Siang terlalu panas untuk sebuah kegembiraan. Orang-orang sibuk mencari angin. Mengipaskan segalanya. Angin adalah hiburan yang paling segar dari pada dangdut tarling yang hingar. Empunya hajat berkali-kali mengusap wajah. Keringat tumbuh seperti padi. Matanya tertuju ke gapura imitasi dari besi. ...Read More
Wong lanang lara atine Seorang lelaki yang sakit hati Melaku neng tengahing wengi Berjalan di tengah malam buta Gerimis lan melu nangisi Gerimis pun ikut menangisinya Uripe wis kerasa mati Hidupnya ...Read More
Ketiga pelawak itu, betapa kenyang mereka dengan kepahitan. Panggung tarling hanya tinggal beberapa meter persegi, harus berbagi dengan penghuni baru yang lebih seksi yang datang silih berganti. Salah hitungan, aku salah hitungan, dendangnya membuka tawa malam itu. Ia menari dengan ...Read More
Panggung muram di halaman itu tak menawarkan harapan. Kursi-kursi kosong, beberapa diisi anak-anak yang tak punya hiburan. Di luar kemiskinan bergerombol mencari musuh yang bisa dipukulinya—kemiskinan yang lain tentu saja. Mereka berkumpul sepanjang selokan yang gelap, mirip semak-semak yang dingin ...Read More
Tami duduk di kursi plastik. Malam ini semuanya akan rampung katanya pada panggung. Besok ia akan menjual berkarung-karung padi di teras. Melunasi beberapa tagihan dan bersiap kembali ke Saudi. Ia tak boleh berlama-lama di sini. 5 tahun lagi ia harus ...Read More