Kobatsah

Berapa kali sudah dalam hidup kita terbangun dan lupa dengan mimpi yang baru saja kita alami. Dalam tidur seakan kita akan mengingat mimpi itu selamanya tetapi begitu terbangun tak satu pun hal yang tersisa dalam kepala kita. Seringkali kita terganggu dan berusaha keras mengingatnya. Tapi kadang kita tak peduli. Dan membiarkannya berlangsung berkali-kali. Tapi tidak demikian dengan Kobatsah seorang raja dari kerajaan Medayin. Ia sangat terganggu. Mimpi yang hilang itu sangat mengusiknya. Membuatnya tak bisa tidur bermalam-malam. Karenanya ia perintahkan Eklaswajir, patihnya, untuk mencari orang pintar yang bisa membantunya mengingat kembali mimpi tersebut. Sudah ratusan penujum didatangkan tapi tak satu pun yang bisa mengembalikan mimpi sang Raja. Hingga suatu hari Kobatsah mendengar berita tentang kesaktian seorang anak muda bernama Betaljemur. Tapi sayang Betaljemur tak mau menghadap ke istana jika tidak menunggang Patih Eklaswajir dan dipayungi Songsong Kencana Kerajaan Medayin. Demi menyenangkan hati sang Raja, Eklaswajir merelakan dirinya menjadi kuda bagi Betaljemur. Dipunggungnya dipasang pelana. Tak ketinggalan pula tali kekang dan kacamata kuda. Dan berangkatlah Betaljemur diiringi sorak-sorai rakyat Medayin menertawakan Patih Kerajaan yang tiba-tiba berubah menjadi kuda.

“Jadi apa mimpiku yang hilang itu, Anak Muda? Seluruh permintaanmu sudah kuturuti. Sekarang katakan padaku.” Kobatsah menatap tajam Betaljemur. Anak muda dari kampung yang wajahnya seperti diselimuti cahaya itu hanya tersenyum. “Kudengar kau bisa membaca segalanya. Bahkan dengan binatang pun kau sanggup bercakap-cakap. Ratusan peramal telah kudatangkan dan tak satu pun berhasil menemukan mimpiku. Apalagi membacanya.”

“Terimakasih, Yang Mulia, karena sudah mengabulkan permintaan saya, menjemput saya dengan kuda paling mewah se-Medayin. Meski kuda itu adalah patih Yang Mulia sendiri, Eklaswajir. Sepanjang jalan banyak orang bertanya-tanya kenapa saya naik ke punggung patih mulia itu. Yang Mulia pasti juga bertanya-tanya. Tapi mimpi Paduka yang hilang kiranya lebih penting dari kehormatan seorang patih.”

“Ya, mimpiku yang hilang itu lebih penting dari segalanya. Tanpa mimpi apa jadinya seorang manusia.”

“Benar, Yang Mulia. Tapi perkenankan hamba bercerita lebih dulu sebelum hamba mengembalikan mimpi Paduka yang hilang itu.” Kobatsah mengangguk. Wajah Betaljemur yang polos dan bercahaya membuat Kobatsah tiba-tiba saja jatuh cinta kepadanya. “ Tapi saya mohon Patih Eklaswajir juga duduk di sini, ikut mendengarkan cerita saya.”

Kobatsah mengangguk sekali lagi. Ia segera memanggil patihnya. Yang dipanggil datang dengan wajah merah. Seharian ia telah dipermalukan Betaljemur. Dan kini tampaknya anak muda itu masih akan melanjutkan penghinaannya. Tapi Eklaswajir menurut saja. Di hadapan Kobatsah ia harus menunjukkan pengabdiannya, menampakkan pengorbanannya kalau perlu menjilat pantat Kobatsah pun akan dilakukannya. Ia hanya penasaran siapa sebenarnya anak muda bernama Betaljemur itu. Kenapa tiba-tiba saja Kobatsah jadi begitu murah hati dan menuruti seluruh permintaannya.

“Nama saya Betaljemur yang mulia. Saya tinggal di sebuah kampung bersama dengan ibu saya. Hanya berdua saja. Ayah saya hilang sejak saya masih dalam kandungan. Sampai sekarang ibu saya masih menunggu kepulangan ayah saya.” Betaljemur berhenti sejenak. Ia melirik Patih Eklaswajir yang menyimak ceritanya. “Beberapa hari yang lalu ibu memberi saya sebuah buku. Kitab Kadamakna judulnya. Kata ibu kitab itu ditulis oleh kakek saya, Lukmanakim. Paduka tentu pernah mendengar namanya. Beliau adalah guru Baginda Sarengas, Ayah Yang Mulia sendiri.”

“Ya, kau benar. Ayahanda pernah bercerita tentang Kyai Lukmanakim. Jadi kau adalah cucunya. Berarti ayahmu yang hilang itu adalah Bektijamal, saudara angkatku?”

Betaljemur mengangguk dalam-dalam. Eklaswajir tiba-tiba gelisah dalam diamnya. Apakah rahasianya akan terbongkar. Ia bertanya-tanya dalah hati.

“Saudara angkat Patih Eklaswajir juga.” Jawab Betaljemur kemudian. Jawaban itu seperti diarahkannya ke wajah Patih Eklaswajir. “Dalam Kitab Kadamakna seluruh pertanyaan saya terjawab, Yang Mulia. Saya tahu di mana ayah saya sekarang berada.”

“Di manakah Kakang Bektijamal berada, Anakku? Sudah lama sekali aku tak mendengar kabarnya.” Kobatsah bangkit dari duduknya. Cerita Betaljemur begitu menarik perhatiannya. Sejenak ia lupa dengan perkara mimpinya.

“Kadamakna telah menulis semuanya. Apa yang telah dan belum terjadi di dunia ini. Termasuk di mana ayah saya sekarang berada. Bahkan mimpi Paduka yang hilang pun ada di dalamnya.”

“Cepat ceritakan, Anakku. Tak sabar aku mendengarnya.”

“Patih Eklaswajirlah yang lebih tahu, Yang Mulia, di mana ayah saya sebenarnya berada.” Eklaswajir terhenyak. Ia benar-benar tak bisa menghindar. “Menurut ibu, bersama Patih Eklaswajirlah ayah pergi untuk terakhir kalinya.” Eklaswajir kini pasrah. Ia hanya diam saja.

Kobatsahlah yang menjadi tak sabar ingin mendengar akhir cerita Betaljemur. “Katakan, Eklaswajir, di mana Kakang Bektijamal berada!” Eklaswajir semakin tertunduk dalam. Keringat dingin mengucur deras dari seluruh tubuhnya. Lidahnya yang selama ini terampil melontarkan kata-kata kini kaku. Ia benar-benar tak mengira bahwa peristiwa yang bertahun-tahun dikuburnya dalam-dalam itu akan terbongkar dengan mudah oleh seorang bocah kemarin sore.

“Betaljemur, ceritakalah. Eklaswajir tak mampu bercerita tampaknya.” Kesabaran Kobatsah sudah habis. Sebenarnya ia ingin menghukum segera Eklaswajir saat itu juga. Baru sekali ini patihnya yang begitu setia itu membangkang perintahnya.

“Dengan ijin Paduka akan hamba ceritakan semua.” Betaljemur menyembah Kobatsah. “Tak ada maksud hamba membongkar aib siapa pun. Tak ada maksud hamba membalas dendam atas kejahatan seseorang. Hamba hanya menjalankan apa yang sudah tertulis dalam Kadamakna.”

Lalu berceritalah Betaljemur tentang apa yang terjadi bertahun yang lalu. Tentang Eklaswajir yang membunuh ayahnya demi mendapatkan harta Karun di sebuah gua yang mereka temukan dalam sebuah pengembaraan.

Kobatsah gemetar menahan amarah. Ia sama sekali tak menduga bahwa di balik kesetiaannya Eklaswajir menyimpan kebusukan. Seluruh penilaiannya atas diri Eklaswajir hancur seketika. Ia jadi mengerti kenapa Betaljemur meminta Eklaswajir menjadi kudanya. Anak muda itu ingin menunjukkan kepada seluruh penduduk Medayin siapa sesungguhnya Eklaswajir.

“Benarkah yang diceritakan Betaljemur ini, Eklaswajir?”

Eklaswajir mengangguk. Pelan sekali. Ia sama sekali tak berani menatap Kobatsah. Meledaklah Kobatsah oleh kemarahan. Ia merasa dikhianati oleh patih yang begitu dipercayainya itu.

“Lalu di manakah jasad Kakang Bektijamal kau sembunyikan?”

“Di rumah hamba, Paduka. Di belakang rumah hamba.” Eklaswajir akhirnya bersuara. Semakin hancurlah hati Kobatsah. Mimpinya yang hilang ternyata membongkar kejahatan Eklaswajir. Tapi di balik hatinya yang hancur rasa kagumnya pada kemampuan Betaljemur mulai terbit. Tak salah ia memanggil Betaljemur. Benarlah apa yang dikatakan orang-orang tentang kesaktian Betaljemur.

“Terimakasih, Betaljemur, kau telah membongkar kejahatan Eklaswajir. Entah apa jadinya jika kejahatan ini tak terbongkar. Betapa memalukannya bahwa di balik kejayaan Medayin tersimpan sebuah kejahatan besar yang dilakukan orang kepercayaanku sendiri. Sekarang katakanlah apa mimpiku yang hilang itu.”

Betaljemur menyembah sekali lagi, “Mohon maaf, Paduka. Sekiranya Paduka masih dapat bersabar sementara. Pikiran dan perasaan hamba masih keruh oleh cerita hamba baru saja. Saya kira Paduka pun demikian. Hamba takut akan tak baik kejadiannya nanti. Sebab mimpi Paduka yang hilang juga bukan perkara yang mudah untuk diterima dengan hati yang terbuka.”

Kobatsah termangu. Ia membenarkan apa yang disampaikan Betaljemur. Bukankah lebih baik ia menyelesaikan perkara kejahatan Eklaswajir terlebih dahulu. Barulah urusan mimpinya yang hilang ia agendakan kemudian. “Ya, kamu benar. Sekarang istirahatlah. Aku akan mengurus pengadilan Eklaswajir terlebih dulu. Tenangkan hatimu. Jika kamu sudah siap, datanglah menghadap.”

“Hamba mohon diri, Yang Mulia. Hamba akan pulang ke kampung menemui ibu hamba. Tentu ia cemas menanti kepulangan hamba.”

“Tak usah pulang. akan kuperintahkan prajurit menjemput ibumu. dan tinggallah kalian di istanaku. Bektijamal sudah kuanggap saudaraku sendiri. Betapa berdosanya aku telah menelantarkan kalian selama ini.”

Betaljemur lega mendengar jawaban Kobatsah. Keinginannya untuk membahagiakan ibunya tercapai sudah. Tentu ibunya akan senang tinggal di sini. Tapi ia masih bingung mencari cara menceritakan kematian ayahnya. Ibunya begitu percaya bahwa kelak suatu saat suaminya akan kembali sebagaimana janjinya.

“Terimakasih, Yang Mulia. Saya akan menunggu ibu hamba di istana.”

Pengadilan Eklaswajir tak berlangsung lama, seluruh bukti tak dapat disangkal—Kobatsah telah memerintahkan membongkar makam Bektijamal dan memindahkan kerangkanya ke pemakaman yang terhormat di Medayin—dan Eklaswajir pun telah mengakui perbuatannya. Atas persetujuan para Wali Kerajaan Betaljemur pun segera diangkat sebagai Patih Kerajaan menggantikan Eklaswajir yang akan dihukum mati. Betaljemur menerima seluruh penghargaan dari Kobatsah dengan tangan terbuka. Seperti yang tertulis dalam Kadamakna yang telah dibacanya, memang demikianlah jalan hidup yang harus dilaluinya. Meski dengan menerima jabatan itu sebuah jalan yang mengerikan tengah terbentang di hadapannya. Ia tahu tapi ia tak mau menghindar. Ia tak mau mengulang kisah ayahnya yang mencoba lari dari apa yang telah digariskan di Kadamakna. Ia ikuti saja meski di ujung jalan ia harus menumpahkan banyak darah demi kejayaan Medayin.

Pada hari yang telah ditentukan menghadaplah Patih Betaljemur.

“Apakah Paduka sudah siap mendapatkan mimpi yang hilang itu?”

“Siap lahir batin. Hatiku belum tenang jika tak bisa menemukan mimpiku itu, Betaljemur.”

“Baiklah, Paduka. Malam itu Paduka bermimpi melihat buah sawo di dalam sebuah kotak kayu. Tapi ketika Paduka hendak menyantapnya seekor anjing hitam datang dan merebut buah sawo tersebut. Saya kira itulah mimpi Paduka yang hilang beberapa hari ini.”

Kobatsah berseru kegirangan. “Iya, benar. Itulah mimpiku yang hilang itu. Yang selalu gagal kuingat lagi. Terimakasih, Betaljemur!” Bagai seorang anak kecil yang mendapat mainannya kembali mata Kobatsah bersinar gembira. Betaljemur tersenyum melihat kegembiraan junjungannya.

“Lalu apa arti mimpiku itu, Betaljemur?” Setelah mampu menguasai dirinya Kobatsah kembali bertanya.

Betaljemur tak langsung menjawab. Ia menatap wajah Kobatsah dengan seksama. Kobatsah jadi berdebar.

“Apakah artinya buruk, Betaljemur?”

Betaljemur menggeleng. “Buruk jika memang Paduka menganggapnya demikian. Baik jika Paduka mampu menerimanya dengan lapang hati.”

“Apakah berkait dengan Kerajaan Medayin?”

“Tidak, Paduka. Ini perkara pribadi.”

Kobatsah semakin berdebar. “Baik. Katakanlah. Aku siap mendengarnya.”

“Ada Selir Paduka yang setiap hari bercinta dengan seorang budak dari Ngabesi.”

Kobatsah melongo mendengar penuturan Betaljemur. “Apakah benar katamu?”

Betaljemur mengangguk. “Bahkan sekarang pun mereka tengah bercinta. Mereka bercinta di dalam peti mati di gudang kerajaan.”

Tanpa menunggu apa-apa lagi Kobatsah langsung memerintahkan prajurit untuk menemukan selirnya tersebut di gudang kerajaan. Dan memang demikianlah adanya. Salah seorang selirnya memang sedang bercinta dengan seorang budak dari Ngabesi. Mereka berdua tertangkap basah tengah tidur bersama di dalam sebuah peti mati.

Kepercayaan Kobatsah semakin berkali lipat. Rasanya tak salah ia mengangkat anak muda yang sakti itu menjadi patihnya. Dan Betaljemur pun tak menyia-nyikan kepercayaan yang ditaruh di pundaknya. Di bawah pemerintahannya Medayin kembali bersinar dan dikagumi oleh kerajaan sekitar. Bahkan banyak yang kemudian datang dan bermukim di wilayah Medayin. Kobatsah dan Betaljemur menjadi sepasang pemimpin yang disayangi dan disegani rakyatnya.

Untuk menguji kemakmuran Medayin Betaljemur mengusulkan agar Kobatsah pura-pura sakit keras dan obatnya hanyalah segenggam tanah Medayin yang kosong dan belum berpenghuni. Segera kabar itu disebar ke seluruh penjuru. Tapi berbulan-bulan tak kunjung datang seorang pun membawa segenggam tanah yang diharapkan. Dalam hati Kobatsah merasa lega bahwa seluruh tanah di Medayin sudah berpenghuni dan tak ada yang terlantar. Namun demikian Betaljemur tetap memintanya untuk berpura-pura sakit. Hingga suatu sore datanglah beberapa orang warga Medayin membawakan tanah yang diminta.

Bertanyalah Betaljemur kepada mereka dimanakah tanah yang masih kosong itu.

“Ampun, Yang Mulia. Tanah ini kami ambil di pinggiran kerajaan. Di sebuah rumah kosong milik saudagar dari Sam. Belum lama menempati rumah tersebut saudagar itu mati mendadak. Dan hingga bertahun-tahun kemudian tak ada satu pun ahli warisnya yang datang. meski demikian harta saudagar tersebut masih tersimpan dengan aman.”

Maka bangkitlah Kobatsah dari sakitnya. Ia benar-benar merasa puas dengan kehidupan warga kerajaannya. Saking makmurnya mereka tak mau mengambil harta yang bukan miliknya. Maka diberilah hadiah orang-orang yang datang membawa segenggam tanah itu.

Suatu hari di sebuah sore saat Kobatsah tengah duduk berdua dengan Betaljemur bertanyalah ia, “Apakah Pangeran Yayi, anakku, akan bisa memerintah Medayin ini sama baiknya dengan diriku?” Dan Betaljemur pun mengiyakan. “Putra Paduka akan menjadi raja yang paling besar. Bersama patihnya yakni anak dari Eklaswajir Medayin akan mencapai puncak kejayaannya. Pangeran Yayi kelak akan bernama Prabu Nusirwan. Bersama Patih Bestak ia akan memerintah Medayin hingga akhir hayatnya.”

Lega hati Kobatsah mendengar jawaban itu. Tapi Betaljemur belum selesai.

“Akan tetapi kelak akan lahir seseorang yang tak akan mampu dikalahkan sang Prabu Nusirwan.”

Mendadak wajah Kobatsah berubah menjadi keruh. Betaljemur pun segera tahu saat terburuknya segera tiba.

“Anak itu akan dilahirkan di mana, Betaljemur?”

“Ia adalah anak kesayangan para nabi, Paduka. Malaikat Jabarael sendiri yang akan mengajarinya ilmu berperang. Menurut hemat hamba tak akan memalukan jika Prabu Nusirwan akan kalah berperang melawannya.”

Wajah Kobatsah yang semula keruh kali ini kembali bersinar. Tapi sinar matanya tampak berubah. Betaljemur membacanya dengan hati bergetar.

“Paduka, kelak musuh-musuh Medayin berasal dari Mekah, Yahman, Kohkarib, Serandil, Mesir, Yunani, kebar dan Ngerum. Saya tak tahu pasti di manakah anak itu akan lahir. Tapi yang pasti dari salah satu wilayah itu.”

Sepasang mata Kobatsah memancarkan kekejaman yang tiada tara. “Malam ini juga, Betaljemur, bawalah sebanyak mungkin prajurit Medayin dan berangkatlah ke kerajaan-kerajaan yang kamu sebutkan itu. Bunuh seluruh perempuan yang tengah hamil. Aku tak ingin anak itu lahir.”

Betaljemur tahu bahwa suatu saat ia akan bergelimang dengan darah demi menjaga kejayaan Medayin. Tapi tetap saja hatinya bergetar ketika tahu saat itu telah tiba. Betaljemur menyembah Kobatsah. “Hamba pamit berangkat, Yang Mulia.”

Malam itu Betaljemur memulai perjalanan berdarahnya hingga bertahun-tahun kemudian saat Kobatsah meninggal dan Nusirwan memintanya pulang.

Jogjakarta, 2012

Catatan: Kisah ini berangkat dari Serat Menak karya R. Ng. Yosodipuro yang digubah dari Serat Menak Kartasura yang ditulis Carik Narawita dari khazanah sastra Melayu Hikayat Amir Hamzah yang diturunkan dari Qissa il Emir Hamza wiracarita dari Parsi

Bagong

Ini cerita asal-asalan tentang Bagong yang tersesat di hutan. Cerita ini bertahan cukup lama dalam ingatanku. Mungkin karena itulah kaset cerita wayang yang berhasil kubeli untuk pertama kalinya. Kaset wayang dari dalang Hadi Sugito, dalang favoritku waktu itu. Judulnya Bagong Dadi Guru. Aku sengaja memilih judul itu karena ada nama Bagong, tokoh punakawan kesayanganku, tokoh yang menjadi sangat lucu dan menggemaskan di tangan Ki Hadi Sugito. Bagong memang tokoh yang lucu, dalang mana pun akan berusaha menjadikannya tetap lucu, tapi di tangan Hadi Sugito kelucuan itu bisa berkali-kali lipat. Suara Bagong gaya Hadi Sugito begitu memukau—besar, tebal tapi konyol. Dari suaranya saja aku sudah bisa tertawa terpingkal-pingkal. Belum lagi kalau mendengar guyonan-guyonan yang dia keluarkan kemudian.

Sampai saat aku memecah celenganku untuk membeli 1 set kaset tersebut aku sama sekali belum pernah melihat langsung pertunjukan dalang pujaanku itu. Hanya orang kaya, kampung yang makmur dan perusahaan-perusahaan besar yang bisa menanggap wayang dengan dalang Ki Hadi Sugito. Aku hanya bisa menikmatinya lewat siaran radio. Waktu itu beberapa stasiun radio, semuanya malah, di kotaku memiliki program memutar kaset wayang di malam hari. Jadi tiap malam aku tiduran sambil menyanding radio. Aku hafal di luar kepala jadual pemutaran wayang dari masing-masing radio tersebut. Sebagian besar memutar kaset wayang Ki Hadi Sugito. Para pengelola radio tampaknya mengetahui benar selera pendengarnya—seleraku tepatnya.

Dulu aku sempat mengira bahwa setiap anak juga sepertiku senang begadang mendengarkan siaran wayang. Tapi ternyata tidak. Setidaknya aku hanya menemukan Jono temanku sekelas yang memiliki kegemaran sama denganku. Jono berusia jauh lebih tua dariku. Sewaktu aku masuk pertama kalinya ke SD Inpres itu Jono sudah duduk di kelas empat. Tapi ketika aku pelan-pelan naik ke kelas lima kami jadi teman satu kelas. Entah sudah berapa kali ia tinggal kelas. Karena memiliki hobby serupa kami kemudian jadi cepat akrab. Bahkan kemudian duduk semeja. Tiap pagi kami berebut menceritakan kembali cerita wayang yang diputar semalam. Cerita itu berlanjut lagi ketika waktu istirahat datang. Sering pula kami bertengkar jika cerita kami saling selisih gara-gara salah nama atau salah urutan cerita. Kami sama-sama keras kepala. Menurutku Jono terlalu sering salah menyebut nama. tak jarang aku merasa dia mengarang-ngarang cerita. Ceritanya asal-asalan.

Hingga suatu siang Jono memukulku karena perdebatan kami memanas dan tak satu pun dari kami mau mengalah. Aku ingat aku terjatuh di dekat sumur sekolah setelah menerima pukulan itu. Melihat aku terjatuh Jono langsung lari pulang ke rumah. Selama beberapa hari ia tak masuk sekolah. Ia mungkin takut aku atau teman-teman yang lain telah melaporkan perbuatannya ke kepala sekolah. Setelah 3 hari tak masuk aku jadi merasa khawatir. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya. Pulang sekolah, ditemani Emi yang rumahnya tak jauh dari rumah Jono aku bermaksud menyambanginya. Tapi Jono tak ada. Aku hanya mendapati ibunya yang tergolek sakit di tempat tidur. Jono katanya sedang ke rumah pamannya meminjam uang untuk beli obat. Jadi Jono tak masuk bukan karena ia baru saja memukulku. Tapi karena ibunya sakit. Aku menjadi tenang sekaligus sedih. Jono adalah anak satu-satunya. Ayah Jono sudah meninggal beberapa tahun yang lalu ditembak polisi saat melarikan diri setelah menjambret kalung di stasiun.

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja setelah menunggu sekian lama Jono tak juga kembali. Seminggu kemudian barulah Jono menampakkan dirinya kembali di kelas. Tapi ia memilih tak duduk bersamaku lagi. Ia menempati salah satu bangku kosong yang banyak terdapat di kelas kami. Mungkin ia masih tak enak hati denganku. Aku tak tahu. Aku juga merasa tak enak untuk menegurnya. Tapi yang jelas aku merasa kesepian: tak punya lagi teman berbagi cerita wayang. Sebagaimana Bagong yang tersesat di hutan dalam kaset kesayanganku itu. Ia kehilangan teman bercandanya, Petruk, Gareng dan Semar. Kejadiannya begitu cepat. Saat ia dan saudara-saudaranya mengikuti perjalanan Arjuna mereka dicegat oleh serombongan raksasa penjaga hutan keramat. Pertempuran tak terhindarkan. Meski kemudian, sebagaimana biasanya, Arjuna berhasil melewati rintangan tersebut, Bagong terpisah dari rombongannya. Ia tersesat dalam kegelapan hutan setelah lama berkejar-kejaran dengan seorang raksasa berhidung terong.

Sekali lagi ini hanya cerita asal-asalan tentang Bagong yang tersesat di hutan. Tepat tengah malam saat bulan sudah lenyap dari pandangan tertutup oleh kerimbunan daun-daun Bagong menghentikan tangis kesepiannya. Ia pasrah sepenuhnya pada kehendak sang Dalang. Dan sang Dalang mempertemukannya dengan setumpuk pakaian di balik sesemak. Bagong yang tak tahu apa lagi yang mesti dikerjakannya—juga karena dingin yang tiba-tiba datang menggigilkannya—mengenakan pakaian tersebut. Tak terjadi apa-apa. Ia hanya merasa tubuhnya menjadi hangat dan ringan. Dan wangi yang asing tiba-tiba tercium dengan tajam. Tapi Bagong tak terlalu memikirkannya. Mungkin memang itu pakaian mahal makanya jadi hangat dan wangi. Mungkin itu adalah pakaian saudagar yang dirampas oleh para begal dan kemudian ditinggalkan begitu saja di balik sesemak. Daripada pusing-pusing memikirkannya Bagong memilih tidur. Bersandar di sebuah pohon paling besar. Tak lama kemudian dengkurnya yang nyaring sudah terdengar berlomba dengan suara serangga-serangga malam. Belum sampai ia di puncak mimpi sebuah suara membangunkannya. Batara Narada datang mengusik tidurnya. Menggoyang-goyang badannya, memeluknya bahkan menciuminya. Batara Narada menangis haru karena telah menemukan Batara Guru yang berminggu-minggu dicarinya. Bagong kebingungan tapi dengan cepat berhasil menguasai keadaan. Rupanya pakaian yang dikenakannya itu adalah pakaian Batara Guru. Dan dengan memakainya tubuh Bagong menjelma Batara Guru. Persis sama bagai pinang dibelah dua. Bahkan Batara Narada yang begitu mengenal pimpinannya itu sama sekali tak menaruh curiga meski suara dan tingkah laku Batara Guru yang tengah dihadapinya itu jauh dari adat kebiasaan. Dengan senang hati Batara Guru palsu itu mau diajak pulang ke kahyangan.

Sudah bisa diduga Bagong akan membuat gara-gara di kahyangan dengan sejumlah aturan aneh bin ajaib bagi para dewa dan dewi. Tapi siapa berani melawan Batara Guru, raja bagi para dewa. Tujuh bidadari tercantik dijadikannya isteri. Sedangkan para dewa harus belajar menabuh gamelan. Para dewi wajib bisa menembang. Dan tiap malam mereka harus menghibur Batara Guru dengan menabuh gamelan Lokananta, gamelan pusaka yang tak boleh ditabuh sembarang waktu. Tapi siapa berani membantahnya. Titahnya adalah titah alam semesta. Meski satu nada membuat satu gunung di bumi meletus mereka terus menabuhnya. Mereka tak mau Batara Guru kecewa atau marah atau pergi menghilang seperti tempo hari. Lebih baik seluruh gunung di bumi meletus daripada kahyangan goncang karena ditinggalkan Batara Guru. Mereka tak mau kehilangan Batara Guru. Sama sepertiku yang tak mau kehilangan Jono.

Tapi Jono tak pernah kembali. Beberapa hari setelah ia masuk sekolah hari itu ia hilang lagi. Aku menduga karena kesehatan ibunya yang memburuk. Tapi dugaanku keliru. Beberapa hari kemudian Pak Wonggo wali kelas kami mengumumkan bahwa Jono keluar dari sekolah. Ia dan ibunya harus pergi karena rumah yang selama ini ditempati telah disita oleh bank karena hutang yang tak bisa mereka lunasi. Emi membenarkan kabar itu. Tapi ia tak tahu ke mana mereka pergi. Aku tak bisa menamai persaanku waktu itu. Semacam getun. Dan bertahan hingga bertahun-tahun.

Aku sama sekali tak pernah mendengar kabarnya. Hingga suatu kali aku baca pengumuman tentang sebuah pertunjukan wayang di sebuah balai desadi Wonosari Gunung Kidul. Ki Parjono akan membawakan lakon Bagong Dadi Guru untuk mengenang  2 tahun meninggalnya Ki Hadi Sugito. Pengumuman kecil di koran lokal itu mengusikku. Pertama karena lakonnya yang mengingatkanku pada banyak peristiwa dalam hidupku. Kedua nama dalang yang membawakan ulang lakon tersebut: Ki Parjono. Diakah orangnya? Kawanku yang menghilang itu? Aku pun memutuskan berangkat utuk menjawabnya.

Di sepanjang jalan yang berkelok-kelok menyusuri punggung Gunung Kidul pikiranku tak bisa berhenti berputar-putar. Sebelum berangkat aku sempat mencari tahu siapa sesungguhnya Ki Parjono. Dari beberapa kliping koran dan situs Pepadi—Persatuan Pedalangan Indonesia wilayah Gunung Kidul aku menemukan sosoknya. Tak terlalu terang karena memang tak banyak dibicarakan. Dia adalah seorang dalang muda dari Nglipar. Bukan keturunan dalang sebagaimana dalang lain biasaya. Ia belajar otodidak dari kaset-kaset wayang yang dimilikinya: kaset-kaset wayang Ki Hadi Sugito, dalang yang begitu dikaguminya. Hingga konon gaya pedalangannya sangat mirip dengan almarhum.

Tapi apakah dia adalah Jono teman kecilku itu? Aku tetap tak tahu sebelum sampai ke sana dan melihat sendiri sosoknya. Tak ada foto secuilpun dalam sumber-sumber tersebut yang bisa membantu untuk meredakan pertanyaanku.

Pertunjukan sudah dimulai saat aku tiba di lokasi pertunjukan. Cukup ramai juga penonton yang datang malam itu. Dari kejauhan aku sudah mendengar suara ki dalang. Ternyata benar berita yang kubaca di koran, suaranya sangat mirip dengan Ki Hadi Sugito. Gaya bicaranya, gaya bahasanya, cengkok sulukannya hampir-hampir tak bisa kubedakan lagi dengan dalang dari masa kecilku itu. Aku menerobos maju ke dekat panggung, menyelinap di sesela penonton yang berjubel. Aku penasaran ingin segera melihat wajahnya. Dan memastikan bahwa ia bukan atau adalah temanku yang hilang dulu. Jono.

Aku berhasil berdiri tepat di gigir panggung, di sebelah kanan dalang. Ki Parjono sudah tampak dengan jelas di hadapanku. Tapi tetap saja aku susah memastikannya. Dengan pakaian busana Jawa yang lengkap seperti itu aku susah mengenalinya. 20 tahun tak bertemu semakin menyulitkanku untuk mengenali wajahnya. Ia dengan tenang terus memainkan wayangnya. Aku menyimaknya dengan hati yang kacau.

Batara Guru palsu semakin menjadi-jadi ulahnya. Penonton tertawa terbahak-bahak. Apalagi ketika kemudian Batara Guru itu bertemu dengan Batara Guru yang sesugguhnya, yang saat itu tengah menyamar menjadi seorang resi jahat yang mendukung pihak Kurawa. Resi Gurundeya itu dihajarnya hingga lari terbirit-birit. Terjadi adegan kejar-kejaran yang seru. Resi Gurundeya mencari Semar untuk meminta perlindungan. Batara Guru palsu mengejarnya. Semar mengutus Gareng dan Petruk untuk menghadapinya. Begitu berhadapan penonton langsung terbahak-bahak. Gareng dan Petruk langsung mengenali Bagong yang bersembunyi di balik tubuh Batara Guru. Mereka mengenal dari bau tubuhnya. Gareng dan Petruk yakin Batara Guru yang tengah mengamuk itu adalah Bagong yang beberapa waktu tertinggal di tengah hutan. Tapi Bagong tak mau mengaku. Dan pertempuran yang seru dan lucu pun segera terjadi. Dan sebagaimana seharusnya Batara Guru jadi-jadian itu kalah. Penonton bersorak lega dan gembira.

Mungkin hanya aku yang tak bisa bernafas lega. Aku segera mengejar Ki Parjono sesuai ia memainkan sepasang wayang golek untuk menutup pertunjukan.  Jika dalam jarak yang dekat mungkin aku akan segera mengenalinya jika memang benar dia adalah Jono. Sebagaimana Gareng dan Petruk mengenali Bagong yang sudah lama hilang.

Jon! Aku nekat memanggilnya. Jika salah aku akan segera minta maaf sembari menyampaikan ucapan selamat atas pertunjukannya. Jika benar aku akan segera melepas rinduku.

Ki Parjono menoleh. Dalam keremangan cahaya subuh wajahnya tak terlalu jelas kulihat. Ki Parjono terpaku. Ia tampak juga tengah berusaha mengenaliku. Aku tak ingat berapa lama kami saling diam memandang. Tahu-tahu ia berlari ke arahku. Memelukku.

Pagi itu juga aku turun ke Jogja dengan hati yang tenang dan lega. Perasaanku segar sebagaimana pagi yang bersinar. Aku dan Jono sempat ngobrol sebentar sebelum ia dan rombongannya pulang. Kami tertawa mengenang kejadian di masa lalu. Pagi itu aku baru tahu bahwa dulu Jono tak punya radio. Ia hanya mendengar lamat-lamat dari radio tetangga sebelahnya. Karenanya ia sering salah nama dan salah cerita ketika berbagi cerita wayang denganku. Kadang ia juga tak mendengar siaran wayang jika si empunya radio tak menyetelnya. Tapi karena tak mau kalah denganku, ia tetap mengaku mendengarnya dan terpaksa mengarang cerita. Pantas saja kami sering bertengkar. Aku ingin segera sampai di rumah dan mengarang sebuah cerita: Jono Dadi Dalang.

Jogjakarta, 2011

Mbak Mendut

Di jalan Bugisan Jogja dulu ada sebuah warung rokok. Kecil dan seadanya, berdiri di atas trotoar jalan. Sebuah warung berbentuk gerobak dengan 2 roda sepeda gembos terpasang di kedua sisinya. Tak ada yang istimewa dari warung itu, tak beda dengan warung-warung rokok lainnya. Rokok yang dijual pun rokok biasa yang dengan mudah kaudapatkan di warung lainnya. Yang istimewa adalah penjualnya. Namanya Mendut. Aku memanggilnya Mbak Mendut. Asli pesisir katanya. Datang ke Jogja karena sebuah kecelakaan. Kecelakaan dalam tanda kutip.

Ini semua sebuah kesalahan, Mas, katanya pada suatu sore saat aku membeli sebungkus rokok kretek di warungnya. Harusnya saya masih di kampung menunggu para nelayan pulang membawa ikan. Sore-sore seperti ini sepantasnya saya merajut jala di teras rumah. Mungkin pula saya tengah menunggu suami saya, seorang nelayan muda yang gagah pulang dari laut. Sore-sore seperti ini tak selayaknya saya ngobrol berdua bareng Sampeyan. Di pinggir jalan pula.

Acara membeli rokok yang mestinya cuma sebentar bisa menjadi lama, tertahan oleh ceritanya yang serupa air sungai. Mengalir tak pernah habis. Menuju samudra yang begitu dirindukannya.

Mbak Mendut datang kurang lebih setahun yang lalu. Dibawa oleh seseorang lelaki bernama Alap-Alap. Pemuda dari kota Jogja itu berjanji akan memberinya pekerjaan.

Sebenarnya saya nggak mau, Mas. Tapi bapak maksa. Adik-adik masih kecil dan butuh duit buat sekolah. Maka ikutlah saya dengan Mas Alap-Alap bersama dengan beberapa gadis lain dari kampung saya. O ya, Teluk Cikal nama kampung saya. Kampung nelayan kecil di tepi Pantura. Kami dibawa naik bis ke Jogja. Setengah hari kami baru sampai di kota ini karena bis itu harus mampir ke banyak kampung lain. Mengambil gadis-gadis seusia kami. Saya diam saja sepanjang perjalanan. Pikiran saya penuh dengan bayangan-bayangan yang menakutkan. Perasaan saya mendukung pikiran saya. Jadinya tubuh saya dipenuhi ketakutan. Keringat dingin tumbuh di sekujur tubuh saya. Leher, dada, punggung dan ketiak saya basah oleh keringat. Badan saya serasa pliket, lengket, pengen rasanya segera mandi air yang segar. Tapi perjalanan tampaknya masih jauh. Tak mungkin saya menghentikan laju bis. Bahkan ketika saya hampir tak kuat menahan pipis. Siapa pula saya ini. Bis baru berhenti ketika Mas Alap-Alap menghendakinya. Mampir di pom bensin. Atau berhenti di warung kopi. Tapi kami tak turun. Kami tak berani turun. Kecuali terpaksa harus pipis di WC umum yang banyak terdapat di pom bensin. Sepasang mata Mas Alap-Alap memang mirip burung Alap-Alap. Mengawasi kami dengan tajam.

Aku kenal Mendut belum terlalu lama. Sejak gerobak warungnya nongkrong di tepi jalan yang tak jauh dari rumahku beberapa bulan yang lalu aku sama sekali tak pernah mampir ke ke sana. Jika membutuhkan rokok aku biasanya ke warung kelontong Samidi langgananku. Atau kalau tidak aku akan pergi ke Indomaret yang berdiri persis di seberangnya. Atau kalau tidak ya ke Alfamart di sebelah Indomaret. Warung rokoknya yang mungil hanya kulewati saja. Aku bahkan tak pernah benar-benar menyadari kehadirannya. Beberapa pemuda tanggung yang nongkrong di sekitar warung juga membuatku semakin malas mampir ke sana.

Hingga di sebuah malam.  Persis tengah malam aku kehabisan rokok—ini sebuah bencana bagiku—dan terpaksa harus mampir ke warungnya lantaran seluruh warung di sekitarku telah tutup. Samidi biasa tutup pintu warung pukul sebelas malam. Demikian juga dengan Indomaret dan Alfamart di seberangnya, mereka tutup setengah jam sebelum Samidi. Yang tersisa hanyalah warung-warung Indomie. Ada juga rokok di sana. Tapi mereka hanya mau menjualnya eceran, batang per batang. Tentu saja jatuhnya lebih mahal jika aku membeli satu bungkus sekaligus. Akhirnya dengan enggan aku mampir ke warung Mbak Mendut. Tumben sepi. Tak ada satu pun pemuda yang nongkrong di dekat warungnya. Mungkin karena hujan atau apa. Aku lupa. Malam itu hujan atau tidak. Aku hanya ingat malam itu begitu sepi. Dingin memaksaku mengenakan jaket dan berjalan pelan menuju warung Mbak Mendut. Hanya dingin dan sepi yang tertanam dalam ingatanku. Selebihnya adalah wajah Mbak Mendut. Sepenuhnya. Wajah yang mengingatkanku pada pantai yang jauh, pada ombak lautan, pada cakrawala yang membentang tak tersentuh. Wajah yang membuatku gemetar setiap kali mengingatnya.

Tiba-tiba saja aku mengutuk diriku sendiri yang selama ini menyia-nyiakannya. Diriku yang berlalu lalang di depan warungnya tanpa pernah menoleh sedikit pun. Bagaimana bisa gadis serupa Mbak Mendut tak kusadari kehadirannya selama ini. Malam itu aku tak bisa tidur. Sebungkus rokok yang kubeli darinya sama sekali tak menarik perhatianku.

Mendut dalam bahasa Jawa berarti kenyal, mengeper, atau manggut-manggut, bisa juga berarti penganan yang dibuat dari tepung ketan yang diisi dengan unti (kelapa parut yang diberi gula jawa) lalu dikukus dengan daun pisang. Tapi bagiku Mendut  adalah sesuatu yang tak keras tapi juga tak empuk. Ia berada di antara keduanya. Ia seperti sesuatu yang belum jadi. Seperti sebuah perjalanan—dan kita tak tahu menuju ke mana. Dan pertemuanku dengan Mbak Mendut membuat perasaanku terus bergerak seperti tengah menempuh sebuah perjalanan.

Tumbas rokok, kataku. Tak ada jawaban dari dalam gerobak rokok itu. Tumbas rokok, kataku sekali lagi. Lebih keras. Tetap tak ada jawaban. Aku melongok ke dalam gerobak. Tak ada siapa-siapa ternyata. Gerobak itu kosong. Tiba-tiba saja entah karena apa bulu tengkukku berdesir. Ada angin berhembus pelan di belakang punggungku. Oh, sepi benar-benar telah menjadi. Dan menjadikanku benar-benar merasa seorang sendiri. Baru saja aku memutuskan untuk berbalik dan pergi sebuah suara menyapaku: rokok apa, Mas? Suara itu datang tepat dari belakangku. Dengan kaget aku berbalik. Kali ini bukan karena takut. Tapi malu. Seperti pencuri kecil yang tertangkap tangan. Atau seorang pengintip yang ketahuan. Gelagapan aku menjawab, Samsu kretek, Mbak. Berapa? Sahutnya cepat sambil bergerak masuk ke dalam gerobak warungnya. Satu. Jawabku tak kalah cepat. Satu apa? Satu batang atau satu bungkus? Ia lebih cepat lagi. Kini aku dapat melihat dengan jelas wajahnya. Wajah yang membuatku takjub dan tak bisa segera menjawab pertanyaannya. Satu batang atau satu bungkus? Tanyanya sekali lagi membuyarkan ketakjubanku. Eh.. satu bungkus, Mbak.

Ia tersenyum. Lagi banyak pikiran ya, Mas? Tanyanya sambil menyerahkan sebungkus kretek Samsu. Ah, enggak kok. Jawabku kagok. Ya, mikir Sampeyan itu, Mbak, batinku. Senyum Sampeyan itu lho, Mbak. Seperti perahu kecil yang mengambang tenang di laut pasang. Pikiranku terus bergerak hingga lupa memerintahkan tanganku merogoh dompet di saku celana. Sepuluh ribu tiga ratus, Mas. Perahu mungil itu bergerak pelan dengan indahnya. Tenang tapi menghancurkan pikiranku. Membuatku tergopoh-gopoh merogoh dompet di saku celana. Sepuluh ribu berapa, Mbak? Tanyaku beneran karena aku sama sekali tak mendengar dengar jelas harga yang disebutkannya. Tiga ratus. Jawabnya. Masih dengan senyum yang sama tapi dengan makna yang berbeda menurutku. Senyum jengkel mungkin. Senyum yang sebentar lagi mungkin akan berubah menjadi serangai yang menakutkan.

Aku menyerahkan uang sebesar sebelas ribu kepadanya. Dengan cepat ia menerima lembaran uangku dan mencari kembaliannya. Maaf receh ya, Mas. Katanya sambil menyerahkan kembalian. Gak apa-apa, Mbak. Aku mencoba tersenyum. Baru saja aku mau bilang terimakasih untuk menutup percakapan dan segera beranjak pergi ia telah memotong dengan pertanyaan: Mas yang tinggal di sanggar teater itu ya? Pertanyaan itu sangat mengagetkanku. Eh, iya, Mbak. Jawabku agak malu. Ia mengenalku dan aku tak mengenalnya. Sungguh tak sopan rasanya. Nama saya Mendut, Mas Gunawan. Gubrak. Seluruh hal tiba-tiba runtuh menimpaku. Ia bahkan tahu namaku. Gusti Allah! Eh, kok tahu? Sahutku sekenanya. Ia tersenyum. Ya, sebagai orang baru saya harus cepat mengenal semua yang ada di sini. Yang datang lebih dulu dari saya. Jawabnya dengan enteng. Seenteng senyumnya malam itu.

Sebagian dari diriku ingin segera pergi dari dari hadapannya. Secepat mungkin. Tak kuat rasanya menanggung seluruh kehancuran diriku di muka warung rokoknya. Tapi ada bagian diriku yang lain yang justru tak mau beranjak pergi. Ingin tetap di sana. Selama-lamanya. Edan. Dan aku harus mendamaikan keduanya—di bawah tatapan Mbak Mendut yang serupa bintang kembar.

Gak apa-apa, Mas. Saya bukan siapa-siapa kok. Tak perlu Sampeyan merasa bersalah. Toh sekarang kita sudah saling kenal. Ia terus nyerocos sambil seolah membaca pikiranku. Aku tak tahu dengan persis kalimat apa lagi yang keluar dari mulutnya. Seluruh diriku tak berada di sana. Entah di mana. Yang jelas tak berada di hadapan Mbak Mendut. Aku tak tahu berapa lama seluruh diriku berangsur kembali dari pelariannya. Lama rasanya. Sampai akhir aku bisa menutup perkenalan itu sebaik yang aku bisa dan pulang. Meninggal sepasang bintang dan sebuah perahu nelayan di kejauhan dengan gamang.

Sampai di Jogja Mbak Mendut dan teman-temannya diserahkan kepada seseorang bernama Wiraguna. Seeorang lelaki tua berusia hampir 70 tahun. Lalu Alap-Alap pun hilang tak kelihatan lagi batang hidungnya. Terbang entah ke mana.

Oleh Wiraguna mereka ditempatkan di sebuah asrama. Atau barak lebih tepatnya. Selama belum mendapatkan pekerjaan mereka harus tinggal di sana, tidur berdesakan di sebuah ruangan semacam bangsal yang di kompleks rumah Wiraguna. Mereka juga tak boleh keluar dari pagar rumah Wiraguna. Tidak enak dengan tetangga, begitu penjelasan Wiraguna. Ia takut dikira penyalur tenaga kerja liar. Padahal niatnya cuma ingin membantu saja. Begitulah yang berkali-kali dikatakan oleh Wiraguna. Seluruh kebutuhan mereka disediakan oleh Wiraguna dan beberapa orang pembantunya. Juga pekerjaan, konon Pak Wira sendiri yang mencarikannya. Ia punya banyak koneksi, katanya.

Sebenarnya Pak Wira meminta saya untuk tidur di rumah utama, bukan di bangsal bersama teman-teman saya, kata Mbak Mendut suatu sore kepadaku. Ada kamar kosong yang bisa saya pakai kata Pak Wira. Tawaran ini khusus buat kamu, bukan buat yang lain, kata Pak Wira lagi. Tapi saya nggak mau, Mas. Gak enak sama teman-teman yang lain. Terlebih lagi pada diri saya sendiri. Mosok saya tidur di sana. Di kamar yang sama sekali bukan hak saya. Dengan halus saya menolaknya. Lho, memangnya Pak Wira nggak punya isteri? Tanyaku. Mbak Mendut menggeleng. Katanya sudah meninggal 5 tahun yang lalu, Mas. Tapi nggak tahulah. Sebab kata Jondil, pembantunya, meskipun Nyonya Wiraguna sudah meninggal Pak Wira masih punya banyak isteri, tapi semuanya simpanan. Entah disimpan di mana. Priyayi kaya raya seperti dia mungkin saja melakukannya. Kata Jondil Pak Wiraguna seneng sama saya. Pengen saya jadi isterinya yang resmi. Terus terang saja saya nggak percaya. Mosok priyayi Mataram seperti dia jatuh cinta sama saya, cewek dari kampung nelayan yang miskin. Jelek dan amis. Apa gak akan membuatnya turun derajat. Didandani kayak apa saja saya itu gak pantes dibawa ke kondangan. Mbak Mendut tertawa. Mungkin ia merasa geli dengan bayangan-bayangannya sendiri. Aku pun ikut tertawa. Tapi bukan karena membayangkan Mbak Mendut yang tak pantas mendampingi Wiraguna. Aku tertawa pada kepolosannya. Orang cantik sesungguhnya tak tahu kalau dirinya cantik. Dan orang cantik tak perlu apa pun untuk mempercantik dirinya.

Tapi Pak Wira tak putus asa untuk membujuk saya, Mas. Hampir tiap hari ia kembali menawarkan kebaikannya. Sampai suatu kali ia menyampaikan perasaannya. Ia jatuh cinta pada saya. Priyayi Mataram itu jatuh cinta pada gadis pesisir seperti saya. Saya bingung bagaimana mesti menjawabnya. Apa saya berhak menjawab? Akhirnya terus terang saya bilang kepadanya bahwa saya masih ingin sendiri. Saya datang ke Jogja untuk mencari kerja, bukan mencari suami. Wajahnya merah padam, Mas. Mungkin baru kali itu ia mendapat penolakan. Tapi ia tak meledak marah. Hanya diam dan menatap mata saya dalam-dalam. saya melihat kesedihan di sana. Kesedihan yang menyala-nyala dan siap membakar apa saja. saya gemetar, Mas. Bukan karena takut.

Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau menjadi isteri saya. Kamu tetap boleh tinggal di sini sampai kamu mendapatkan pekerjaanmu. Tapi tak ada yang gratis di dunia ini. Tak ada yang percuma. Mulai besok kamu harus membayar seluruh biaya yang sudah aku keluarkan. Semuanya. Termasuk uang yang sudah aku bayarkan pada Alap-Alap. Kalimat-kalimat itu meluncur dengan tenang dan dingin dari mulut Pak Wira. Hampir tanpa tekanan. Datar saja. Tapi bagi saya kalimat itu seperti pisau yang menusuk dada saya berulang. Dari mana saya mesti membayar itu semua. Saya sama sekali tak memegang uang. Pekerjaan yang dijanjikan pun tak tak jelas kapan datang. Dan bisa saja Pak Wira menunda-nunda pekerjaan itu sampai akhirnya saya menyerah dan mau menjadi isterinya.

Aku geram mendengar cerita Mbak Mendut. Ingin sekali aku bertemu dengan orang bernama Wiraguna itu dan memukulinya.

Malam itu saya tak bisa tidur. Pikiran saya ke mana-mana. Ingin rasanya saya kabur dari penjara Pak Wira tapi bagaimana caranya. Tembok itu begitu tinggi. Dan saya tahu, beberapa anak buah Pak Wira diam-diam mengawasi kami dari kegelapan. Pernah sekali kejadian, salah seorang dari kami mencoba pergi dari rumah itu. Ia berhasil melompat pagar tembok itu. Tapi tak berapa lama ia sudah kembali bersama kami. Dengan wajah babak belur. Sejak malam itu kami tahu bahwa hidup kami berada di tangan Pak Wira. Pikiran saya melayang ke kampung halaman. Menyaksikan bapak dan adik-adik saya. Menyaksikan teman-teman saya. Menyaksikan masa lalu saya. Lalu saya jatuh tertidur. Lelah dengan bayangan-bayaangan yang beredar dalam kepala saya barangkali.

Paginya saya bangun. Seperti ada sebuah keberanian menyusup ke dalam dada saya, membangunkan saya dengan kesegarannya. Setelah mandi saya datang ke rumah utama. Mengetuk pintu rumah Pak Wira tanpa ragu. Ia membuka pintunya lebar-lebar. Dengan senyum yang lebar pula. Wajahnya seperti jenderal yang baru saja memenangkan sebuah pertempuran. Saya menatap matanya. Pagi itu saya merasa seperti kuda liar dari Sumba. Kuda liar yang lapar. Dan Pak Wira tak ubahnya rumput hijau sebuah padang yang baru saya temukan. Tahu-tahu sudah saya lumat bibirnya yang tebal dan kering itu. Batin saya meringkik sekeras-kerasnya. Saya desak tubuhnya ke daun pintu. Dan saya habiskan rumput hijau yang tiba-tiba tumbuh di mulutnya.

Ah, susah sekali membayangkan kejadian itu. Membayangkan Mbak Mendut melayani nafsu bandot tua seperti Wiraguna. Terus terang ini bagian yang paling tak kusukai dari cerita-ceritanya. Bagian yang akan kuhapus jika kelak aku menulis kisah hidupnya.

Lalu saya pergi, Mas. Meninggalkannya pagi itu juga. Ia hanya bisa membiarkan punggung saya meninggalkannya pelan-pelan. Seluruh tenaganya habis saya kuras. Saya lega bisa terbebas darinya. Sepasang tangan saya seperti berubah menjadi sayap Garuda. Tapi saya tahu ia kembali mengejar saya. Lelaki seperti Wiraguna tak akan pernah putus asa. Mbak Mendut ketemu lagi dengan Wiraguna? Mbak Mendut tersenyum. Mas Gun, ini baru awal dari kisah saya, katanya sambil menyerah sebungkus rokok samsu ke tanganku.

Keesokan harinya saat aku hendak membeli rokok di warungnya aku kaget bukan kepalang. Banyak orang berkerumun di sekitar warungnya. Beberapa polisi tampak berjaga di sana. Jantungku berdetak makin kencang. Segera aku mempercepat langkahku menuju kerumunan orang-orang itu. Ada apa, Pak? Ada apa? Aku bertanya kepada salah seorang dari mereka. Pembunuhan, katanya. Siapa?

Mendut!

Mbak Mendut ditemukan tewas di warung rokoknya. Sebuah peluru melubangi kepalanya. Berita tentang terbunuhnya penjual rokok bernama Mendut muncul di koran-koran lokal hari berikutnya. Polisi dikabarkan masih terus mencari pelakunya. Sempat juga terdengar kabar polisi tengah mencari seseorang bernama Pranacitra. Pemuda itu dicurigai sebagai pembunuh Mbak Mendut. Tapi sampai sekarang tak terdengar lagi kabar beritanya. Pembunuh Mbak Mendut tak pernah diketemukan. Warung rokok itu pun tak ada lagi. Dibakar oleh warga sekitar. Agar hantu Mbak Mendut pergi dari sini, kata orang-orang. Tapi Mbak Mendut tak pernah pergi. Aku tahu. Ia ada di tiap batang rokok yang aku hisap. Ia menari di kepulan asap yang kuhembuskan pelan dari mulutku.

 

 

Jogjakarta, 2011

 

Dipublikasikan di Koran Tempo, 19 Pebruari 2012