Wayang Air; Biografi yang Mengalir

Ana banyu tiba saka langit
Ngrangkul isun—kelon mring sampean
Ana banyu jedhul saka bumi
Dadi dongeng—dongenge wong cilik

Ada air jatuh dari langit
Merangkulku—tidur bareng kamu
Ada air muncul dari bumi
Jadi dongeng—dongengnya rakyat kecil

Dorothea Quin bangkit dari tidurnya, dari bak mandi, seperti bangun dari sebuah mimpi buruk atau telaga. Air memancar dari selang plastik yang digenggamnya. Memancar ke mana-mana. Seperti berusaha bercerita tentang sesuatu yang baru saja menghantuinya. Ia melecut selangnya beberapa kali sebelum dengan sebuah kemarahan, yang sangat, ia berdiri tegak di atas gigir bak dan menggoyangkannya sekuat tenaga. Air di bawah tubuhnya bergolak. Mendidih. Sementara ia terus melecutkan selangnya membabi buta, menyampaikan air sejauh mungkin.

Demikian salah satu adegan yang masih teringat dengan cukup kuat di dalam kepala saya atas pertunjukan Suluk Air (Banyu, Isun Takon: Apa Sira Punya Ibu?) yang dibawakan Komunitas Suket pimpinan Ki Slamet Gundono dari Solo. Pertunjukan tersebut digelar Teater Arena Taman Budaya Surakarta, Jl. Ir. Sutami 57 Solo, pada tanggal 4-5 November 2003 yang lalu.

Pertunjukan Wayang Air, demikian Slamet Gundono sering kali menyebut karya tersebut, adalah bagian dari pencarian yang selama ini dilakukannya di dunia seni pewayangan (atau pertunjukan). Ia bersama komunitasnya telah menghasilkan beberapa bentuk pertunjukan yang berangkat dari pengolahan atas kemungkinan-kemungkinan yang dibuka oleh seni pewayangan. Wayang Suket, Wayang Nggremeng, Wayang Nglindur dan Wayang Kandha adalah beberapa bentuk pertunjukan yang pernah mereka temukan sebelumnya. Dengan bentuk-bentuk pertunjukan (atau sebut saja struktur dramatika) itulah Ki Slamet Gundono dan komunitasnya selama ini menafsirkan kembali di atas panggung, cerita-cerita pewayangan dan persoalan-persoalan yang mereka alami, baca atau temui.