Bunga Terong

Kurindu bunga terong
yang pernah tumbuh
di sepasang bahuku
Juga malam-malam dingin itu
: kuil yang sepi,
orang-orang meringkus diri
dalam kardus,
dan kamu semakin jauh
tenggelam dalam dirimu

Aswatama

All that’s left in me is a stallion
and a wide canyon
that you can’t cross over rationally
and also love that comes suddenly
spontaneous, without options

outside of me is a long tunnel
and behind: a bright ray of light
shines out of a naked genital
Now I’m walking beneath the death
and the defeat of a nation
after that last forceful stab
into a woman’s uterus
now I ‘m just a scarab
hiding in your feces

translated by Farah Wardani

Sinden

suaramu menggambar rumah
yang ingin sekali kutinggali
(seratus meter persegi
dengan taman kecil tersembunyi
di bawah sebuah jendela)

suaramu—yang terkumpul
dari sejumlah museum sepi
yang kerap kausinggahi—
tiba-tiba hadir serupa kartu pos
dari kawan lama

aku seperti pernah mendengar suaramu, dulu
saat demam kebanyakan bermain hujan
aku seperti pernah mendengar suaramu, dulu
di sebuah panggung pertunjukan wayang

kini sepanjang malam suaramu duduk simpuh
di antara tukang gender dan tukang kendang
matanya menatap tajam punggungku
seperti membaca cerita yang akan kutulis
hingga kita jatuh tertidur pada sebuah subuh

Jogja, 2012