Adaninggar

seberapa kuat kau menolak cintaku
—yang membuatku terbang melayang
melintasi laut dan misterinya

kecantikan macam apa yang kaubutuhkan
saat sudah kupasrahkan seluruh tubuhku
pada perjalanan dan setiap kemungkinan
bernama dirimu

selendangku adalah pusakaku: talikentular
ia sanggup mengikatmu
juga menjerat leherku

dalam kabut yang terbuat dari nafasmu,
aku tak tahu lagi saat yang tepat
untuk berhenti mencintaimu

jadi seberapa kuat kau menolak cintaku
sebesar itulah cintaku kepadamu

Jogja, 2012

Mustakaweni

ia memutuskan menyamar menjadi lelaki
—dengan sayap tumbuh di punggungnya
tak lupa ia pasang bintang di dadanya
menutup sepasang payudara yang menggoda

sebelum berangkat ia berkaca mematut tubuh
dan menyadari kumis belumlah tumbuh
di atas bibirnya yang merah jambu

tergesa ia oleskan minyak kelapa
pada belati dan dibakarnya menjadi jelaga

kini kumis yang tebal hitam berkilat
sudah melintang dengan garang
di atas bibirnya yang merah jambu

saatnya terbang membalas seluruh kehilangan
menang atau kalah biarlah dalang yang mengabarkan
ia hanya perlu menjaga agar kumisnya tak luntur oleh hujan

Jogja, 2012

Sepasang Arca

seketika kita menjelma arca
berpelukan di sebuah gunung
menunggu peziarah
yang datang tak tentu

kita tak bergerak ke mana pun
sementara tahun
ajek mengugurkan daun-daun

jalan sudah kadung kaulipat rapi
dan bakar di sebuah malam
masa depan tinggal asap
yang sekejap hilang
muksa dibawa lari angin

jadi di sinilah kita
memintal waktu
menebalkan kulit
dengan lumut dan debu

Jogja, 2012