang siap mencabut nyawa kami kapan saja. Tapi keriangan si Tukang Tidur yang agak berlebihan itu membuat hatiku tenang dan santai. Aku merasa aman dan terlindung, meski malaikat maut sedang berada sangat dekat denganku.

“Eh, Temen. Kamu pilih mana? Bangau atau batu?” Si Tukang Tidur yang gemuk dan subur tubuhnya itu bertanya.

“Aku memilih yang tidak kau pilih, Sahabatku.” Aku berusaha mencuri hatinya.

“Baik, aku hancurkan batu. Kau tangkaplah bangau. Nanti kita sembelih dan makan sama-sama.”

“Yup, sepakat!” Aku sangat terhibur dengan kegilaannya. Tapi sekali lagi aku harus menahan keterkejutanku. Belum sepenuhnya aku menutup mulut, sebuah benturan yang sangat keras terdengar, tubuh Watu Gilang hancur tanpa sempat kulihat. Rupanya si Tukang Tidur itu telah menunaikan kewajibannya dengan sangat cepat. Yang tertinggal hanya Arum Dalu yang tergolek tak berdaya di tanah. Ia masih sadar, meski dapat kubayangkan betapa jantungnya berdegub secepat kilat. Aku saja hanya bisa terpaku, tak tahu harus melakukan apa kalau saja si Tukang Tidur penghancur batu itu tidak meledekku.

“Heh, masih bengong! Tangkap tu bangaunya. Entar kabur lho. He… he..”

Begitulah awal persahabatan kami. Sepulang kami menyerahkan Arum Dalu kembali ke orang tuanya—dan mendapat hadiah berlimpah-ruah—kami menjadi sepasang pendekar bayaran paling laris di tanah ini. Seluruh tugas yang diberikan kepada kami bisa terlaksana dengan hasil yang sangat memuaskan pihak penyewa. Kami menjadi sangat kaya. Aku bisa menghamburkan uang sesuka hati sedangkan si Tukang Tidur pasanganku itu bisa tidur sepuasnya dan bangun menyantap makanan sesuai dengan selera. Kami menjadi pasangan yang tak terpisahkan. Berkelana sampai tempat-tempat yang jauh yang selama ini hanya sanggup kubayangkan. Aku memiliki kuda tunggangan yang perkasa dan kuberi nama Gagak Rimang. Tapi aku tak habis pikir sampai sekarang—dan selalu tertawa jika mengingatnya—kenapa Tukang Tidur memilih keledai untuk dijadikan kendaraannya. Kami terus berkelana, dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu penyewa ke penyewa yang lain, dari satu buronan ke buronan yang lain. Hingga sampailah kami di kaki bukit Langse, dua tahun setelah kami menangkap Arum Dalu.

Tapi sebelum aku mengingat kembali peristiwa Langse, perlu kubocorkan sedikit perihal hubungan kami, yang terus-terang, tak seorang pun mengetahuinya. Sesungguhnya, kami lebih dari hanya sepasang sahabat, atau rekan kerja. Hubungan kami lebih daripada itu. Kami bahkan tak pernah menduga sebelumnya. Bahwa kemudian kami saling jatuh cinta. Saling mencintai sebagaimana sepasang kekasih yang sedang dibuai asmara. Kami mengabadikan peristiwa-peristiwa terindah yang kami alami lewat ciuman terhangat yang bisa kami lakukan. Kami lewatkan malam-malam terindah kami dengan persetubuhan-persetubuhan penuh gelora. Tukang Tidur sudah punya alasan untuk terjaga lebih lama, selain untuk makan, yaitu aku. Aku jadi punya alasan dalam membelanjakan hartaku, apalagi kalau bukan untuk membahagiakannya.

Kembali ke Langse. Kami dibayar oleh seseorang yang tak pernah kami ketahui ujudnya, untuk menghancurkan dan membunuh seluruh warga sebuah kampung di kaki bukit Langse. Kami harus menumpas habis kehidupan di sana. Tak boleh menyisakan apa pun, selembar lontar sekalipun. Mereka adalah sekelompok orang jahat yang tengah menyusun sebuah rencana superjahat untuk menghancurkan kerajaan, begitu bunyi pesan yang kami terima. Dengan semangat belapati, kami berangkat, membayangkan sebuah pertarungan dengan sebuah kelompok keji yang tak berperikemanusiaan. Dada kami bergemuruh, tangan dan kaki kami siap membunuh. Tapi, Gusti Allah, tubuh kami langsung lungkrah. Sebab yang kami hadapi jauh pangang dari api. Yang berdiri di depan kami adalah sekumpulan petani, sekumpulan ibu-ibu tani, sekumpulan pemuda dan gadis desa, sekumpulan ana-anak yang lucu. Mereka yang hanya berpikir bagaimana menata sawah dan kehidupannya. Yang hanya pandai menyanyi dan menari. Yang hanya bisa bermain di kali. Dan samasekali tak punya keterampilan beladiri. Apalagi ambisi untuk menguasai apa yang tak dimiliki.

Aku dan Tukang Tidur hampir menangis ketika mereka menyambut kami bagai anak hilang yang pulang. Bagai saudara jauh yang bertandang. Nyaliku gentar untuk kedua kali. Bukan oleh takut atau kekaguman sebagaimana kepada Arum Dalu. Tapi gentar oleh perasaan bersalah yang tak berkesudahan. Aku tak tahu apa yang ada di dalam kepala Tukang Tidur. Aku samasekali tak bisa menduga. Tatapan matanya begitu dingin dan asing. Dan kemudian—aku tak ingin mengingat atau mencatatnya—kampung itu habis dibakarnya. Dan tak seorang bayi pun yang luput dari hantamannya. Habis. Seluruhnya. Juga cinta kami.

Lalu ia menghela keledainya, meninggalkanku. Aku masih ingat dengan jelas, bagaimana keledainya yang setia itu berjalan pelan—karena kelebihan beban—menuju matahari yang sedang tenggelam. Aku masih ingat dengan jelas, betapa basah mata dan pipiku.

Hari ini adalah sepuluh tahun sesudahnya. Peristiwa Langse masih tetap hidup dari mulut ke mulut. Membuatku tak bisa tidur dengan tenang. Dan sebuah kabar terdengar sampai di telingaku, seperti halilintar: Sepasang Alap-alap dari Kalasan tengah memburu kami. Aku dan Tukang Tidur. Mereka hendak menuntut balas atas kematian anaknya. Watu Gilang.

Di mana kau tidur, Tukang Tidur?

Jogjakarta, 2006

Comments (1)

  1. Ku kira si tukang tidur nya seorang pria… Jadi kaget ,loh kok mereka bercinta gitu. -,-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *