Ini cerita asal-asalan tentang Bagong yang tersesat di hutan. Cerita ini bertahan cukup lama dalam ingatanku. Mungkin karena itulah kaset cerita wayang yang berhasil kubeli untuk pertama kalinya. Kaset wayang dari dalang Hadi Sugito, dalang favoritku waktu itu. Judulnya Bagong Dadi Guru. Aku sengaja memilih judul itu karena ada nama Bagong, tokoh punakawan kesayanganku, tokoh yang menjadi sangat lucu dan menggemaskan di tangan Ki Hadi Sugito. Bagong memang tokoh yang lucu, dalang mana pun akan berusaha menjadikannya tetap lucu, tapi di tangan Hadi Sugito kelucuan itu bisa berkali-kali lipat. Suara Bagong gaya Hadi Sugito begitu memukau—besar, tebal tapi konyol. Dari suaranya saja aku sudah bisa tertawa terpingkal-pingkal. Belum lagi kalau mendengar guyonan-guyonan yang dia keluarkan kemudian.

Sampai saat aku memecah celenganku untuk membeli 1 set kaset tersebut aku sama sekali belum pernah melihat langsung pertunjukan dalang pujaanku itu. Hanya orang kaya, kampung yang makmur dan perusahaan-perusahaan besar yang bisa menanggap wayang dengan dalang Ki Hadi Sugito. Aku hanya bisa menikmatinya lewat siaran radio. Waktu itu beberapa stasiun radio, semuanya malah, di kotaku memiliki program memutar kaset wayang di malam hari. Jadi tiap malam aku tiduran sambil menyanding radio. Aku hafal di luar kepala jadual pemutaran wayang dari masing-masing radio tersebut. Sebagian besar memutar kaset wayang Ki Hadi Sugito. Para pengelola radio tampaknya mengetahui benar selera pendengarnya—seleraku tepatnya.

Dulu aku sempat mengira bahwa setiap anak juga sepertiku senang begadang mendengarkan siaran wayang. Tapi ternyata tidak. Setidaknya aku hanya menemukan Jono temanku sekelas yang memiliki kegemaran sama denganku. Jono berusia jauh lebih tua dariku. Sewaktu aku masuk pertama kalinya ke SD Inpres itu Jono sudah duduk di kelas empat. Tapi ketika aku pelan-pelan naik ke kelas lima kami jadi teman satu kelas. Entah sudah berapa kali ia tinggal kelas. Karena memiliki hobby serupa kami kemudian jadi cepat akrab. Bahkan kemudian duduk semeja. Tiap pagi kami berebut menceritakan kembali cerita wayang yang diputar semalam. Cerita itu berlanjut lagi ketika waktu istirahat datang. Sering pula kami bertengkar jika cerita kami saling selisih gara-gara salah nama atau salah urutan cerita. Kami sama-sama keras kepala. Menurutku Jono terlalu sering salah menyebut nama. tak jarang aku merasa dia mengarang-ngarang cerita. Ceritanya asal-asalan.

Hingga suatu siang Jono memukulku karena perdebatan kami memanas dan tak satu pun dari kami mau mengalah. Aku ingat aku terjatuh di dekat sumur sekolah setelah menerima pukulan itu. Melihat aku terjatuh Jono langsung lari pulang ke rumah. Selama beberapa hari ia tak masuk sekolah. Ia mungkin takut aku atau teman-teman yang lain telah melaporkan perbuatannya ke kepala sekolah. Setelah 3 hari tak masuk aku jadi merasa khawatir. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya. Pulang sekolah, ditemani Emi yang rumahnya tak jauh dari rumah Jono aku bermaksud menyambanginya. Tapi Jono tak ada. Aku hanya mendapati ibunya yang tergolek sakit di tempat tidur. Jono katanya sedang ke rumah pamannya meminjam uang untuk beli obat. Jadi Jono tak masuk bukan karena ia baru saja memukulku. Tapi karena ibunya sakit. Aku menjadi tenang sekaligus sedih. Jono adalah anak satu-satunya. Ayah Jono sudah meninggal beberapa tahun yang lalu ditembak polisi saat melarikan diri setelah menjambret kalung di stasiun.

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja setelah menunggu sekian lama Jono tak juga kembali. Seminggu kemudian barulah Jono menampakkan dirinya kembali di kelas. Tapi ia memilih tak duduk bersamaku lagi. Ia menempati salah satu bangku kosong yang banyak terdapat di kelas kami. Mungkin ia masih tak enak hati denganku. Aku tak tahu. Aku juga merasa tak enak untuk menegurnya. Tapi yang jelas aku merasa kesepian: tak punya lagi teman berbagi cerita wayang. Sebagaimana Bagong yang tersesat di hutan dalam kaset kesayanganku itu. Ia kehilangan teman bercandanya, Petruk, Gareng dan Semar. Kejadiannya begitu cepat. Saat ia dan saudara-saudaranya mengikuti perjalanan Arjuna mereka dicegat oleh serombongan raksasa penjaga hutan keramat. Pertempuran tak terhindarkan. Meski kemudian, sebagaimana biasanya, Arjuna berhasil melewati rintangan tersebut, Bagong terpisah dari rombongannya. Ia tersesat dalam kegelapan hutan setelah lama berkejar-kejaran dengan seorang raksasa berhidung terong.

Sekali lagi ini hanya cerita asal-asalan tentang Bagong yang tersesat di hutan. Tepat tengah malam saat bulan sudah lenyap dari pandangan tertutup oleh kerimbunan daun-daun Bagong menghentikan tangis kesepiannya. Ia pasrah sepenuhnya pada kehendak sang Dalang. Dan sang Dalang mempertemukannya dengan setumpuk pakaian di balik sesemak. Bagong yang tak tahu apa lagi yang mesti dikerjakannya—juga karena dingin yang tiba-tiba datang menggigilkannya—mengenakan pakaian tersebut. Tak terjadi apa-apa. Ia hanya merasa tubuhnya menjadi hangat dan ringan. Dan wangi yang asing tiba-tiba tercium dengan tajam. Tapi Bagong tak terlalu memikirkannya. Mungkin memang itu pakaian mahal makanya jadi hangat dan wangi. Mungkin itu adalah pakaian saudagar yang dirampas oleh para begal dan kemudian ditinggalkan begitu saja di balik sesemak. Daripada pusing-pusing memikirkannya Bagong memilih tidur. Bersandar di sebuah pohon paling besar. Tak lama kemudian dengkurnya yang nyaring sudah terdengar berlomba dengan suara serangga-serangga malam. Belum sampai ia di puncak mimpi sebuah suara membangunkannya. Batara Narada datang mengusik tidurnya. Menggoyang-goyang badannya, memeluknya bahkan menciuminya. Batara Narada menangis haru karena telah menemukan Batara Guru yang berminggu-minggu dicarinya. Bagong kebingungan tapi dengan cepat berhasil menguasai keadaan. Rupanya pakaian yang dikenakannya itu adalah pakaian Batara Guru. Dan dengan memakainya tubuh Bagong menjelma Batara Guru. Persis sama bagai pinang dibelah dua. Bahkan Batara Narada yang begitu mengenal pimpinannya itu sama sekali tak menaruh curiga meski suara dan tingkah laku Batara Guru yang tengah dihadapinya itu jauh dari adat kebiasaan. Dengan senang hati Batara Guru palsu itu mau diajak pulang ke kahyangan.

Sudah bisa diduga Bagong akan membuat gara-gara di kahyangan dengan sejumlah aturan aneh bin ajaib bagi para dewa dan dewi. Tapi siapa berani melawan Batara Guru, raja bagi para dewa. Tujuh bidadari tercantik dijadikannya isteri. Sedangkan para dewa harus belajar menabuh gamelan. Para dewi wajib bisa menembang. Dan tiap malam mereka harus menghibur Batara Guru dengan menabuh gamelan Lokananta, gamelan pusaka yang tak boleh ditabuh sembarang waktu. Tapi siapa berani membantahnya. Titahnya adalah titah alam semesta. Meski satu nada membuat satu gunung di bumi meletus mereka terus menabuhnya. Mereka tak mau Batara Guru kecewa atau marah atau pergi menghilang seperti tempo hari. Lebih baik seluruh gunung di bumi meletus daripada kahyangan goncang karena ditinggalkan Batara Guru. Mereka tak mau kehilangan Batara Guru. Sama sepertiku yang tak mau kehilangan Jono.

Tapi Jono tak pernah kembali. Beberapa hari setelah ia masuk sekolah hari itu ia hilang lagi. Aku menduga karena kesehatan ibunya yang memburuk. Tapi dugaanku keliru. Beberapa hari kemudian Pak Wonggo wali kelas kami mengumumkan bahwa Jono keluar dari sekolah. Ia dan ibunya harus pergi karena rumah yang selama ini ditempati telah disita oleh bank karena hutang yang tak bisa mereka lunasi. Emi membenarkan kabar itu. Tapi ia tak tahu ke mana mereka pergi. Aku tak bisa menamai persaanku waktu itu. Semacam getun. Dan bertahan hingga bertahun-tahun.

Aku sama sekali tak pernah mendengar kabarnya. Hingga suatu kali aku baca pengumuman tentang sebuah pertunjukan wayang di sebuah balai desadi Wonosari Gunung Kidul. Ki Parjono akan membawakan lakon Bagong Dadi Guru untuk mengenang  2 tahun meninggalnya Ki Hadi Sugito. Pengumuman kecil di koran lokal itu mengusikku. Pertama karena lakonnya yang mengingatkanku pada banyak peristiwa dalam hidupku. Kedua nama dalang yang membawakan ulang lakon tersebut: Ki Parjono. Diakah orangnya? Kawanku yang menghilang itu? Aku pun memutuskan berangkat utuk menjawabnya.

Di sepanjang jalan yang berkelok-kelok menyusuri punggung Gunung Kidul pikiranku tak bisa berhenti berputar-putar. Sebelum berangkat aku sempat mencari tahu siapa sesungguhnya Ki Parjono. Dari beberapa kliping koran dan situs Pepadi—Persatuan Pedalangan Indonesia wilayah Gunung Kidul aku menemukan sosoknya. Tak terlalu terang karena memang tak banyak dibicarakan. Dia adalah seorang dalang muda dari Nglipar. Bukan keturunan dalang sebagaimana dalang lain biasaya. Ia belajar otodidak dari kaset-kaset wayang yang dimilikinya: kaset-kaset wayang Ki Hadi Sugito, dalang yang begitu dikaguminya. Hingga konon gaya pedalangannya sangat mirip dengan almarhum.

Tapi apakah dia adalah Jono teman kecilku itu? Aku tetap tak tahu sebelum sampai ke sana dan melihat sendiri sosoknya. Tak ada foto secuilpun dalam sumber-sumber tersebut yang bisa membantu untuk meredakan pertanyaanku.

Pertunjukan sudah dimulai saat aku tiba di lokasi pertunjukan. Cukup ramai juga penonton yang datang malam itu. Dari kejauhan aku sudah mendengar suara ki dalang. Ternyata benar berita yang kubaca di koran, suaranya sangat mirip dengan Ki Hadi Sugito. Gaya bicaranya, gaya bahasanya, cengkok sulukannya hampir-hampir tak bisa kubedakan lagi dengan dalang dari masa kecilku itu. Aku menerobos maju ke dekat panggung, menyelinap di sesela penonton yang berjubel. Aku penasaran ingin segera melihat wajahnya. Dan memastikan bahwa ia bukan atau adalah temanku yang hilang dulu. Jono.

Aku berhasil berdiri tepat di gigir panggung, di sebelah kanan dalang. Ki Parjono sudah tampak dengan jelas di hadapanku. Tapi tetap saja aku susah memastikannya. Dengan pakaian busana Jawa yang lengkap seperti itu aku susah mengenalinya. 20 tahun tak bertemu semakin menyulitkanku untuk mengenali wajahnya. Ia dengan tenang terus memainkan wayangnya. Aku menyimaknya dengan hati yang kacau.

Batara Guru palsu semakin menjadi-jadi ulahnya. Penonton tertawa terbahak-bahak. Apalagi ketika kemudian Batara Guru itu bertemu dengan Batara Guru yang sesugguhnya, yang saat itu tengah menyamar menjadi seorang resi jahat yang mendukung pihak Kurawa. Resi Gurundeya itu dihajarnya hingga lari terbirit-birit. Terjadi adegan kejar-kejaran yang seru. Resi Gurundeya mencari Semar untuk meminta perlindungan. Batara Guru palsu mengejarnya. Semar mengutus Gareng dan Petruk untuk menghadapinya. Begitu berhadapan penonton langsung terbahak-bahak. Gareng dan Petruk langsung mengenali Bagong yang bersembunyi di balik tubuh Batara Guru. Mereka mengenal dari bau tubuhnya. Gareng dan Petruk yakin Batara Guru yang tengah mengamuk itu adalah Bagong yang beberapa waktu tertinggal di tengah hutan. Tapi Bagong tak mau mengaku. Dan pertempuran yang seru dan lucu pun segera terjadi. Dan sebagaimana seharusnya Batara Guru jadi-jadian itu kalah. Penonton bersorak lega dan gembira.

Mungkin hanya aku yang tak bisa bernafas lega. Aku segera mengejar Ki Parjono sesuai ia memainkan sepasang wayang golek untuk menutup pertunjukan.  Jika dalam jarak yang dekat mungkin aku akan segera mengenalinya jika memang benar dia adalah Jono. Sebagaimana Gareng dan Petruk mengenali Bagong yang sudah lama hilang.

Jon! Aku nekat memanggilnya. Jika salah aku akan segera minta maaf sembari menyampaikan ucapan selamat atas pertunjukannya. Jika benar aku akan segera melepas rinduku.

Ki Parjono menoleh. Dalam keremangan cahaya subuh wajahnya tak terlalu jelas kulihat. Ki Parjono terpaku. Ia tampak juga tengah berusaha mengenaliku. Aku tak ingat berapa lama kami saling diam memandang. Tahu-tahu ia berlari ke arahku. Memelukku.

Pagi itu juga aku turun ke Jogja dengan hati yang tenang dan lega. Perasaanku segar sebagaimana pagi yang bersinar. Aku dan Jono sempat ngobrol sebentar sebelum ia dan rombongannya pulang. Kami tertawa mengenang kejadian di masa lalu. Pagi itu aku baru tahu bahwa dulu Jono tak punya radio. Ia hanya mendengar lamat-lamat dari radio tetangga sebelahnya. Karenanya ia sering salah nama dan salah cerita ketika berbagi cerita wayang denganku. Kadang ia juga tak mendengar siaran wayang jika si empunya radio tak menyetelnya. Tapi karena tak mau kalah denganku, ia tetap mengaku mendengarnya dan terpaksa mengarang cerita. Pantas saja kami sering bertengkar. Aku ingin segera sampai di rumah dan mengarang sebuah cerita: Jono Dadi Dalang.

Jogjakarta, 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *