Untuk Gong di Sudut yang Sepi

: Yasuhiro Morinaga

1
Jadilah punggungku
Aku adalah kura-kura
yang menyusur waktu
Jadilah panggungku
Aku adalah penari
yang menunggu waktu

2
Getar. Getarkan tubuhku
Ingin kudengar masa lalu
Ingin kudengar masa depan
Ingin kudengar
apa yang tak pernah kudengar

Gigil. Gigilkan tubuhku
Tumbuhkan kembali
Bunga-bunga di bahuku
Buah-buah di dadaku
Padi-padi di perutku

3
Tutup lubang! Tutup lubang!
Mereka telah datang
Menyeberang kegelapan panjang

Kulesakkan sepasang kakiku
ke tanah dalam-dalam
Jadilah akar! Jadilah akar!

Kupanjangkan sepasang tanganku
menyentuh langit jauh-jauh
Jadilah daun! Jadilah daun!

Peluhku menetes-netes
Peluh emas dari masa lalu
Di mana segalanya belum ada
Peluh cemas dari masa depan
Menggantung di empat helai rambutku

Tutup lubang! Tutup lubang!
Mereka telah datang
Menyeberang kegelapan panjang

4
Ribuan tangan berkejaran dengan bayang-bayang
di gua-gua. Di tebing-tebing yang tua
Di punggung-punggung bukit sepi
Ribuan tangan Adam yang mencari Hawa
Mencari tubuhku—yang selalu luput dalam kabut
Keringat emas menetes-netes sepanjang badan
Menyusun jalan setapak menuju rumah-rumah baru
Rumah-rumah yang segera didiami kesedihan
Rumah-rumah yang segera kutinggalkan

Tangan-tangan yang baik, selamatkan aku
Selamatkan aku. Selamatkan tubuhku
Tutup. Tutup. Tutup!

5
Tidur. Tidurlah
Biarkan malam masuk
Merasuki tubuhmu
Biarkan serangga-serangga
Masuki lubang telingamu
Sebab matamu adalah sepasang kunang-kunang
Sebab kunang-kunang adalah sepasang matamu
Sepasang lubang yang menghubungkan langit dan bumi
Sepasang lubang yang menghubungkan seluruh masa

Gong… Gong… Gong…
Tidur. Tidurlah.
Gong… Gong… Gong…

6
Gong yang bertalu-talu itu
menyusun tubuh yang kita tinggali
Menyusun pulau-pulau yang kita diami
Menyusun aku
Menyusun kamu
Getar suaranya menyimpan
bau perjalanan yang panjang

Dalam asap yang pekat ini kembali kita meraba-raba:
apa yang sudah, sedang dan akan terjadi di antara kita

Di sebuah waktu gong yang bertalu-talu itu
menyaru suara harimau.
Mengaum dari hutan-hutan gelap yang tak bernama
Kali lain gong yang bertalu-talu itu
adalah tanda dari persetubuhan kita
Ia adalah awal sekaligus akhir pertemuan kita

Gong yang bertalu-talu itu adalah aku,
adalah kamu, adalah kita, yang saling panggil
Membunyikan tanda bahaya
Membunyikan tanda cinta
Membunyikan waktu
yang terus bergulir dari hari ke hari
Apakah kau mendengar suaraku?
Apakah aku mendengar suaramu?

Gong yang bertalu-talu itu adalah suara kita
yang menembus seluruh batas
menembus seluruh ruang
menyusun jalan panjang
jalan tembaga, yang keemasan disepuh senja

Jogja-Tokyo, 2016

Light Square

bersama oliver qadari hogg

sedikit berangin, katamu berulang
seperti merapal mantra
lalu sebagai angin kita melintas
di kuburan yang menyaru taman
duduk sebentar di tepi air mancur
lalu kembali meluncur
sebelum semuanya mengabur

2015

Di Dadu itu Ada Wajahku

debu telah menebal di rambutku
sementara kematianmu masih jauh
perang bahkan belum dimulai
tapi perangku telah berlangsung
sejak kulepas gelung rambutku
di sebuah hari sabtu
di mana segala tak menentu

2015