Sore atau hujan. Mana yang lebih mencemaskan? Atau mana yang duluan mencemaskan? Tak tahulah. Tapi dua sosok manusia yang berkelebat saling kejar di sepanjang tepi hutan itu tampak lebih mencemaskan dibanding sore atau hujan atau apa pun. Mereka melayang, melenting dari satu dahan pohon ke dahan pohon yang lain, seperti dua ekor elang yang adu cepat kembali ke sarang. Dari kejauhan mereka tampak seperti dua titik hitam yang merusak garis hujan dan langit abu-abu di belakangnya. Entah setan macam apa yang menggerakkan kedua sosok itu, hingga angin pun tersibak dan mendesis kesakitan.

“Setan! Berhenti!” Sosok yang tertinggal di belakang berteriak. Tapi yang dibentak tetap melaju seperti tak mendengar suara keras yang menyentak seluruh penghuni hutan itu.

“Maling sialan! Jangan lari!” Sekali lagi sosok yang bersuara serupa Bima itu berteriak. Sosok yang dikejar tetap melaju, bahkan semakin cepat. Tapi kali ini ia tidak berpura-pura tuli. Ia membalas teriakan itu dengan teriakan pula.

“Kejarlah aku jika bisa!” Suara melengking seorang perempuan. Suara yang bernada ejekan. Sosok yang di belakang menambah kecepatan, seolah baru saja mendapat tambahan tenaga. Sesungguhnya jika diamati dengan saksama, wajah lelaki pengejar itu sedikit berubah begitu mengetahui bahwa maling yang tengah diburunya itu adalah seorang perempuan. Wajahnya menjadi merah, mungkin karena malu, marah atau sebangsanya. Hanya seorang perempuan, dan ia tak kunjung bisa menangkapnya. Setan! Dua sosok itu bergerak makin cepat dan makin sulit ditangkap oleh mata biasa. Hanya ada dahan-dahan yang bergoyang, daun-daun yang beterbangan dan angin yang berpusingan.

Sesungguhnya, peristiwa yang sedang Anda baca ini telah berlangsung sejak tadi pagi. Dan tidak ada perubahan yang berarti, selain pagi berganti siang, siang berubah menjadi sore, dan hujan yang baru turun di tengah hari. Perempuan itu tetap berada di depan, tak tersentuh oleh si Lelaki yang mengejarnya. Karena melulu menatap punggungnya sejak pertama, si Lelaki sama sekali tak bisa mengenali sosok yang tengah diburu itu. Jenis kelaminnya pun baru saja diketahuinya. Itu pun bukan buah keberhasilannya mendekat apalagi menangkap. Tapi karena sebuah ejekan yang menjatuhkan dirinya di tempat yang paling rendah. Belum pernah Sambang Dalu merasa terhina sedemikian rupa, apalagi oleh seorang perempuan. Sambil terus mengejar, pendekar dari gunung Ksira itu memeras ingatannya, memutar kembali peristiwa-peristiwa yang bisa menjawab rasa ingin tahunya. Ia betul-betul penasaran dengan siapa ia kini tengah berkejaran. Dan, yang terpenting, untuk apa perempuan sialan itu mengambil seikat alang-alang pemberian Ki Penyu Biru. Sambang Dalu jadi berpikir bahwa pasti ada sesuatu yang tersimpan pada seikat alang-alang yang semula dianggapnya cuma kenang-kenangan dari Ki Penyu Biru itu. Ingatan Sambang melompat ke belakang, meninggalkan tubuhnya yang melesat ke depan.

“Aku hanya punya alang-alang, Sambang. Seikat alang-alang. Hanya ini yang tersisa dari hidupku yang sebentar lagi akan berakhir. Terimalah ini. Sebab hanya ini yang bisa kuberikan kepadamu setelah seluruh ilmu yang kumiliki kaukuasai. Sempurnakanlah ilmumu dengan mengamalkannya. Dan kelak jika kau menemukan seseorang yang tepat, ajarkan apa yang telah kuajarkan kepadamu. Dan terakhir, berikan seikat alang-alang ini kepadanya.

“Anakku, apa pun yang terjadi pada diriku setelah ini, relakanlah. Gusti Allah sudah menghendaki aku meninggalkan dunia yang sudah tak bisa lagi kupahami ini. Dan aku tak ingin kau menuntut balas kematianku. Biarkan aku mati dengan tenang. Di akhir hidupku, akhirnya aku bisa menemukan lawan yang sepadan.” Sejenak kemudian Ki Penyu Biru menutup mata bersamaan dengan hembusan nafas terakhirnya. Sambang mengecup kening guru yang begitu disayanginya itu. Ia menangis, tanpa suara dan airmata. Lalu dengan ketenangan yang menyerupai kematian ia memakamkannya. Dengan kesedihan yang akan menjaga makam itu selamanya.

Dengan ketenangan yang sama, Sambang Dalu menuruni gunung Ksira, meninggalkan hawa dingin yang selama ini membesarkannya. Seikat alang-alang itu disimpan dengan rapi di dalam buntalan kain bersama dengan sejumlah pakaian yang dibawanya. Sambang melangkah dengan pasti mengikuti jalan setapak yang tak begitu tampak. Melangkah dengan pasti sepasti kematian gurunya. Sepasti niatannya untuk membalas kematian. Tapi siapakah pendekar yang digjaya itu, yang sanggup mengalahkan bahkan membunuh gurunya? Ia tak tahu. Ki Penyu Biru tetap merahasiakannya. Bahkan kapan persisnya pertarungan itu terjadi pun, Sambang tak bisa menduga. Ia hanya tahu, pada sebuah pagi—tepatnya tiga hari sebelum kematian—gurunya pulang dalam keadaan luka parah.

Tanpa terasa Sambang telah sampai di tepi telaga Arnawa. Perjalanan yang hampir-hampir tanpa henti telah membuatnya lelah dan memutuskan untuk bermalam saja di tepi telaga. Malam memang hampir menjelang dan kabut tebal menghalangi sinar bulan dan bintang-bintang. Sambang membasuh mukanya dengan air telaga. Kesegaran yang segera didapatnya begitu menyentuh permukaan telaga, menggodanya untuk sekalian berendam di sana, meski ia tahu, saat itu bukan saat yang tepat buat mandi—udara sedang jahat. Lelaki itu segera menanggalkan pakaiannya, membiarkan tubuhnya telanjang, memamerkan kemudaannya pada kelam malam. Kemudian membenamkan tubuhnya di bagian telaga yang tak terlalu dalam. Ia begitu menikmati dirinya, kesendiriannya, hingga lupa diri.

Selepas mandi dan ganti pakaian, Sambang berangkat tidur. Dengan berbantal buntalan pakaian, ia segera jatuh ke dalam mimpi. Bertemu dengan tempat-tempat yang tak asing tapi terasa asing atau bertemu dengan orang-orang asing yang sepertinya tak asing lagi baginya. Hingga ujung-ujungnya, ia bertemu dengan gurunya. Sang Guru tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap mata Sambang dengan tatapan aneh yang membuat Sambang terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdebar-debar. Tapi setelah berhasil menguasai diri kembali, Sambang melanjutkan tidurnya hingga pagi menjelang.

Angin dingin dan tetesan embun dari daun-daun memaksanya bangun. Sambang mengusap-usap mata dan menggeliatkan badan secukupnya. Ia lalu membuka buntalan kain dan mengambil alang-alangnya. Ia sengaja mengeluarkannya, menaruhnya di sela rumputan. Mungkin embun bisa menjaga kesegarannya, begitu pikirnya. Kemudian Sambang menuju telaga, berniat mandi atau sekadar membasuh muka. Tapi belum sampai niatan itu terlaksana, sesosok tubuh berkelebat menyambar alang-alang. Terlambat bagi Sambang, jarak yang tak terlalu jauh antara tepi telaga dengan tempat di mana alang-alang itu berada, sama sekali tak membantunya. Tanpa berpikir apa-apa lagi, Sambang melesat mengejar si pencuri.

Perempuan itu tak tahu apalagi yang bisa diperbuat, selain terus melesat. Lari sejauh mungkin. Apalagi? Menghadapi Sambang Dalu? Ia sadar betul batas kekuatannya. Tak mungkin ia bisa bertahan lebih dari sepuluh jurus. Kalau pun bisa, sekarang sudah terlambat. Tenaganya sudah habis terkuras. Berlari dari pagi hingga sore tanpa henti, seekor macan pun tentu sudah beristirahat sedari tadi.  Perempuan itu, sebut saja namanya Kinanti, tak punya pilihan lagi. Seikat alang-alang itu digenggamnya dengan erat sementara sepasang kakinya terus bergerak dengan cepat, melompat dari satu tolakan ke tolakan berikutnya. Sudah puluhan kali ia hampir tergelincir jatuh, tapi keseimbangan tubuh yang nyaris sempurna membuatnya bisa bertahan sejauh ini. Tapi entah sampai kapan. Ia tak bisa memastikan. Lelaki yang mengejarnya itu benar-benar memiliki tenaga yang besar. Satu-satunya hal yang membuatnya belum bisa terkejar hingga kini adalah karena ia berlari lebih dahulu. Itu saja.

Kinanti terus berlari. Kecemasan sudah menjadi satu dengan tubuhnya. Selain harus menyelamatkan dirinya, ia harus menyelamatkan seseorang yang kini terbaring tak berdaya di sebuah tempat. Di sebuah pondok kecil yang sekarang ditujunya. Ia tak boleh terlambat. Jika tak ingin kehilangan seseorang yang paling dicintainya.

“Hanya alang-alang dari gunung Ksira yang bisa menyelamatkan suamimu, Nduk. Racun Kandang Kala telah menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh suamimu. Kini racun itu sedang menuju ke kepala. Aku tak bisa menghentikannya. Aku hanya bisa sedikit memperlambat pergerakannya. Dan itu hanya berlaku untuk dua hari.” Lelaki tua itu mengusap-usap hidungnya yang tiba-tiba gatal. Sementara di hadapannya, Kinanti tak bisa menahan lagi kesedihannya. Tangisnya meledak dengan keras. Lelaki tua itu tak berusaha menenangkannya. Ia membiarkan Kinanti meraung sepuasnya. Lalu dengan dingin dan tak menatap Kinanti ia berkata. “Jika kau ingin suamimu kembali, pergilah sekarang juga ke gunung Ksira. Mohonkan maaf atas kelancangan suamimu yang telah berani menantangnya. Kemudian, mintalah seikat alang-alang. Ki Penyu Biru akan tahu apa yang kau maksudkan. Bergegaslah. Perjalanan ke gunung Ksira memakan waktu hampir satu hari. Hampir dua hari untuk pulang dan pergi. Atau menangislah terus. Dan kuburkan suamimu lusa nanti.”

Kinanti langsung melesat pergi. Ia tak menghiraukan apa pun lagi. Ia hanya ingin secepatnya kembali ke rumah sambil menggenggam seikat alang-alang dari gunung Ksira. Cinta telah meringankan tubuh Kinanti dan melebarkan langkah kakinya. Kecemasan yang telah menyatu dengan tubuhnya, menjadi tenaga yang seolah tak akan pernah habis. Ia berlari menyusuri jalan paling pintas yang bisa mengantarnya ke gunung Ksira secepat-cepatnya. Dan pipinya masih belum kering benar ketika akhirnya ia sampai di gunung Ksira. Dan tidak jadi benar-benar kering ketika ia tak menjumpai seorang pun di sana dan hanya mendapati gundukan tanah yang masih basah.

Hanya kemauan keraslah yang mempertemukannya dengan Sambang pada pagi berikutnya, di tepi telaga Arnawa. Sambang dan seikat alang-alang. Dan begitulah, saat Sambang lena, ia membawa lari alang-alang itu hingga sekarang.

Kinanti nyaris habis. Nafasnya tersengal-sengal. Tapi ia terus mendera dirinya sedemikian rupa. Tapi batas itu ada, meski samar dan tak tegas. Lambat laun kecepatan Kinanti mulai menurun. Hal ini sebenarnya tidak begitu dirasakan oleh Sambang. Maka betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jarak antara dirinya dengan si pencuri itu sudah sangat dekat. Bahkan ia mulai mencium bau keringatnya. Aroma menyengat yang tiba-tiba membangkitkan gairah purbanya. Dan dalam satu lompatan, ia berhasil menerkam Kinanti.  Sambang memeluk erat tubuh perempuan itu di udara. Kinanti menjerit, campuran kaget, takut dan putus asa. Tapi sesaat sebelum menyentuh tanah dengan cepat ia berguling ke samping untuk lepas dari tubuh Sambang. Sambang menghantam tanah kosong. Sekerjapan mata kemudian, dua pendekar yang saling kejar sepanjang hari itu telah berhadapan dalam posisi sempurna. Mereka saling tatap dalam gelap. Malam telah turun dengan sempurna.

Sambang sempat tergetar oleh tatapan mata Kinanti. Ia tak tahu apa yang tersimpan di sana. Tapi tatapan mata perempuan itu, seperti sebuah pukulan keras yang tak sanggup dibendungnya.

“Kembalikan alang-alangku sebelum aku merebutnya. Dan soal kita selesai sampai di sini.”

“Jika saja aku bisa mengembalikannya. Sayangnya, aku tak bisa.”

Kinanti duluan menerjang. Sepasang tangannya telah berubah menjadi sepasang kepala naga kembar. Sambang berkelit ke kanan sembari sedikit merendahkan tubuhnya dan balas menyerang pinggang Kinanti dari samping. Kinanti tak sempat menghindar. Bisa, tapi tak punya tenaga.  Maka seperti batang pohon, ia tumbang. Darah muncrat dari mulutnya yang terbuka. Tak ada suara. Hanya seikat alang-alang melayang.

Jogjakarta, 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *