Kukuruyuk Jagone Cindhelaras Anake Timun Mas Omahe tengah alas Payone godhong klaras Yel-yel itu terus terdengar sepanjang pertandingan mengiringi perjuangan anak-anak Cindhelaras. Tak ada yang mengira bahwa klub sepakbola dari kampung yang tak pernah terdengar namanya itu bisa melaju hingga babak ...Read More
Bukan kematian benar menusuk kalbu Keridlaanmu menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu dan duka maha tuan bertakhta[1] Di atas panggung, beberapa kotak yang disembunyikan begitu saja di balik kain hitam, Ranggalawe gugur. 7 bidadari tua mengelilingi tubuhnya yang ...Read More
Akhirnya aku mengajakmu ke toko wayang. Itu janjiku sejak tahun lalu. Barulah sekarang aku bisa melunasinya. Betapa sulit menjelaskan kepadamu bahwa wayang kulit itu harganya mahal. Bahwa aku harus mengumpulkan uang berbulan-bulan atau terpaksa menghutang untuk bisa membelinya. Kamu hanya ...Read More
“Perempuan ini harus disingkirkan, jika tidak maka tidak akan ada alasan.” (Patih Danureja kepada Tumenggung Puspanegara) Di Semarang, 31 Januari 1728, setelah mundur satu hari dari yang direncanakan karena menurut perhitungan adalah hari yang buruk, dengan ditemani isteri keduanya, Ragasmara, ...Read More
Pak Karyono menatapku dengan tajam. Seperti tengah mengulitiku dengan kejam. Di luar langit mendung seolah mengekalkan pertemuan kami. “Anak jadi akan membawanya pulang sekarang?” Pertanyaan yang semula sangat kuharapkan itu tiba-tiba terasa lain ketika benar-benar diucapkan. Memaksaku berpikir ulang dengan cepat ...Read More



