Aswatama Pulang

Akhirnya kuda itu datang, Anakku. Menolongku.”

Aswatama menghela napasnya. Panjang. Di kejauhan terdengar ringkik kuda dari sebuah padang—seperti sebuah panggilan pulang. Cukup. Kalimat itu telah menjawab seluruh pertanyaannya. Ia tak memerlukan kelanjutan cerita itu. Cukup. Ibuku adalah seekor kuda! Jadi benar kata tetangga. Jadi benar kata teman-teman sekolahnya dulu. Krepi bukan ibu kandungku. Tubuh Aswatama bergetar. Kebenaran itu membuatnya gentar. Matanya menatap tajam tubuh bapaknya yang tergolek di ranjang. Tubuh lelaki tua itu tampak lebih kecil dari yang seharusnya. Mulutnya terbuka seperti hendak melanjutkan cerita. Tapi tak keluar suara apa pun dari mulut itu. Aswatama pun tak sanggup berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Sekuat-kuatnya. Menggenggam kekosongan yang tiba-tiba menguasai seluruh dirinya. Kekosongan yang menghapus kehadirannya pelan-pelan. Sekali lagi ia menghela napasnya. Seperti berusaha mengisi tubuhnya dengan udara atau apa saja. Ia tak mau hilang. Tapi tak ada yang datang. Bahkan seekor kuda.

 

***

 

Pulanglah segera. Bapakmu sekarat di rumah sakit.” Suara perempuan itu datar. Hampir-hampir tanpa tekanan. Tanpa tanda baca. Aswatama tak bisa membaca perasaan apa pun dalam percakapan telepon yang begitu singkat itu. Bukan percakapan sebenarnya. Aswatama bahkan tak sempat mengucapkan sepatah kata apa pun. Telepon di seberang sudah ditutup saat Aswatama menyadari bahwa dirinya telah terdiam begitu lama sambil menempelkan ponsel di pipinya. Ia terdiam seperti patung Dewi Windradi di pusat kota. Patung tersedih yang pernah disaksikannya—di tengah kolam dengan 3 ekor kera yang sedang berenang mengitarinya. Konon 3 ekor kera itu adalah anak dari sang Dewi yang terkutuk jadi kera karena berebut Cupu Manik Astagina. Tapi Aswatama tak sedang bersedih seperti Dewi Windradi yang tengah melihat ketiga anaknya berubah menjadi kera. Aswatama tak tahu perasaan macam apa yang tengah menguasainya. Tapi yang jelas bukan kesedihan. Ia tak bisa menamai perasaannya yang lempang dan lengang seperti jalan-jalan di Sokalima yang telah 20 tahun ditinggalkan. Dan kini sebuah kabar dengan nada yang datar memanggilnya pulang ke Sokalima.

Krepi, ibunya, menelepon. “Pulanglah segera.” Krepi. Aswatama terbayang wajah ibunya—perempuan yang selama bertahun-tahun dianggapnya sebagai ibu. Di dadanyalah ia kerap menghabiskan airmatanya ketika masih bocah, saat teman-teman sepermainannya mengolok-olok sepasang kakinya yang mirip kaki kuda. “Aswa anak kuda! Aswa anak kuda!” Aswatama berlari secepat kuda mencari ibunya. Di rumah, di pasar, di sawah, di jalan atau di mana saja. Ia mencari dada Krepi. Dan menangis di sana. Dada Krepi adalah rumahnya. Tempat paling aman dan nyaman di seluruh dunia. Hingga Aswatama beranjak remaja, dada Krepi adalah dunianya. Apakah dada itu masih hangat seperti saat terakhir ditinggalkannya? Masih digelayuti sepasang payudara yang putih dan lembut? Bau tubuh Krepi kembali datang mengurung Aswatama. Dan tanpa bisa dicegah kemaluannya menegang.

“Ibu… Krepi…,” Bibir Aswatama bergetar membisikkan namanya. Malam jahanam itu kembali datang mengunjungi Aswatama. Sebuah malam di mana ia sama sekali tak bisa memejamkan mata. Hatinya gelisah tanpa alasan. Seperti ada yang terus-menerus mengganggunya. Umurnya hampir 17 tahun waktu itu. Masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Dengan malas ia keluar kamar setelah yakin tak akan bisa tidur malam itu. Ia melangkah menuju beranda. Mungkin dengan merokok di teras sambil menikmati malam rasa gelisahnya akan berkurang. Saat itulah ia dengar isak tangis seorang perempuan dari kamar orangtuanya. Aswatama berjingkat pelan menuju kamar mereka. Isak tangis itu makin jelas terdengar. Pintu kamar separuh terbuka. Aswatama merapatkan tubuhnya ke dinding lalu bergerak pelan mendekati pintu kamar. Isak tangis itu makin mengeras seperti menyambut kedatangannya. Suara tangis Krepi, ibunya. Aswatama makin gelisah. Sesuatu mungkin baru saja terjadi.

Ia menajamkan pendengarannya. Hanya tangis ibunya yang terdengar. Ia sama sekali tak mendengar suara Durna, bapaknya. Ke mana dia? Aswatama bertanya-tanya. Atau jangan-jangan sesuatu telah terjadi pada bapaknya. Masih dengan penuh kehati-hatian Aswatama melongok ke dalam kamar orangtuanya. Dalam remang cahaya ia menangkap sosok ibunya. Duduk di tepi ranjang. Membelakanginya. Bapaknya tak ada. Hanya ibunya sendirian. Duduk, tertunduk dan menangis.

“Ibu…,” Aswatama berbisik memanggilnya. Tangis itu seketika terhenti. Krepi menoleh ke arah pintu kamar dengan kaget. Dengan gugup ia mengelap airmatanya begitu tahu Aswatamalah yang berdiri di ambang pintu. “Oh, kamu, Aswa. Masuklah.”

Aswatama buru-buru masuk dan memeluk Krepi. “Ibu kenapa nangis? Bapak ke mana?”

Krepi kembali terdiam. Airmatanya kembali mengalir deras seperti Bengawan Silugangga. Aswatama mengguncang-guncang tubuh ibunya, “Kenapa, Bu?”

Krepi tetap tak menjawab. Isak tangisnya kembali terdengar. Lebih keras. Lebih panjang. Ia memeluk Aswatama sekencang-kencangnya. Aswatama gugup. Jantungnya berdegup dengan cepat. Perempuan yang tengah memeluknya itu terasa bukan ibunya. Aswatama seperti tengah memeluk seseorang baru saja dikenalnya. Seorang perempuan yang membuat seluruh bulu tubuhnya meremang. Tubuh Krepi yang terbalut gaun tidur tipis begitu menggetarkan Aswatama. Aswatama menatap mata Krepi. Krepi menatap mata Aswatama. Dan bibir keduanya pun bertemu.

Entah berapa lama mereka berdua saling pagut. Saling gigit dan berguling-guling di ranjang. Hingga kemudian Aswatama menatap mata kiri Krepi dalam-dalam. “Banyu suci pitung prakara, sadurunge tumetes, manggon aneng dhangkeling rikinaningsung, nuli ingsun tetesake saka pucuking braja, manggon ana cupu kang ana tengah dadi rasa mulya, tumibaa manungsa kang mulya.”[i]

Krepi menjerit menerima kedatangan Aswatama dalam tubuhnya. “Ae, rahmu. Ae, rahku. Ae, rasamu. Ae, rasaku. Rasamu kalah kaya rasaku.”[ii]  Ia menghirup napas Aswatama dalam-dalam. “Masuki aku, Aswa. Masuki tubuhku!” Dan kemudian tak ada suara lagi. Sokalima diam seribu bahasa. Jalanan lengang ditinggalkan para pejalan. Serangga-serangga malam masuk kembali ke dalam liangnya. Awan hitam menghapus bulan dan bintang-bintang. Sebuah malam yang kosong tanpa penghuni.

Paginya Aswatama pergi meninggalkan Sokalima untuk selama-lamanya. Malam itu adalah malam terakhir ia bertemu dengan Krepi. Tak akan ada malam-malam yang lain dengan Krepi. Dengan ibunya sendiri. Aswatama berusaha lari sejauh-jauhnya. Dikejar rasa bersalah yang berlebihan. 20 tahun ia berhasil meninggalkan Krepi. Hingga beberapa saat yang lalu, perempuan itu memanggilnya pulang.

 

***

 

Sepanjang jalan menuju Sokalima Aswatama berusaha menggambar wajah bapaknya. Sekena-kenanya. 20 tahun mungkin telah mengubah banyak hal. Tapi mungkin juga tidak. Durna barangkali masih tetap seperti saat terakhir ditinggalkannya. Tak ada yang berubah. Durna tetap seorang guru olahraga di sebuah SD yang bertangan dingin dan tak banyak bicara. Seorang bapak yang begitu mencintai anaknya lebih dari segalanya. Seorang lelaki dengan tubuh yang cacat dan penuh luka. Dan kini sedang terbaring sendirian di rumah sakit. Menanti ajalnya tiba.

Ingatannya melayang pada sebuah petang, Pada sebuah pelajaran memanah di tanah lapang. Aswatama, 5 tahun saat itu, memegang busur panjang melebih tinggi tinggi tubuhnya. Ia sudah memasang sebatang anak panah dan mengarahkannya pada sebuah sasaran: orang-orangan sawah dengan wajah yang ditempeli gambar seseorang yang tak dikenalnya.

“Tatap mata orang itu, Aswa. Dan lepaskan panahmu saat kedua mata itu telah menjadi satu di matamu!” Durna berdiri di samping anak lelaki satu-satunya itu. ASwatama kecil menatap sasarannya. Menatap sepasang mata seseorang yang tak dikenalnya.

“Siapa dia, Pak? Gambar siapa yang Bapak tempel di sana.”

“Seseorang yang paling jahat di muka bumi ini. Seseorang yang pantas untuk mati. Tatap matanya, Aswa, jangan lepaskan!”

Aswatama menatap sepasang mata itu. Ia tak menemukan pancaran kejahatan di sana. Ia justru menemukan cahaya yang begitu lembut dan penuh dengan kasih sayang. Wajah seorang bapak yang begitu teduh.

“Tapi siapa dia? Apa kejahatan yang telah dilakukannya?”

“Lihat baik-baik Bapakmu. Kamu akan tahu kejahatan apa yang telah dilakukannya!”

Aswatama menoleh tanpa menurunkan busurnya. Ia menatap tajam bapaknya. Berusaha mencari jawabannya di sana. Di hadapannya tegak berdiri seorang lelaki dengan kaki pincang, tangan pengkor dan wajah yang rusak. Aswatama terhenyak seolah baru saja menyadari keadaan tubuh bapaknya yang porak poranda itu—seperti sebatang pohon randu rusak yang masih tegak sehabis dihantam badai bertubi-tubi. Selama ini ia menganggapnya sebagai sebuah kewajaran, sebuah kelaziman, bahwa bapaknya memang dilahirkan dalam keadaan demikian. Dan demikianlah bapaknya seharusnya.

“Tatap lagi mata itu. Dan lepaskan panahmu sebanyak kamu bisa mulai sore ini. Kelak jika saatnya telah tiba kamu akan berhadapan dengannya. Namanya Sucitra. Kini ia berdiam menjadi seorang pemimpin di Wirata.”

Aswatama terbangun dari lamunannya. Kereta tengah berhenti entah di stasiun mana. Ia melihat ke luar jendela. Ia mencari papan nama yang bisa dibacanya. Tak lama kemudian ia telah menemukannya, tersembunyi di balik kerumunan orang-orang yang berdiri menunggu keretanya masing-masing: Stasiun Banyu Tinalang.

Masih dua stasiun lagi. Aswatama melihat jam tangannya. Tepat tengah malam mungkin ia akan sampai di Sokalima dan segera bertemu dengan bapaknya. Apa yang musti dikatakannya? Maaf telah lari dari rumah? Maaf telah menyetubuhi istrinya? Maaf tak bisa membalaskan dendam itu? Maaf karena telah jadi seorang pecundang? Di luar itu ia tak punya apa-apa yang bisa diceritakannya. Sesuatu yang barangkali akan bisa membuat bapaknya bangga dan mati dengan tenang. Ia bukan Arjuna. Bukan Bima. Bekas teman-teman sekolahnya. Bekas murid-murid bapaknya yang kini telah menjadi orang-orang besar. Bahkan ia bukan Duryudana, si murid paling bego yang kini telah jadi pemimpin itu. Ia bukan siapa-siapa. Tak seorang pun mengenalnya. Meski kemampuannya setanding dengan Arjuna, ia tetap hanya seorang pecundang. Aswatama membuang wajahnya ke luar jendela kereta. Gelap. Tak ada apa-apa di luar sana.

Kereta terus menyeretnya menuju Sokalima. Membawanya kembali berhadapan dengan kenyataan-kenyataan. Aswatama menghela napasnya. Memejamkan mata dan mencoba tidur. Ia ingin bangun di sebuah tempat yang tak dikenalnya. Menuntaskan 6000 tahun pengembaraannya sebagai seorang ciranjiwin—hidup abadi dan tak mengenal cinta.

 

Jogjakarta, 2013

 

[i]Air tujuh rupa, sebelum menetes, berdiam di dalam akarku, segera kuteteskan dari ujung pusakaku, berdiamlah dalam lubang tengahmu dan jadilah rasa mulia, jadilah manusia mulia. (Mantra Jawa sebelum bersetubuh)

 

[ii]Aih, darahmu. Aih, darahku. Aih, rasamu. Aih, rasaku. Rasamu kalah sebagaimana rasaku. (Mantra Jawa sebelum bersetubuh)

Mata Sukra

Namaku Sukra. Dan kedua mataku pernah dimasuki ratusan semut merah. Kau tak akan pernah tahu bagaimana rasanya. Aku juga.

 

Tiba-tiba saja beberapa lelaki berlompatan dari segala arah dan mengurungku. Benar namamu Sukra! Bentak salah seorang dari mereka. Belum sempat aku menjawab seseorang telah menjambak rambutku dari belakang dan menariknya dengan keras. Keseimbanganku hilang dan aku pun jatuh dari kuda. Beberapa telapak kaki yang besar dan kasar segera menekan tubuhku seolah ingin melesakkannya ke dalam tanah. Aku sama sekali tak bisa bergerak. Nirwati, kuda putihku, meringkik dengan gelisah. Ia menyepak beberapa penyerang sebelum berlari menghilang.

Benar namamu Sukra! Orang yang sama kembali bertanya. Ia jongkok di dekat wajahku. Aku mengangguk dengan cepat berharap mereka segera melepaskanku. Tapi penanya itu malah mengeluarkan belati dan menempelkannya di leherku. Aku meronta sekuat tenaga. Tapi injakan kaki-kaki mereka semakin kuat. Iya! Aku Sukra! Aku Sukra!

Begitu kujawab mereka memang segera melepaskanku. Tapi tak sepenuhnya. Mereka membangunkanku dengan kasar dan menelikung kedua tanganku ke belakang. Seseorang segera mengikat kedua tanganku. Seseorang yang lain lagi mengikat leherku. Dan digelandanglah aku menuju sebuah tempat. Aku berjalan di belakang, terseok-seok mengimbangi kecepatan kuda mereka.

Kejadian yang baru saja kuceritakan itu tidak berlangsung di sebuah malam yang sepi. Melainkan di tengah hari di dalam sebuah arak-arakan pengantin yang disaksikan oleh ratusan tetamu. Peristiwa penangkapanku menjadi tontonan—dan barangkali puisi. Bukan hanya di tempat kejadian. Tapi juga di sepanjang jalan di mana aku diseret dengan tali laiknya binatang liar atau seorang penjahat kelas kakap. Orang berkerumun sepanjang jalan. Tapi tak ada satu pun yang berani bersuara. Sungguh. Aku diarak dalam diam. Dalam tenang. Dalam sepi yang panjang dan seolah tak pernah selesai. Kartasura tiba-tiba mati. Aku seperti sedang digiring pelan-pelan menuju kematian. Melewati jalan setapak yang berpagar pohonan besar dan angker. Berjalan dari terang menuju gelap. Memasuki rimba gelap yang tak kukenal.

Siang itu seperti biasanya aku bertugas menjadi cucuk lampah dalam upacara perkawinan. Aku lupa sudah berapa kali aku melakukannya. Mungkin ketampananku sudah dikenal se-Kartasura hingga para empu hajat memanggilku untuk mempermanis pesta mereka. Mungkin karena anak gadis mereka merengek-rengek tidak mau menikah jika bukan aku cucuk lampahnya. Tak tahulah. Yang jelas aku sangat laku di bulan-bulan hajatan. Aku Sukra, anak Sindureja, pemuda paling tampan se-Kartasura, menunggang kuda putih kesayanganku, mengarak para pengantin yang berbahagia.

Aku tahu jika banyak pemuda iri denganku. Aku tahu sejak lama. mereka bergunjing di belakangku. Tapi aku baru tahu bahwa ada yang sampai marah dengan ketampananku. Kemarahan yang tak pernah kubayangkan bahkan dalam mimpi-mimpi terburukku..

Namanya Raden Mas Sutikna. Pangeran Pati Anom. Calon Raja Kartasura. Tapi tak seorang pun di antara kami berani memanggilnya Kencet—si Pincang. Sebab memang jalannya terpincang-pincang. Ada yang salah dengan tumit kirinya. Kami tak berani memanggilnya Kencet di depan mukanya sebab ia seorang Putra Mahkota. Di samping karena tabiatnya memang buruk: ringan tangan, pemarah, pencemburu dan setumpuk sifat buruk lainnya. Tak seorang pun ingin berurusan dengannya. Tangannya yang masih muda itu telah memenggal banyak kepala orang-orang yang tak mau menuruti perintahnya. Tak pandang dia laki atau perempuan, dia tua atau hanya seorang bocah, semua sama-sama tak berharga di matanya. Mungkin itu sebab Rara Lembah si istri pertama yang jelita pergi meninggalkannya—tentang Rara Lembah akan kukisah pada kesempatan lain.

Sutikna benar-benar berambisi untuk menjadi yang pertama dan terbaik dalam segala hal. Seluruh nama di Kartasura tak boleh lebih baik dan lebih indah dari namanya. Bahkan saudaranya sendiri pernah dilabrak dan dipaksa ganti nama. Tapi adakah nama yang lebih rendah dari Kencet. Kelakuannya memang menyebalkan. Juga menggelikan. Entah bagaimana jadinya kelak jika ia menjadi seorang raja. Mungkin kekejaman dan kekonyolannya akan melebihi ayahnya: Mangku Rat II.

Dan Kencet. Maaf. Raden Mas Sutikna sang Pangeran Adipati Anom inilah yang memerintahkan anak buahnya menangkapku. Aku digelandang menuju sebuah ruang. Mungkin sebuah gudang. Gelap dan pengap. Seperti gua yang tak pernah dihuni. Ikatan di kedua tanganku segera dilepas. Tapi bukan berarti bebas. Kini mereka mengikat kedua tanganku ke atas dan mengereknya hingga tubuhku tergantung layaknya binatang yang akan dikuliti. Dan Pangeran Kencet kini sudah berdiri di hadapanku. Berkacak pinggang menikmati penderitaanku dengan sepasang kakinya yang ganjil.

Jadi kamu yang bernama Sukra? Ia menatapku dengan raut muka yang sukar kugambarkan selain menjijikkan: persegi dengan pipi-pipi gembul penuh jerawat dan bibir yang tebal. Iya, Pangeran. Hamba Sukra. Aku menjawab dengan sopan tapi dingin. Cambuki dia! Perintahnya kepada begajul-begajulnya yang masih setia mengelilingiku. Seseorang menyobek bajuku dengan paksa dan membuatku telanjang dada. Dan cambukan rotan bertubi-tubi menghajar punggungku. Beberapa cambukan pertama aku masih bisa menahan sakit. Aku mengatupkan gigiku rapat-rapat dan mengencangkan seloroh ototku. Usahaku ini tampaknya malah membuat mereka semakin bersemangat menyiksaku. Cambukan mereka makin bertenaga dan memaksaku untuk menjerit kesakitan. Akhirnya aku berteriak. Melolong seperti ajing hutan dibantai dengan puluhan anak panah di sekujur tubuhnya lolonganku semakin keras dan panjang. Dan pada sebuah titik, barangkali puncak kesakitanku segalanya berubah. Aku tak bisa mendengar apa-apa lagi. Senyap. Aku seperti terlahir kembali. Sebagaimana kata seorang pujangga desa saat mengenang hari lahirku dalam sebuah tembang.

 

Waktu itu, kata orang, anjing-anjing hutan menyalak panjang,
tinggi, dan seorang abdi berkata, “Ada juga lolong serigala
ketika Kurawa dilahirkan.”

 

Bapakku, bangsawan perkasa itu, jadi pucat.

 

Ia seolah menyaksikan bayang-bayang semua pohon berangkat
Pergi, tak akan kembali.

 

Iya, Pak. Mungkin aku tak akan kembali. Pangeran gila ini aku membunuhku.

Apa salah hamba, Pangeran? Aku bertanya di lemah di puncak kesakitanku.

 

“Kau menghinaku, kaupamerkan kerupawananmu, kauremehkan
aku, kaupikat perempuan-perempuanku, kaucemarkan
kerajaanku. Jawablah, Sukra.”

 

Dan kegelapan yang menjawab. Entah berapa lama aku pingsan. Aku mendadak tersedak. Seperti baru tenggelam di sebuah kolam. Rupanya mereka mengguyur kepalaku dengan seember air. Aku mengerang dan menggeliat kesakitan. Punggungku terasa sangat pedih. Ampun, Pangeran. Lepaskan hamba. Ia tak menjawabku. Ia malah memerintah para begajulnya. Cambuk lagi!

Kejadian yang sama berulang lagi. Aku berteriak-teriak beberapa saat dan kemudian gelap. Dan terbangun lagi seperti baru muncul dari dasar kolam. Tapi kini bukan sakit lagi yang kurasakan. Dadaku tak lagi berdegub oleh rasa takut. Seperti ada api di dalam tubuhku yang pelan namun pasti, seiring siksaan yang kualami, membesar dan membesar. Kencet semula tak menyadarinya. Ia terlalu sibuk menikmati jeritan-jeritanku. Ia duduk di kursi sikap tubuh yang aeng. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Dan wajahnya. Seperti tengah memendam birahi. Aku bergidik melihatnya. Darahku berdesir. Api di dalam tubuhku makin besar. Api itu terpancar di sepasang mataku yang menatapnya dengan tajam. Sementara para kacung terus merajam tubuhku dengan cambukan-cambukan paling kerasnya. Menghancurkan segala yang melekat di tubuhku.

Berhenti! Tiba-tiba Kencet berteriak. Wajahnya merah, sangat merah. Kau berani menentangku! Ia perlahan berdiri sambil merapikan pakaiannya. Aku terus menatapnya tanpa kedip. Wajahnya mendadak pucat. Ia seperti melihat hantu di tengah hari. Aku bisa melihat dengan terang bagaimana perubahan mimiknya dari birahi, kemudian marah dan mendadak ketakutan. Ia tak berani lagi menatapku.

Cari semut rang-rang. Sumpal matanya dengan semut rang-rang! Ia berteriak seperti seorang perempuan. Histeris tepatnya. Para begundal yang semula sibuk mengulitiku berlarian ke luar ruangan. Mungkin mereka sedang memanjat pohon-pohon nangka terdekat untuk mengambil sarang semut rang-rang.

Jangan kaukira aku takut denganmu, Kencet! Aku bergumam mengumpatnya dengan seluruh tenaga yang masih bisa kumiliki. Dan di hadapanku tubuh Kencet yang semula begitu jumawa itu mengkeret seperti tikus kecemplung di selokan mampet. Aku menikmati detik demi detik yang tersisa, seperti menikmati titik-titik hujan terakhir sebelum tamat. Sebuah jeda yang bisa kuselami dengan seluruh diriku sebelum para penjaga itu datang dan melesakkan ratusan semut rang-rang ke dalam lubang mataku.

 

Namaku Sukra, lahir di Kartasura, 17…, di sebuah pagi
Selasa Manis, ketika bulan telah berguling ke balik gunung.

 

Jogja, 2013

  

Catatan: cerita ini berpijak pada Babad Tanah Jawi. Kalimat-kalimat yang dimiringkan adalah puisi Goenawan Mohamad yang berjudul “Penangkapan Sukra”

Siti Mahiya

Masih ingat cerita Tambijumiril, seorang saudagar kaya raya dari Benggala yang tak pernah bahagia? Ya, ia yang kemudian meninggalkan seluruh harta kekayaannya dan pergi bertapa sungsang—kepala di bawah kaki di atas—hingga delapan tahun lamanya. Konon ia mendapat wangsit dari Malaikat Jabarael untuk pergi berlayar untuk bertemu dengan jodohnya di sebuah padang pasir yang gersang. Pendeta Kanjulmukmin yang ditemuinya di sebuah pulau memberinya petunjuk agar ia pergi ke tanah Mekkah. Mungkin di sanalah ia akan mendapatkan kebahagiaannya atau entahlah apa namanya.

“Di sana Anakmas akan bertemu dengan jodoh. Dari rahimnya kelak akan lahir seorang anak yang akan mengagungkan nama Anakmas. Dia adalah seorang abdi dan prajurit yang gagah berani. Dia akan menjadi abdi dan sahabat setia dari seorang kekasih nabi. Dia juga seorang yang jenaka, nakal dan pintar berkelakar. Dan, maaf, Anakmas, dia juga seorang yang panjang tangan. Copet yang ulung. Tapi ia bukan copet sembarang copet. Ia tak akan menggunakan tangannya untuk perbuatan yang nista. Umur lima tahun ia sudah bisa mencopet sambil duduk. Sepuluh tahun ia bisa mematahkan leher seorang raja tanpa seorang pun mampu melihatnya. Ia juga bisa melompati seluruh tembok yang pernah ada. Ia juga bisa berlari lebih cepat dari pada angin dan tak seorang pun di atas bumi ini yang mampu menangkapnya. Dan sekali lagi ia adalah seorang yang jenaka. Semua orang baik kawan atau lawan akan menyukainya. Sudahlah, Anakmas. Tak perlu saya berpanjang lebar merentang masa depan. Saya tak punya kuasa apa-apa. Berangkatlah segera ke kota Mekah.”

Maka sampailah Tambijumiril di tanah Mekkah yang pada saat itu masih berbentuk sebuah kadipaten dan diperintah oleh seseorang bernama Baginda Asim. Baginda Asim, lelaki bijaksana yang tubuhnya bongkok ini, adalah anak dari Baginda Abdulmanap. Ia menjadi adipati menggantikan ayahnya tersebut. Sebenarnya ia masih memiliki saudara kembar yang entah menghilang ke mana. Mereka dilahirkan kembar siam, pada punggung Asim menempel perut saudaranya. Baginda Abdulmanap pun terpaksa memisahkan mereka dengan pedangnya. Hingga Asim dan Umiyar pun terpisah. Dengan kekurangan: Asim jadi membungkuk dan Umiyar mendongak.

Baginda Asim memiliki 3 orang anak. Yakni: Siti Mahiya—seorang perempuan yang sangat cantik dan lemah lembut, Alip dan Abdulmuntalip—keduanya tampan dan gagah berani. Pada saat Tambijumiril sampai di alun-alun kota Mekkah, Baginda Asim sudah 19 tahun menjabat adipati menggantikan ayahnya dan Siti Mahiya sedang cantik-cantiknya.

Siti Mahiya, meski sudah didesak ayahnya untuk segera menentukan jodohnya, tetap memilih hidup sendirian. Putri kadipaten itu selalu menghindar jika ayahnya sudah mulai masuk ke perkara pernikahannya. Bukan karena Siti Mahiya tak mau tapi memang senyatanya ia belum menemukan seorang lelaki yang menurutnya bisa membahagiakannya. Baginya lelaki yang sempurna adalah perpaduan dari ayah dan kedua adiknya. Gabungan ketiganya adalah bayangan sempurna seorang lelaki bagi Siti Mahiya. Dan ia belum menemukannya. Mungkin tak pernah ada di dunia ini. Dan jika demikian jika ia dipaksa menikah ia akan menikahi ketiganya. Dan itu tak mungkin.

Setiap hari ia mengurung dirinya dalam kamar. Sama sekali tak pernah keluar kecuali Baginda Asim menghendakinya menghadap atau hadir dalam acara-acara resmi kadipaten. Itu pun tak sering. Hingga pelan-pelan Siti Mahiya pun hilang dari ingatan banyak orang. Alip dan Abdulmuntaliplah yang banyak menjadi percakapan warga Mekkah. Masa depan Mekkah tampak dengan jelas di wajah dan sepak terjang mereka. Kecendikiaan Alip dan kegagahberanian Abdulmuntalip membuat warga Mekkah merasa aman dengan masa depannya. Di tangan mereka berdua kelak Mekkah akan mencapai puncak kejayaannya. Demikianlah keyakinan yang diam-diam tumbuh dan membesar di hati setiap warga setiap kali mereka melihat kedua satria itu.

Tapi cerita ini adalah cerita Siti Mahiya. Di sinilah Siti Mahiya akan hadir dan mengalir. Bukan yang lain. Gadis bertinggi badan 172 cm dan berat badan 49 kg ini memang luar biasa menawan. Di balik cadar yang selalu dikenakannya tersimpan wajah yang akan melekat pada mimpi lelaki mana pun di sepanjang hidupnya meski hanya sekali mereka melihatnya. Tentunya sangat disayangkan bahwa ia mengurung dirinya terus-menerus di dalam kamar hingga tak banyak orang tahu bahwa di tanah Mekkah yang panas dan gersang ada mata air bernama Siti Mahiya yang akan membuat teduh hati siapa pun yang berada dekat dengannya. Ia juga memiliki suara yang lembut. Saking lembutnya, jika ia mau, bisa menidurkan pendengarnya. Membuat mereka jatuh dalam tidurnya yang paling dalam.

Mahiya sendiri berarti menyenangkan berasal dari nama sansekerta. Dan memang demikianlah adanya, Siti Mahiya menjadi seorang gadis yang menyenangkan—jika saja kau beruntung bisa bertemu dengannya, jika saja ia tak menutup dirinya di dalam kamar. Ia tepat berumur 25 tahun saat Tambijumiril tiba di tanah Mekkah. Umur yang sudah sangat terlambat untuk menikah. Perempuan seusianya, di sana, harusnya sudah beranak setidaknya 3. Tapi Siti Mahiya sepertinya akan memakan waktu lebih lama lagi jika ia tak mau berubah. Baginda Asim barangkali adalah seseorang yang paling gelisah memikirkan nasib putrinya tersebut. Alip dan Abdulmuntalip, kedua adiknya, sudah terlebih dahulu menikah. Tiap kali teringat putri sulungnya itu Baginda Asim berkaca-kaca matanya. Seluruh kejayaan Mekkah rasanya tak cukup untuk meredakan kegundahannya.

Tambijumiril menghentikan langkahnya di tengah alun-alun kota Mekkah. Inikah tanah yang dijanjikan kepadanya itu. Beberapa pengawal tampak berjaga di regol kedaton. Beberapa saat kemudian ia menghampiri salah satu dari mereka.

“Katakan kepada adipatimu, ada saudagar dari Benggala ingin menghadap.” Pengawal itu tampak keheranan menatap Tambijumiril. Barangkali ia menduga Tambijumiril adalah seorang pengemis. Pakaian dan debu yang menempel tebal di sekujur tubuhnya membuat pengawal itu setengah tak percaya bahwa yang tengah berdiri di hadapannya adalah seorang saudagar.

“Katakan saja Tambijumiril ingin menghadap.”

Mendengar nama saudagar kaya raya yang terkenal di seluruh penjuru itu disebutkan si pengawal segera berlari masuk ke kadipaten. Tak berapa lama ia balik lagi dan mempersilahkan Tambijumiril masuk.

Di paseban kadipaten Mekkah Baginda Asim telah menunggunya.

“Benarkah kau Tambijumiril saudagar kaya raya dari Benggala itu?” Tanya Baginda Asim sambil mempersilahkan Tambijumiril duduk di hadapannya.

“Benar, Baginda. Saya Tambijumiril. Tapi saya bukan saudagar kaya raya lagi.”

“Kenapa begitu? Apa yang telah terjadi? Apakah kau dirampok begal di tengah perjalananmu?”

“Bukan dirampok, Baginda. Seluruh harta saya sudah habis saya bagi-bagikan kepada mereka yang lebih membutuhkan. Saya datang kemari karena itulah petunjuk yang saya dapatkan sewaktu saya bertapa sepanjang delapan tahun lamanya. Kalau saya hendak mencari bahagia konon di sinilah tempatnya.”

“Ah, jadi kau mau mencari kebahagiaan di sini? Apakah harta kekayaanmu tak cukup membuatmu bahagia?”

“Ayah saya seorang saudagar yang kaya raya, Baginda. Saya lahir di tengah kekayaan tersebut. Saya pun tumbuh besar di sana hingga kemudian saya mengikuti jejak ayah saya menjadi saudagar. Harta kekayaan saya makin hari makin berlipat jumlahnya. Tapi lama kelamaan saya bosan dengan semuanya. Saya merasa tak memiliki apa-apa selain harta saya tersebut. Bahkan saya takut memiliki seorang isteri. Saya takut ia hanya mencintai harta saya. Bukan saya.”

Baginda Asim sangat tertarik mendengar cerita Tambijumiril. Di matanya wajah saudagar muda dari Benggala seperti memancarkan cahaya.

“Kini saya adalah orang termiskin di dunia. Saya tak punya apa-apa, Baginda. Tapi entah kenapa saya malah merasa lebih bebas sekarang. Tidak memiliki beban dan ketakutan apa-apa lagi. Saya datang ke sini karena inilah tanah yang dijanjikan dalam mimpi saya. Saya telah bertanya ke sana ke mari di manakah letak kebahagiaan. Dan seluruh warga yang saya temui menyarankan saya untuk menghadap Baginda Asim yang bijaksana. Untuk itulah saya menghadap siang ini, mengganggu istirahat Baginda. Jika diperkenankan saya ingin suwita di sini. Pekerjaan apa pun akan saya kerjakan dengan tulus.”

Baginda Asim terharu mendengar penuturan dan permintaan Tambijumiril. Diamatinya sekali lagi bekas saudagar paling kaya di dunia itu. Diam-diam ia merasa jatuh hati. Ah, seandainya saja Siti Mahiya mau menikah dengannya. Tapi segera ia menepis bayangan itu. Biarlah jika memang berjodoh mereka akan menemukan jalannya sendiri. Baginda Asim tak mau berharap. Ia takut kecewa sekali lagi.

“Baiklah, kuterima kau bekerja di sini. Sebagai tukang kebun taman sari.”

Tambijumiril menyembah Adipati Mekkah itu. Senang sekali rasanya ia bisa mendapatkan pekerjaan—hal yang tak pernah dialaminya: mencari-cari pekerjaan.

Tambijumiril bekerja dengan rajin. Ia tak mau mengecewakan Baginda Asim yang telah memberinya pekerjaan. Tanaman dan bunga-bunga di taman sari yang menjadi tanggung jawabnya dirawatnya dengan baik. Semua diperlakukan sebagai sahabat yang dikasihinya. Ia menyiram mereka dengan air juga dengan lagu-lagunya yang merdu. Tambijumiril tak pernah membayangkan bahwa di tengah gurun yang tandus terdapat sebuah taman sari seperti yang sekarang setiap hari dikunjunginya. Taman itu dibangun mengelilingi sepasang mata air kecil yang tak pernah berhenti mengeluarkan air. Seperti sepasang mata bidadari yang tengah menangis. Dan tak pernah berhenti. Bukan tangis kesedihan tapi. Tangis kebahagiaan yang tak pernah habis-habis.

Sehabis bekerja Tambijumiril suka sekali duduk-duduk di dekat mata air itu. Entah kenapa. Di kejernihan mata air itu Tambijumiril seperti menemukan bayangan dirinya yang lain. Tambijumiril yang lain. Demikian setiap hari. Hingga di sebuah sore selepas ia bekerja dan tengah duduk-duduk di tepi mata air, sebuah suara lembut menyapanya.

“Terimakasih sudah merawat tanaman dan bunga-bungaku.”

Tambijumiril kaget. Ia segera menengok ke sumber suara lembut itu.

Sesosok perempuan berdiri di belakangnya. Wajahnya tertutup cadar. Hanya sepasang mata yang tampak tengah menatapnya. Tambijumiril segera menduga ini pasti salah satu selir Baginda Asim. Dengan cepat ia menyembah.

“Hamba Tambijumiril, Ndara Putri. Hamba abdi dalem baru di sini.”

“Ya, aku tahu. Namamu Tambijumiril dari Benggala bukan?”

Tambijumiril mengangguk dengan heran. Ternyata namanya sudah dikenal oleh kerabat kadipaten.

“Aku Mahiya, Putri Sulung Baginda Asim.”

Kagetlah Tambijumiril. Ia sama sekali tak tahu bahwa Baginda Asim memiliki seorang Putri yang sangat lembut suaranya.

“Maafkan hamba, Ndara Putri. Hamba malah tak tahu. Sekali lagi maaf.”

“Tak apa. Tak banyak yang tahu juga kehadiranku di keputren ini. apalagi kamu yang masih baru. Boleh aku duduk di situ?” Siti Mahiya menunjuk tepi mata air di mana Tambijumiril biasa duduk. Agak gelagapan Tambijumiril menjawabnya, “Silakan, Ndara Putri. Taman ini milik Ndara Putri sendiri.”

Tanpa peduli dengan kekikukan Tambijumiril Siti Mahiya langsung duduk. “Kamu juga duduklah. Temani aku.” Tambijumiril semakin gelagapan. Tapi tak mau mendapat amarah ia menuruti saja perintah Siti Mahiya.

“Aku sering mendengar kau menembang saat menyirami bunga-bunga di taman ini. kalau boleh tahu tembang apa itu?”

Tambijumiril memerah wajahnya. Ia tak menyangka bahwa selama ini ada seorang Putri yang mengamatinya. Jantungnya berdetak dengan cepat.

“E… Sekar Dandanggula, Ndara.”

“Nyanyikanlah lagu itu buatku sekarang.”

“Ampun, Ndara Putri. Suara saya jelek sekali.”

“Nyanyikan. Anggap saja aku bunga-bunga yang tengah kau siram saban hari itu.”

Setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya Tambijumiril pun menembang.

 

Dhandhanggula aku coba kini

Untuk meredakan kesedihan

Yang berlangsung sejak sore

Sejak kamu berlalu

Dari percakapan yang dingin

Serta terpatah-patah

Ini soal rindu

Yang bolak-balik bergetar

Tiap kali angin datang mendekati

Seperti ini saat

Di kejauhan Baginda Asim memperhatikan mereka. Hatinya benar-benar merasa lega. Ia menatap langit. Di sana Malaikat Maut tengah menunggunya.

Jogjakarta, 2012

 

Catatan: Kisah ini berangkat dari Serat Menak karya R. Ng. Yosodipuro yang digubah dari Serat Menak Kartasura yang ditulis Carik Narawita dari khazanah sastra Melayu Hikayat Amir Hamzah yang diturunkan dari Qissa il Emir Hamza wiracarita dari Parsi