Khima

Hari ini hari minggu dan aku harus bercerita padamu:

Perampok itu bernama Lubdaka. Ia hanya tak tahu kenapa bisa ada di surga. “Aku hanya melempar daun-daun maja ke telaga. Tak lebih.” Tapi ia kadung masuk surga. “Aku tak bisa membaca dan sama sekali tak kenal dengan Siwa. Surga? Aku baru saja tahu dan tiba-tiba sudah berada di dalamnya.” O, Lubdaka yang malang.

Kita tinggalkan Lubdaka yang masih bertanya-tanya, aku pingin mengenalkanmu pada Khima, seorang perempuan buta yang pandai memainkan sitar.

Jalan setapak dengan jajaran pohon jati muda. Jika kau ikuti jalan itu, sekitar tiga kilometer, kau akan menemukan sebuah perkampungan kecil. Tapi jangan coba-coba lewat ketika musim ulat jati tengah berkuasa. Kau akan menginjak binatang-binatang kecil itu dengan telapak kakimu, atau biarkan bocah-bocah itu mengumpulkannya dalam tabung-tabung bambu mereka. Sorenya mereka akan membakar ulat-ulat itu lalu menyantapnya dengan lahap. Entah bagaimana rasanya, mungkin kau tak perlu bertanya, lihat saja wajah mereka yang berkeringat itu, kupikir itu sudah cukup menjawab pertanyaanmu. Ikuti saja jalan kecil yang seolah tak akan menuju ke mana-mana itu. Kau tak akan mengira ada sebuah kampung kecil di ujung jalan sana. Ingat, tak ada sinyal untuk ponsel genitmu itu.

Di kampung dengan 40 kepala keluarga inilah, Khima lahir, dibesarkan dan kelak ditemukan mati teraniaya. Seluruh warga kampung ini bersaudara, kecuali tiga rumah di ujung, di dekat jalan kecil yang akan mengantarmu ke belik kecil. Mereka berasal dari luar kampung ini, datang beberapa tahun yang silam, dari sebuah kota yang belum pernah kau dengar namanya. Warga asli menyebutnya saudara jauh, bahkan kata Wa Mukmuk, tetua kampung, mereka semua berasal dari darah yang sama dengan warga setempat. Ia mengatakan hal itu tiga hari setelah kedatangan rombongan dari kota itu. Mereka semua berjumlah tujuh orang, tapi tiga hari kemudian jumlah itu berkurang karena salah seorang dari mereka hilang di tengah hutan ketika sedang mencari kayu untuk mendirikan rumah. Seluruh warga mengadakan selamatan malam harinya, untuk seseorang yang baru saja mereka kenal. Mereka mendendangkan lagu kematian dengan bersahut-sahutan yang sepintas akan mirip dengan suara ribuan gagak di padang terbuka.

Di sebuah jeda, Lasa, satu-satunya perempuan di antara para pendatang itu, atas nama laki-laki yang hilang, mengucapkan terimakasih. Dengan mata yang seperti akan jatuh ke tanah kapan saja, ia melukiskan betapa dalam ia mencintai laki-laki yang hilang itu. Bahwa mereka berencana segera menikah begitu menemukan sebidang tanah di mana mereka bisa mendirikan rumah. Di akhir kalimat, dengan nada yang tanggung antara sedih dan senang, ia mengabarkan kehamilannya. Warga menyambut kabar itu sebagai tanda untuk menaikkan irama lagu. Lagu yang sama, dengan perasaan yang sedikit berbeda. Wa Mukmuk menutup acara dengan membacakan sebuah lontar yang baru saja dituliskannya.

Khima sudah buta sejak dilahirkan. Lasa sama sekali tidak terkejut ketika mendapati anaknya lahir dengan mata yang indah tapi sama sekali tak dapat melihat apa-apa. Lasa sudah tahu sebelumnya. Wa Mukmuk sudah memberi kabar duka itu ketika kandungan Lasa berusia tujuh bulan.

“Anakmu tak akan pernah melihatmu. Meski demikian, rawatlah ia dengan baik. Ia satu-satunya orang yang bisa menghibur kesedihan kita dengan cara yang indah.”

Kabar bahwa anak Lasa akan lahir dengan “tak pernah melihat ibunya” itu menyebar dengan cepat. Hampir setiap malam menuju kelahiran Khima, warga bergantian berjaga di rumah Lasa. Khima akan menjadi warga pertama yang tak akan pernah melihat ibunya. Mereka berjaga untuk hal-hal yang bisa jadi akan membatalkannya.

Bayi perempuan itu lahir cacat dengan selamat. Seluruh kepala keluarga bergantian menggendongnya sebagai tanda bahwa Khima diterima sebagai warga baru. Beberapa ibu segera bersepakat bahwa Khima memiliki mata yang paling indah dari seluruh pasang mata yang ada di kampung ini. Demikianlah, Khima tumbuh dengan perhatian yang luar biasa dari seluruh warga. Setiap perkembangan dalam proses pertumbuhan Khima menjadi bahan percakapan yang tiada habisnya. Mereka sama sekali belum pernah melihat orang buta, dan tak habis pikir bagaimana seorang buta tumbuh dan berkembang.

“Khima sudah bisa tersenyum. Ia tersenyum ketika mendengar langkah kakiku mendekat. Ia mulai mengenaliku.”

“Ia mulai memegang benda-benda. Jempol tanganku tak dilepaskannya. Ia tertawa ketika kusentuh hidungnya.”

“Bagaimana ia bisa mengenali kita? Tapi ia tahu yang mana ibunya. Kemarin aku menggendongnya, tiba-tiba saja ia menangis keras. Lalu Lasa menenangkannya. Khima tenang dan mulai meraba-raba susu ibunya.”

Tapi Lasa berharap perhatian itu tak akan bertahan lama. Ia sudah banyak terbantu sekaligus terganggu oleh perhatian besar saudara-saudaranya itu. Ia ingin mereka segera bisa menerima kehadiran Khima dengan wajar. Dan saat yang dinanti itu segera tiba saat Khima berusia 5 tahun. Khima sudah jadi biasa di mata mereka. Mereka sama sekali tak khawatir melihat Khima berjalan sendirian menyusuri jalan setapak menuju belik kecil. Mereka tak heran ketika tiba-tiba saja Khima memanggil nama mereka dengan baik dan benar waktu berpapasan di jalan. Tak ada lagi yang mengejutkan dari Khima. Segera Khima menempati sebuah ruang yang sepi dan tak terusik. Ia jadi suka menyendiri. Menikmatinya.

Tak ada lagi yang bisa diceritakan tentang Khima, selain ia tumbuh menjadi seorang gadis cantik dengan sepasang mata yang indah. Bahkan tak ada yang bertanya: kapan Khima akan dipinang seorang lelaki.

Sampai suatu malam Lasa berteriak-teriak, “Tolong! Khima hilang. Khima tak pulang!” Dan seketika berkumpullah seluruh warga di depan rumah Khima. Wa Mukmuk yang renta tampak berusaha menenangkan Lasa yang panik.

“Tenang, anakku. Aku lupa bilang bahwa kelak anakmu akan hilang. Tenang. Ia akan segera pulang.”

Para lelaki berjalan menyusuri hutan-hutan yang melingkungi perkampungan itu. Nama Khima diteriakkan berulang-ulang seakan menebus kesalahan mereka karena telah melupakan nama itu selama ini. Di balai para ibu berdoa, membunyikan tabuhan dan bergantian menjaga nyala api di setiap sudut yang gelap.

“Siang tadi aku masih melihatnya melamun di tepian belik. Ketika aku pulang ia masih berada di sana.”

“Aku sempat berpapasan dengannya di jalan kecil yang menuju hutan. Katanya ia akan ke hutan mencari jamur. Sudah lama ia tak makan jamur.”

“Kenapa kau biarkan ia sendirian ke tengah hutan? Aku dengar gerombolan Lubdaka sudah mulai merambah hutan-hutan di sekeliling kita.”

“Jamur-jamur itu letaknya tak terlalu jauh, lagi pula perampok-perampok itu tak akan berani menampakkan diri di siang hari.”

Hingga hari ketiga Khima tak juga pulang. Para lelaki telah berulangkali menyisir hutan. Mereka hanya menemukan bekas-bekas perapian yang mungkin ditinggalkan para perambah hutan atau gerombolan perampok. Sedang Khima tak meninggalkan apa-apa. Sudah tiga pagi para lelaki itu pulang dengan wajah lelah dan bersalah.

Tapi di manakah Khima sesungguhnya? Tak ada yang tahu. Tak ada yang benar-benar tahu. Atau katakanlah ini bagian gelap dari hidup Khima. Sesungguhnya aku telah mengarang sebuah cerita untuk menutup bagian ini, tapi kurasa itu tak akan membantu terlalu banyak.[i] Jika masih ada waktu akan kuceritakan kepadamu.

Tepat memasuki hari keempat menghilang, Khima pulang. Seluruh warga yang hampir putus asa seperti tak tahu harus bagaimana menyikapi kedatangan Khima yang serasa seperti baru saja pulang dari belik kecil. Semuanya diam, mengikuti langkah-langkah Khima menuju rumahnya. Perempuan buta itu demikian tenang, tak ada yang berubah dari dirinya, ia seperti tak pernah hilang sebelumnya. Yang cukup membedakan dirinya sebelum dan sesudah hilang adalah sebuah sitar dalam bungkusan kain putih yang digendongnya. Semula beberapa orang menyangka Khima menggendong balok kayu, ada pula yang mengira seorang bayi dan tak ada seorang pun yang membayangkan sebuah sitar. Wa Mukmuk pun seperti seorang murid SD yang baru belajar membaca.

Khima berdiri tegak di depan rumahnya seperti mencoba memastikan apakah benar ia telah berada di sana. Lasa sebenarnya ingin berlari memeluknya, tapi tiba-tiba saja ia merasa itu bukan tindakan yang tepat. Yang tepat saat ini adalah, sebagaimana seluruh warga kampung, menanti apa yang akan dilakukan Khima.

Sejurus kemudian, Khima mulai berkata, pelan, seperti tak yakin pada pilihan-pilihan kalimatnya, “Bunda, maafkan Khima. Khima sudah membuat hati Bunda cemas. Tapi kini Khima sudah pulang. Tak usah Bunda tanyakan dari mana Khima. Maaf, Khima juga tak tahu jawabannya…”

Sepertinya kalimat itu belum selesai, tapi Khima buru-buru menurunkan benda yang digendongnya dan meletakkannya di tanah. Warga kampung menajamkan pengelihatannya pada sebuah benda yang sejak tadi mereka herankan. Khima melepas bungkus sitar itu dengan cepat, seolah itu satu-satunya pertanggungjawaban yang bisa ia berikan atas seluruh kecemasan warga kampung. Belum lagi para warga menamatkan penglihatannya, Khima telah menjentikkan jari-jarinya, menarikannya dengan lincah di dawai-dawai sitar.

Sebuah lagu dimainkan. Lagu yang membawa seluruh penduduk kampung menapaki jalan setapak yang entah menuju ke mana. Mereka menyaksikan jajaran pohon jati yang makin lama makin jarang dan makin bertambah tua. Lagu itu memaksa mereka mengusung sebuah keranda dalam barisan panjang kesedihan yang tak tertata. Seperti lagu terakhir di televisi, laiknya.

“Khima, dari mana kau mendapatkannya?” Wa Mukmuk seperti tak percaya pada usianya. Tapi Khima semakin tenggelam dalam petikan sitarnya. “Dewa mana yang mengajarkan lagu itu padamu?” Para pejalan dan jalan setapak, tak jelas lagi siapa yang melintas dan dilintasi. Tak terang lagi siapa yang harus bertanggung jawab atas imaji terpatah-patah dan parah ini. Mungkin aku, di hari Minggu yang lain. Tapi Khima sudah tak berada di tempatnya.[ii] Kelak ia akan ditemukan seorang gadis di tepi telaga dengan leher koyak.

Sudahlah. Kini nampaknya kau harus sedikit mengenal Lubdaka yang melempar daun-daun maja ke tengah telaga. Matanya yang besar  dan mengerikan itu tak pernah lepas dari daun-daun maja yang terhempas dan mengambang di sana.

“Galigi, bawa sitar itu ke mari.”

Seorang lelaki kecil dengan gigi-gigi yang besar mendekati Lubdaka sambil membawa sebuah sitar.

“Seharusnya kau tak perlu membunuh gadis itu. Ia buta. Ia tak mengenal wajahmu.”

“Aku pun tak menginginkan kematiannya, Galigi. Aku hanya menginginkan sitar ini. Sitar terindah yang pernah aku lihat. Kenapa? Kau jatuh kasihan padanya?”

“Ya, ia gadis cantik yang baik. Bahkan sebelum kau membunuhnya, ia mainkan satu lagu untukmu. Petikan sitarnya membuatku tak tega melukainya.”

Lubdaka tak pernah melepas tatapan matanya pada daun-daun maja yang hampir saja menutupi seluruh permukaan telaga itu. Meneduhkan lingga Siwa yang tak pernah dikenalnya. Kurasa Siwa cukup berterimakasih untuk ketidaksengajaan yang menguntungkan itu. Ah, kebetulan, sekali lagi.

Jogjakarta, 2003


[i] Kamu tak pernah tahu namanya. Ia datang begitu saja. Nenekmu yang tahu tapi tak pernah bercerita padamu. Namanya Khima, datang dari masa ketika kamar mandimu adalah sebuah telaga. Khima gadis cantik dan menarik. Buta, pendiam dan bersuara lembut. Pandai memetik sitar. Terlalu sering ia menghabiskan sore dengan sitarnya. Tak seorang pun tahu dari mana Khima yang buta mendapatkan sitar yang begitu indah sekaligus dapat memainkannya dengan lebih indah. Khima tak pernah bercerita tentang dirinya yang tersesat sendirian di tepi hutan. Betapa ia ingin pulang ketika tak didengarnya lagi suara-suara yang dikenalnya. Betapa ia ditelan hutan yang lebih pekat ketimbang penglihatannya. Segalanya terasa lama dan hampir patah sampai didengarnya suara dawai-dawai yang dipetik begitu lembut. Khima terkesima. Alpa. Dan tubuhnya terasa demikian ringan.

Menarilah, Khima. Lepaskan tubuhmu. Menarilah!

Lagu itu membimbing tangannya, kakinya, lehernya, pinggulnya dan seluruh persendiannya bergerak. Seluruh bentuk yang dimungkinkan tubuh dijelajah dengan penuh gairah. Kadang seturut irama yang disediakan bunyi dawai-dawai, kadang lepas sekehendak hatinya. Kadang di antara keduanya. Kadang garang terkadang tenang. Tubuh Khima mengkilap oleh keringat yang terbaca sebagai cahaya.

Di puncak gerak, dengan ketenangan yang luar biasa, Khima berkata, “Ajari saya memainkan apa yang tengah anda mainkan.”

“Tak ada yang bisa kuajarkan, Khima. Mainkan saja jemarimu.” Suara itu terdengar tepat di antara kedua telinga Khima. Tak kalah indah dibanding petikan dawainya.

“Jika demikian, ijinkan saya memiliki apa yang anda mainkan.”

“Bawalah pulang, mainkanlah dia, karena dialah yang bisa membawamu pulang.”

“Terimakasih.”

Khima menganjurkan kedua belah tangannya ke depan. Dirasakannya sebuah benda bulat dan bergagang sedang di telapak tangannya.

Jemari Khima meraba dawai-dawai. Persentuhan spontan itu menghasilkan denting nyaring yang menggetarkan hati siapa saja.

Singkat cerita Khima berhasil pulang dengan selamat dibimbing lagu-lagu yang dihasilkan sitarnya.

Tapi di tengah hutan Khima lupa bertanya siapa nama dewa yang baik itu.

[ii] Sejak sanggup memainkan sitar, perasaan bersalah mengutuk seluruh kehidupan Khima selanjutnya. Hidupnya setelah sanggup memainkan sitar. Perasaan itu makin menjadi-jadi setelah di sebuah malam yang hujannya sangat deras, ia bermimpi. Sesosok tubuh berbalut kabut cahaya yang merah lemah menghampirinya. Khima tak tahu mahluk apa yang demikian lembut dan kejam yang telah hadir dihadapannya. Ia hanya merasakan sebuah kemarahan yang tertahan. Bagi yang tidak buta dan mengenal cahaya dia adalah perpaduan yang sempurna antara burung dan manusia. Tubuh bagian atas, dari sedikit bawah pusar sampai ujung kepala, adalah tubuh lelaki yang sempurna. Halus sekaligus menyimpan perbawa. Sedang sisa tubuhnya yang lain adalah gabungan kemolekan merak dan kejantanan elang.

Khima hanya bisa memeluk sitarnya erat-erat.

“Apa kabar, Khima? Kau mengenal suaraku, bukan?” Suara itu seperti suara yang beberapa hari lewat berada di antara kedua telinganya. Bedanya, kali ini terasa menyakitkan dan mengancam.

“Namaku Kinnara. Kau lupa menanyakannya, bukan? Kurasa ini bukan soal yang sederhana. Bukan soal seseorang lupa menaruh dompetnya di mana. Kemarahan telah membawaku ke hadapanmu. Ia tidak menerima kesalahan yang kau lakukan kepadaku. Maka, Khima, terkutuklah seluruh hidupmu!

“Aku menginginkan sitarku kembali tapi sayang aku tak bisa mengambil apa yang telah kurelakan menjadi milikmu. Maka terkutuklah ia bersamamu!

“Kelak jika angin utara telah berhenti mengembara akan datang pengantara yang akan mengambil sitarku kembali. Demikian, Khima, aku mesti pergi.” Sosok itu lenyap. Tinggal Khima dan kegelapan yang tak bisa apa-apa.

Pagi sehabis kedatangan Kinnara, Khima adalah gadis paling murung di seluruh kampung-kampung. Kerap kali ia hanya duduk dengan wajah tertunduk sepanjang hari. Rambutnya yang terurai panjang tak kuasa menutup kesedihan di wajahnya. Ia semakin diam sampai akhirnya memutuskan untuk terus memainkan sitar hingga hari yang dijanjikan tiba. Akhirnya di hari di mana angin selatan dan angin utara bertemu seorang gadis berteriak ketakutan ketika mendapati tubuh Khima tergeletak kaku di tepi telaga dengan leher koyak.

Bunga Api

Aku menanam pohon pisang di sepasang tanganmu, ketela di dua kakimu, jagung di bibirmu, kelapa di kepalamu, aren di kemaluanmu, padi di sesela rambutmu, pepaya dan semangka di bulu-bulu tubuhmu.

Aku perintahkan hujan semusim menjengukmu. Memastikan kamu baik-baik saja.

Tenanglah, tidurlah. Telah kutitahkan tiga lelaki tua menjagamu dari burung gelatik Anjala yang merindukan bau tubuhmu. Burung-burung yang datang dari timur laut yang mengitari bumi dalam semusim. Semoga saja mereka tak mampu mengganggu tidurmu. Sebab telah kupatahkan dahan-dahan aren yang memungkinkan mereka hinggap di dekatmu (Ah, getah harumnya membangkitkan seleraku). Jadi diamlah sampai saatnya tiba. Saat kamu kembali kepadaku dan tak kuasa menolak cintaku.

Seluruh kisah ini bermula dari cahaya sebesar lidi jantan yang datang dari dasar lautan. Cahaya itu seketika membutakan mataku. Keparat. Telah kuperintahkan Temburu turun ke dasar laut mencari tahu apa yang tengah terjadi.

Kudengar langkah Temburu mendekat.

Apa yang kautemukan, Temburu?

“Di dasar laut seorang lelaki tengah bertapa. Sedemikian kuat tapanya hingga laut kehilangan seluruh ombaknya. Dari genggaman tangannya melesat seberkas cahaya yang membutakan mata Anda.”

Cari tahu siapa dia. Bawa seluruh dewa yang ada untuk membatalkan tapanya!

Temburu berlalu.

Bau harum menyergapku diam-diam. Uma. Jari-jari tangannya mengusap lembut kedua kantung mataku.

“Kau berdebar-debar, Suamiku.”

Sesuatu bakal terjadi. Dan aku tak tahu sejauh mana itu akan mengganggu.  Tapi tenanglah, Uma. Kita tunggu saja.

Uma memelukku dari belakang. Dagunya bersandar di bahuku. Tapi aku tak merasakan denyar apa-apa. Ada yang telah pergi. Tak tahu sejak kapan.

Serombongan langkah kaki mendekat. Aku mendengar getar ketakutan di sela-selanya.

Kalian telah gagal. Pergilah sebelum aku sempat meludah!

Lalu sepi. Uma juga telah pergi.

Andini, bawa aku pergi!

Aku melayang di punggung Andini melintasi jutaan tahun cahaya.

Di dasar laut kami bertemu. Kupanggil dia kakak. Lalu ia mengusap mataku mengembalikan seluruh cahaya yang pernah kumiliki. Dan kami berpelukan seperti dua saudara yang telah berpisah sejak lahir.

Namanya Kaneka. Wajahnya bulat seperti bayi. Segar seperti semangka. Ia suka sekali tertawa. Hampir setiap kalimatnya mengandung tawa. Aku sungguh terhibur. Aku menepuk punggungnya berkali-kali karena tak sanggup menahan bahagia.

Tiga hari tiga malam kami bercakap tentang banyak hal. Percakapan yang luar biasa. Tiga hari tiga malam tanpa sekejap pun waktu yang terlewat, terjerat di antara dua mulut kami. Belum pernah aku menemukan teman bercakap yang sama sekali tak membosankan seperti Kaneka. Hanya satu hal yang membuatku terganggu sejauh ini. Adalah telapak tangan kirinya, yang memancarkan cahaya yang pernah membutakan mataku, tergenggam erat tanpa mengendur sedikit pun.

“Adik ingin tahu apa yang ada dalam genggaman tangan kiriku?”

Ia bertanya tepat ketika aku memikirkan tangan kirinya. Aku tak tahu harus menjawab apa selain mengiyakan dengan perasaan yang tak nyaman.

“Bawalah aku pulang ke rumahmu. Di sana mungkin kita bisa melanjutkan percakapan dengan lebih nyaman.”

Sekali lagi ia membuatku terpukul. Bukankah seharusnya sedari kemarin aku menawarinya singgah ke rumah?

Dengan senang hati, Kakak. Kupersilakan Kakak mengunjungi rumahku. Aku berharap Kakak betah dan bersedia tinggal di sana selamanya.

Di punggung Andini seluruh keceriaannya tiba-tiba hilang. Wajahnya menjadi pucat dan keringat dingin mengalir dari anak-anak rambutnya. Aku mencari setan mana yang telah mengganggunya. Tapi tak satu hal pun yang bisa kukutuk. Andini melayang dengan kecepatan yang seharusnya. Udara demikian terbuka dan langit berwarna sesuai dengan keinginanku.

Di langit ketiga kuhentikan Andini. Sapi itu memilih hinggap di sebuah bintang yang mati.

“Tak apa-apa, Adik. Lanjutkan saja perjalanan. Aku tak apa-apa. Aku hanya takut ketinggian.”

Aku hampir saja meledakkan tawaku tapi segera kuurungkan demi kesopanan dan rasa hormatku padanya.

“Itulah kenapa aku memilih tinggal di dasar laut.”

Di Balai Pandang, di mana biasanya aku memandang seluruh dunia, kami menghabiskan sore. Keceriaan Kaneka telah sepenuhnya kembali. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya dengan jenaka ketika menggambarkan sebuah peristiwa yang menurutnya lucu dan tak masuk akal. Ia bahkan tak sungkan berguling-guling di lantai balai saat tak sanggup menahan tawanya. Tapi tetap saja telapak tangan kirinya tergenggam erat seperti sebuah cacat sejak lahir.

“Aku menyebutnya Bunga Api, Adik.” Mimiknya berubah serius. Bangsat, ia selalu tahu jika aku tengah memikirkan tangan kirinya.

“Kau akan terbebas dari rasa lapar dan kantuk. Tidak basah oleh air dan tak akan mampu terbakar api jika memilikinya.”

Aku tak kuasa menahan rasa ingin tahuku.

Bolehkah adik melihatnya barang sekejap?

Ia menggerak-gerakkan bibirnya dengan berat. Menatapku dengan pandangan yang tak bisa kubaca.

“Bukalah telapak tanganmu. Kupinjamkan Bunga Api ini sejenak untukmu. Hati-hati, Adik. Ia licin dan tajam. Aku takut tanganmu terluka.”

Aku segera membuka tanganku untuk meyakinkannya. Keraguannya sedikit berkurang. Dengan hati-hati diletakkannya tangan kirinya di telapak tangan kananku. Sebuah benda yang tak bisa kuduga bentuknya terasa menyentuh kulit telapak tanganku. Sang Hyang, ia lunak dan keras sekaligus. Panas dan dingin di saat yang bersamaan. Kukerahkan seluruh dunia yang berdiam dalam kepalaku untuk memaknai kehadirannya. Kugulung kembali benang yang kurentang semenjak ada. Mencarinya. Dan sia-sia. Keparat. Ia di luar kuasaku. Pandanganku berkunang-kunang. Seluruh tubuhku bergetar seperti kupu-kupu sekarat.

Telapak tangan Kaneka masih menempel erat di telapak tanganku. Seperti tak rela Bunga Api sendirian bersamaku.

Lepaskan, Kakak. Biar adik sendiri bersamanya. Sebentar saja seperti kau tak pernah melepaskan tanganmu dariku!

Kata-kata itu terbata. Terpatah-patah mirip sebuah igauan dari entah. Aku hanya merasa kedua gigi taringku membesar dan Kaneka melepaskan tangannya dengan seluruh perasaan bersalah yang pernah ada.

Sebentar saja. Kau tak akan bisa merasakannya. Tapi seluruh bencana yang lahir bersamaku datang lagi lewat celah sempit yang tak akan kausadari ini.

Semua orang bertepuk tangan. Mereka tak tahu baru saja melewatkan sebuah tragedi paling mengharukan yang pernah terjadi.

Aku hanya tahu Kaneka menangis sejadi-jadinya. Meledak-ledak dan tak akan bisa kauredam dengan cara apa pun. Sesekali ia berhenti dan menudingkan telunjuknya kepadaku. Aku tak sanggup menatap matanya yang mungkin sudah seperti lautan. Kedua tanganku tak berdaya. Terasa tak ada pada letaknya semula.

Kuceritakan padamu: Bunga Api sudah tak ada lagi. Ia tergelincir jatuh tepat saat Kaneka berniat melepaskan tangannya, baru saja.

Dewa-dewi, mungkin karena lolongan Kaneka, keluar dari kayangannya. Tapi tak satu pun berani mendekat. Juga Uma. Ia hanya terpaku di anak tangga balai. Matanya menatap lantai.

Semuanya masih seperti mimpi bagiku. Rangkaian peristiwa berjalan lambat. Datar tanpa tekanan. Suara-suara terendam dalam air dingin. Seperti tak pernah ada angin.

Baru ketika Kaneka berteriak, “Bodoh! Diam saja!” Aku terbangun dan mendapati telapak tangan kananku pucat pasi. Kaneka telah melesat pergi mengejar Bunga Api yang masih menyisakan selarik cahaya tipis di kejauhan. Sementara aku masih belum sanggup sepenuhnya menguasai diriku. Dengan lirih kuperintahkan Temburu dan beberapa dewa mengejar Kaneka dan membantunya.

Uma membimbingku pulang sambil berbisik berulang  kali: lupakan… lupakan…

Seekor naga tertidur di depan pintu kamarku. Begitu pulas hingga tak menyadari kehadiran kami. Uma merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Naga itu menggeliat beberapakali kemudian melanjutkan tidurnya kembali. Mungkin habis menempuh perjalanan yang jauh. Sebenarnya aku tak mau mengganggu tidurnya. Tapi Uma terus mendesakku.

Naga, bangun. Kau menghalangi jalan kami!

Naga itu menggeliat lagi, menegakkan kepalanya sebentar, kemudian tidur lagi. Kami seolah sepasang nyamuk yang hanya mampu sedikit mengusiknya. Tepat saat aku akan menghancurkan kepalanya yang menyebalkan itu, Kaneka dan dewa-dewa telah kembali.

“Sebentar, Adik. Naga setan itu urusanku!” Kaneka menyeruak dan berkacak pinggang di depan naga yang masih juga tidur dengan pulas itu.

“Antaboga! Kembalikan Bunga Apiku!”

Naga itu menguap. Seperti mengigau.

“Cari saja sendiri… Mmmhh.”

Kaneka bergetar oleh marah yang tak lagi tertampung oleh tubuhnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi ia segera masuk dengan cepat ke mulut naga yang masih menganga. Diaduk-aduknya perut naga itu dengan kasarnya. Tapi Bunga Api seperti tak pernah ada. Kaneka keluar sambil bersungut-sungut.

“Aku tahu kau menelannya, Antaboga. Ayolah, jangan main-main!”

Antaboga membuka matanya. Ia menatap Kaneka seperti menatap kupu-kupu yang hinggap di cuping hidungnya.

“Jangan marah-marah, Kaneka. Bunga Apimu itu yang kurang ajar. Aku lagi enak-enak nguap dia nyelonong masuk.”

“Ya, sudah. Cepat  kembalikan. Dia bukan milikmu.”

“Sabar, Kaneka, sabar. Bagaimana jika kukatakan Bunga Apimu itu sudah bersatu dengan jantungku?”

Tak ada yang mau mengalah. Terpaksa aku harus melerai perdebatan yang sepertinya tak akan pernah selesai ini.

Antaboga. Kaneka. Berhentilah. Semua ini karena kebodohanku. Bunga Api itu luput dari genggamanku. Jadi biarlah aku yang meminta kembali Bunga Api itu.

Antaboga membuka mulutnya dengan tenang. Sebuah cupu kecil menggelincir di lidahnya yang penuh liur dengan cepat. Aku segera menangkapnya sebelum terjatuh ke lantai.

“Bunga Api ada di dalam cupu itu.”

Aku berusaha membuka tutupnya. Tapi katup cupu kecil itu bergeming. Ia tak bergeser sedikit pun. Kucoba beberapa kali. Tak ada yang berubah.

Kaneka meminta ijin untuk turut mencoba. Sama saja. Setiap kali dicoba cupu itu seperti semakin tak bisa dibuka.

Aku dan Kaneka menatap Antaboga. Tetapi naga itu cuma menggelengkan kepalanya.

“Aku hanya sekadar memilikinya. Tapi soal membuka atau menutupnya aku juga tak tahu.”

Kuminta kembali cupu itu dari tangan Kaneka. Kugenggam cupu itu di tangan kananku. Aku sama sekali tak tahu apa yang mesti kulakukan. Tiba-tiba, entah atas alasan apa, kubanting cupu itu keras-keras ke lantai.

Sebuah ledakan yang sangat keras mengejutkan kami. Kami terlontar beberapa tombak. Asap tebal berwarna-warni mengepung pengelihatan kami untuk sementara waktu. Hingga kemudian terdengar tangisan bayi lamat-lamat dari arah bekas ledakan.

Kuperintahkan asap tebal itu menyingkir. Dan di hadapan kami berdiri sebuah balai dengan seorang bayi yang menangis di dalamnya. Aku melihat mata Kaneka, mencoba mencari tahu pendapatnya. Tapi kulihat ia juga mencari hal yang sama di mataku. Antaboga sudah pergi entah sejak kapan. Kuperintahkan Uma memasuki balai untuk mengambil bayi itu.

“Cupu itu berubah jadi balai. Dan bayi itu adalah jelmaan Bunga Api. Sepertinya begitulah yang terjadi, Adik.” Kaneka bergumam tak yakin.

Bayi itu adalah kamu. Yang tumbuh dengan cepat mengalahkan kecantikan tujuh bidadari. Yang membuatku segera meninggalkan Uma begitu saja. Tapi kepalamu sekeras cupu yang dulu menyembunyikanmu.

“Aku mau jadi istrimu jika kausediakan pakaian yang sepanjang masa tak akan pernah rusak. Makanan yang sekali kumakan membuatku tak akan mengenal rasa lapar. Dan sepasang gamelan yang tak pernah berhenti memainkan lagu yang begitu kurindukan.”

Aku tak tahu apakah itu sebuah teka-teki atau permintaan. Atau sebuah penolakan. Karena putus asa kupanggil Kala untuk mencari dengan cepat seluruh syarat yang kamuinginkan. Kujanjikan padanya jika ia bisa, ia akan menjadi dewa kesayangan, seluruh keinginannya tak terbantahkan.

Tapi Kala, sekali lagi Kala, belum apa-apa ia sudah minta seluruh dewa menyembah kakinya. Dewa-dewa marah dan Wisnu mengutuknya jadi celeng. Lalu kudengar kabar ia mati ditusuk bambu runcing di tengah sawah. Darahnya meleleh menjelma belalang busuk yang akan mengganggu penciumanmu. Menyebar bau semacam terbakar jika kamu berada di dekatnya.

Seluruh hari telah berubah menjadi namamu, Kekasih. Sementara Uma mengutuk dirinya sendiri menjadi Durga. Membusuk di hutan-hutan. Menghadang pejalan-pejalan yang kesepian.

Di Balai Marakata, balai jadi-jadian cupu yang dulu mengurungmu, kamu mengurung dirimu sendiri. Kala tak akan pernah kembali, ia telah memulai pertarungannya dengan manusia, melupakan seluruh hal yang telah kupesankan kepadanya. Jadi satu-satunya yang bisa kulakukan untuk mendapatkanmu adalah dengan memaksamu. Menunggumu tanpa henti di muka balai sambil kuturunkan dengan deras hujan bunga-bunga. Kamu akan melihatnya di jendela. Melihat betapa aku mencintaimu.

Hari itu kemudian datang. Hari di mana kamu membuka pintu untukku. Saat itu kita sudah tak punya apa-apa lagi, bahkan sekadar kata untuk memaknai pertemuan. Kamu hanya memelukku erat-erat. Aku menepuk-nepuk punggungmu dan menciumi keningmu berulang-ulang. Hujan bunga-bunga membeku, berhenti pada tempatnya. Angin mati dan cahaya hanya bertahan di sekitar tubuh kita. Kita terus berpelukan hingga diam-diam kusadari kamu sudah lama pergi. Kamu memelukku hanya untuk mati.

Kuminta Kaneka menguburmu di tepi sebuah hutan. Lalu kutanam pohon pisang di sepasang tanganmu, ketela di dua kakimu, jagung di bibirmu, kelapa di kepalamu, aren di kemaluanmu, padi di sesela rambutmu, pepaya dan semangka di bulu-bulu tubuhmu.

Kutanam seluruh hal yang bisa tumbuh dan mengingatkanku padamu.

Jogjakarta, 2004

Jangan Bilang-bilang Kala

Jangan bilang-bilang Kala kalau kami[i] ada di sini, di dalam tabung bambu di halaman rumahmu. Ia hendak memangsa kami hidup-hidup.

Tadi sore ibu menyuruh kami mandi di telaga Madirda. Katanya biar hidup kami selamat dunia akhirat. Sekali pun hanya satu selaman, mandilah kalian di telaga Madirda, biar tak ada aral yang melintang di jalan kalian, begitu katanya. Kami mau saja mandi, tapi tolong, Ibu, rebuslah jagung tua buat kami, buat makanan kami sehabis mandi. Ibu setuju. Lalu pergi ke ladang jagung. Kami pun segera berangkat ke telaga Madirda.

Di telaga Madirda, ketika kami bersiap melompat ke dalamnya, kami lihat ada seorang raksasa sedang berendam. Kami tak jadi mandi dan hendak pergi. Tapi raksasa itu buru-buru memanggil kami. Heh, Bocah-bocah, mau kemana kalian! Kami mau pergi, kata kami, tadinya kami mau mandi. Raksasa itu bangun dari telaga. Siapa kalian? Suaranya menakutkan kami. Ka-ka-kami disuruh mandi di sini. Supaya hidup kami selamat. Raksasa itu tertawa. Namaku Kala. Kalau mau selamat jangan masuk ke telaga, masuk saja ke dalam perutku, ha-ha-ha! Ia mengacungkan goloknya. Kami lari ketakutan. Ia mengejar kami.

Kala sudah sampai di pagar rumahmu. Celaka, ia tahu kami ada di sini. Untunglah ia kesulitan masuk ke tabung bambu. Kami masih sempat meloloskan diri. Ia mengutukmu yang telah meletakkan tabung bambu di halaman rumah. Makanmu akan berkurang satu genggam setiap hari sampai kami tertangkap. Maafkan kami.

Kami berlari mengitari halaman rumahmu. Kami melompat-lompat di ubi jalar yang kautanam di sepanjang pagar. Kaki Kala terjerat akar-akar ubi, ia jatuh terjerembab. Ia mengutukmu sekali lagi. Menyuruh hantu-hantu berjaga di tanaman yang kautanam di sepanjang pagar itu.

Kami berlari ke belakang rumahmu. Ada banyak orang di sana. Rupanya tukang-tukang bangunan yang sedang memperbaiki atap rumahmu. Kami berbaur dengan para tukang, pura-pura ikut bekerja. Kala tak bisa apa-apa, ia tak bisa mengganggu orang-orang lain selain kami. Ia cuma bisa berteriak-teriak menyuruh tukang-tukangmu pergi supaya bisa menangkap kami. Tapi tukang-tukangmu tak peduli. Mereka terus bekerja. Kami bersembunyi di balik tiang yang belum jadi. Karena tak sabar Kala menerobos masuk ke tengah rumah. Kami meloncat pergi. Tiang roboh dan Kala tertimpa rumah. Ia bangun sambil menyumpah-nyumpah. Barang siapa membangun rumah dan tidak segera mengatapinya, rejekinya akan berkurang setiap hari sampai kami tertangkap. Maafkan kami sekali lagi.

Kami berlari ke arah dapur rumahmu. Di depan pintu ada pipisan dan batu gilingan di atasnya. Isterimu yang cantik ada di kebun. Ia sedang mengambil rempah-rempah dan umbi-umbian yang hendak dipipisnya menjadi jamu. Kami sembunyi di balik batu pipisan. Tapi tetap saja Kala tahu di mana kami berada. Penciumannya sangat tajam. Tapi ia tak berani mendekati batu pipisan. Batu pipisan adalah alat pembuat obat dan ia tak boleh mengganggunya jika tak mau kena kutuk. Jadi ia hanya menunggu sambil memanggil-manggil isterimu supaya mengusir kami. Isterimu tak peduli. Kala melompat ke atas batu pipisan. Sialnya ia terpeleset batu gilingan dan jatuh ke tanah. Kami melesat pergi. Ia marah-marah, mengutuk isterimu yang telah meletakkan batu pipisan di depan pintu. Keuntungannya akan berkurang setiap hari sampai kami tertangkap.

Kami masuk ke dapur. Nenekmu sedang menanak nasi. Ia lalu pergi sambil berpesan kepada kakekmu supaya menjaga api. Kakekmu mengiyakan tapi kemudian asyik membuat wayang dari rumputan. Kami berjongkok di depan tungku menjaga api supaya tidak mati. Kala tak berani mengganggu kami. Ia tak boleh mengganggu orang yang sedang menanak nasi. Ia lalu mencari nenekmu dan memintanya  mengusir kami. Tapi nenekmu sudah tuli. Kala nekat masuk ke dapur. Ia menerkam. Untunglah kami sempat menghindar. Kala yang malang, ia menabrak dandang nasi. Dandang itu menggelimpang di tanah. Nasi setengah matang berceceran. Kala menjerit, memegang kepalanya yang kepanasan.

Nenekmu datang dan mendapati dandang menggelimpang dan penyok. Ia bertanya pada kakekmu apa yang telah terjadi. Kakekmu ketakutan. Ia mengira bencana akan datang. Ia lalu menyuruh nenekmu telanjang dan menari-nari berkeliling rumah tiga kali. Kakekmu mengiringinya dengan memukul-mukul perkakas dapur. Kala yang sedang kesakitan merasa terhina. Dikiranya kakek-nenekmu sedang mengejek kesialannya. Ia lalu menyumpah sebagaimana sumpah-sumpahnya sebelumnya.

Matahari belum sepenuhnya terbenam. Di barat masih tersisa sedikit cahaya. Kami berlari ke jalan di sebelah barat rumahmu. Di serambi rumah kulihat isterimu, kenapa wajahnya pucat sekali, duduk menunggumu pulang dari sawah. Biasanya, begitu kau datang, ia segera bangkit dan menyambutmu. Ia akan membentangkan ujung kainnya untuk menerima buah-buahan yang kaubawa pulang. Sedang tangan kanannya mengambil belut-belut yang kaurangkai di ujung tangkai paculmu yang terbuat dari kayu aren sepanjang sembilan kepalamu itu.

Tapi kau tak segera datang. Ia menguap begitu lebar, capek menunggumu. Kami segera masuk ke mulut isterimu, bersembunyi di sana. Kala kebingungan mencari kami di sepanjang jalan sebelah barat rumahmu. Ia mengutukmu sekali lagi. Mengutukmu yang membuat jalan di sebelah barat rumah. Juga serambi rumah dan perempuan yang duduk di muka pintu saat matahari tenggelam.

Jangan bilang-bilang Kala kami ada di dalam mulut isterimu. Kami akan menunggu hingga malam tiba. Menunggu pertunjukan wayang di desa sebelah dimulai. Dalangnya dalang Kandabuwana. Hanya ia yang bisa menyelamatkan kami. Hanya ia yang sanggup membaca tanda-tanda di tubuh Kala. Begitulah yang kami dengar dari kabar-kabar.

Pertunjukan wayang itu sesungguhnya bukan untuk kami. Ki Buyut Wangkeng hanya memenuhi kemanjaan anak perempuannya, Rara Primpen. Lelaki tua bermata kedelai itu tak tega melihat kemalangan Ki Buyut Geduwal. Menantunya yang berperawakan seperti Togog itu, gemuk dan bermulut besar, baru saja mengadukan keburukan isterinya dengan airmata bercucuran. Diceritakanlah bagaimana perlakuan Rara Primpen yang sama sekali tak hormat pada suaminya. Suaminya minta kopi malah disiram kopi. Minta air degan diberi air selokan. Dan tak sekali pun, sejak malam pertama, Rara Primpen mau diajak ke ranjang.

Ki Buyut Wangkeng bertanya pada anaknya, anaknya tak menjawab malah balik bertanya kenapa ia dikawinkan dengan lelaki yang buruk rupa. Kedua biji mata sebesar kacang kedelai itu menerawang, entah apa yang tengah diterawangnya. Mungkin anak perempuan semata wayangnya.

Anakku, ujarnya dengan mata yang tak berubah. Kita ini orang kecil, ya sudah selayaknya kau berjodoh dengannya, sesama orang kecil. Jika kau tetap tak bisa menerima, kau bukan lagi anakku, suamimulah anakku yang sesungguhnya.

Menangislah Rara Primpen sekeras-kerasnya. Kata-kata ayahnya yang tenang dan lembut itu mampu melukai hatinya. Akhirnya ia menuruti ayahnya dengan syarat pertunjukan wayang semalam suntuk. Maka berangkatlah Ki Buyut Geduwal sendirian mencari dalang.

Pertunjukan sudah hampir mulai, Saudara kami yang baik hati. Kaudengar gamelan sudah ditabuh? Selamat tinggal. Terimakasih atas segalanya.

Di sepanjang jalan menuju rumah Ki Buyut Wangkeng berjajar para pedagang menggelar beragam jajanan. Seandainya kami tidak sedang jadi buronan tentu kami akan singgah sebentar, sekadar beli gulali atau sate gajih yang baunya menyebar ke seluruh penjuru desa Medang Tamtu. Kami segera menuju rumah Ki Buyut Wangkeng. Pertunjukan sudah hampir mulai ketika kami sampai. Rara Primpen, dengan kain limar katangi, kemben hijau, bersanggul ukel gondel berondongan bertusuk konde bunga taluki, tengah menghaturkan sejumlah sesajian kepada Ki Dalang. Sesajian itu terdiri dari kain tujuh helai, peti kayu kecil berisi empatpuluh buah cotton bud, buah kenari imitasi dari emas, pisau, kunci peti (dibawa dengan tangan kiri), karangan bunga, kain cita, kalung, bunga melati, bunga gambir, argula kuning dan merah, bedak wangi, minyak kelapa, sirih dan rokok (dibawa dengan tangan kanan). Kemudian Rara Primpen menabur bunga di sekeliling Ki Dalang. Ki Dalang menganggukkan kepalanya menandai dimulainya pertunjukan. Malam itu ia akan melakonkan Manikmaya.

Kami segera menyusup di antara para musisi. Ikut menabuh gamelan dan bernyanyi. Kami begitu bersuka hati. Kala tak berani mendekat, tentu saja. Ia hanya bersandar di pohon kelapa di seberang halaman Ki Buyut Wangkeng. Pohon kelapa sampai melengkung dibuatnya. Lengkungan itu akan bertahan hingga akhir jaman.

Sudah tengah malam. Dalang Kandabuwana menancapkan kayonnya dalam-dalam ke batang pisang. Ia lalu mengheningkan cipta sejenak sebelum kemudian merapal semacam kecemasan:

Eka adalah satu adalah bumi tempat mahluk hidup dan dihidupi. Dwi adalah dua adalah sawah tempat tumbuhan tumbuh. Tri adalah tiga adalah air rumah para ikan. Catur adalah empat adalah angkasa rumah bangsa burung. Panca adalah lima adalah gunung yang mengukuhkan semesta. Sad adalah enam adalah manusia penata dunia. Sapta adalah tujuh adalah raja manusia nabi di bumi. Hasta adalah delapan adalah pendeta yang tekun bertapa. Nawa adalah sembilan adalah dewa yang dipuja manusia. Dasa adalah sepuluh adalah penanda kesempurnaan.

Bencana di musim ketiga. Bumi kehilangan seluruh dirinya, tak ada hujan, kalau pun ada ia jatuh di musim yang salah, membuat tumbuh-tumbuhan sekarat. Tanah kering rekah selebar-sedalam jurang berisi hewan melata yang berbisa. Para binatang meraung di jalan-jalan. Panas yang mengerikan tanpa tempat berteduh, mencipta kematian di mana-mana. Banyak tumbuhan tak bisa tumbuh, mati oleh sepinya air, menjerit dimangsa hewan-hewan lapar. Langkanya tumbuh-tumbuhan membuat langka makanan. Manusia-manusia menderita. Kejahatan menjadi-jadi, saling berebut kehidupan menghalalkan segala cara. Hewan-hewan air, bangsa ikan menderita di mana-mana, panas tak mendapat kesejukan. Yang kecil mati jadi mangsa yang besar, ibarat makan kawan sendiri pun bisa terjadi. Bangsa burung merintih mencari pengungsian, saling makan, hingga banyak yang mati jatuh ke tanah, berserak di mana-mana. Gunung penyangga semesta terjungkal, hingga bumi hilang keseimbangannya, kejatuhan yang mencipta sengsara. Gempa bumi terjadi, katakanlah, duapuluhsatu kali sehari, merusak keindahan dunia. Orang kebanyakan menderita, kematian menjadi-jadi, yang kuat makan yang lemah, hilanglah tatanan semesta.

Raja tak kuasa menghentikan bencana, karena hanya manusia biasa yang tak luput dari bahaya. Pendeta tekun memanjatkan doa, meminta anugrah dewa memohon lenyapnya sang bencana. Mereka berlari ke puncak-puncak gunung, menghujankan bunga-bunga, tapi bencana tak kunjung reda. Akhirnya pasrah pada dewata, hati sumarah pada Yang Kuasa, jika hendak melebur dunia. Dewa bisa sakit tapi tak bisa mati, menderita tak terkira. Sempurna sudah bencana, di langit, gelap pekat, kilat dan petir bertubi-tubi, berkelebatan, ekor Hyang Anantaboga berpusing seperti kitiran, tanduk lembu Andini, kawah Candradimuka menggelegak, meluap lahar hingga ke bumi, makin menambah kesengsaraan.

Kayon bergetar seperti hendak meledakkan seluruh kesedihannya. Ki Dalang memegang erat sang kayon seperti berusaha menenangkannya. Situasi demikian menegangkan sebab kayon tak mau begitu saja ditenangkan. Ia melesat ke sana ke mari membuat Ki Dalang bekerja keras mengendalikannya. Kelir bergoyang hebat dihantam angin yang tiba-tiba datang dari seluruh mata angin. Blencong, satu-satunya sumber cahaya, meredup dan mendekati mati. Penonton mulai gelisah. Mereka mulai kehilangan harapan atas pagi. Dengan tergesa Ki Dalang memukul keras-keras kotak wayang di sebelah kanannya. Lalu kami buru-buru memainkan lagu-lagu yang gembira, mengundang Ki Lurah Semar dan anak-anaknya bermain di pelataran mengusir sepi dan sedih yang sudah keterlaluan. Penonton lega.  Mereka bersorak gembira seolah baru lepas dari sebuah bencana. Ki Lurah Nala Gareng, Ki Lurah Petruk Kantongbolong dan Ki Lurah Bagong menari, bercanda, bernyanyi dan tertawa. Kami juga tertawa. Penonton juga tertawa. Seluruh desa tertawa. Kecuali Kala.

Kami lihat Kala masih bertahan di tempatnya. Bersandar di pohon kelapa menikmati pertunjukan di hadapannya, menikmati lelucon-lelucon segar yang tak habis-habis dari mulut Ki Dalang. Kami lihat ia tersenyum-senyum. Ha-ha, kami tahu ia berusaha keras menahan tawanya. Sebab sekali saja ia tertawa seluruh penduduk desa akan mengetahui kehadirannya. Dan rusaklah seluruh rencananya: memakan kami dan orang-orang yang senasib dengan kami.

Orang-orang masih terus tertawa. Beberapa sudah mulai memegang perutnya yang kejang, beberapa berlari terburu ke balik pohon guna membuang air kencing, beberapa memilih berguling-guling di tanah atau menepuk-nepuk bahu teman di sampingnya sambil terus terpingkal-pingkal. Bagi mereka, Dalang Kandabuwana adalah orang paling lucu yang pernah mereka temui selama ini, penghibur sejati yang mampu melipur lara mereka dengan cara yang sempurna. Sambil tertawa kami menabuh gamelan, memenuhi permintaan lagu dari para penonton maupun para punakawan. Di seberang, Kala tampak berusaha keras menahan tawanya. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dan tubuhnya bergetar oleh tawa yang berusaha keras lepas dari tahanan.

Dan dar! Sebuah ledakan terdengar disusul rentetan tawa yang menggelegar. Tawa para penonton berubah jadi jerit kepanikan. Mereka berlesatan ke sana ke mari mencari selamat. Pertunjukan berhenti begitu saja. Kini hanya tinggal kami dan Ki Dalang yang masih bertahan di halaman rumah Ki Buyut Wangkeng. Dan tentu saja Kala, penyebab gara-gara yang baru saja terjadi. Kami tahu ledakan yang baru saja terdengar seperti gunung meletus itu adalah kentut Kala. Tawa yang tertahan itu tentu meloloskan dirinya lewat lobang pantat.

Kala tengah dikuasai oleh tawanya. Ia terbahak-bahak dan minta Ki Dalang melanjutkan pertunjukan. Ia bersedia membayar berapa pun ongkos pertunjukan yang diminta Ki Dalang. Tapi Ki Dalang tidak mau menerima bayaran dalam bentuk uang atau apa pun selain golok yang ada di genggaman Kala. Kami tahu, pertarungan antara Ki Dalang Kandabuwana dan Kala sudah dimulai. Kala setuju dengan syarat selesai pertunjukan golok itu boleh dimintanya kembali. Ki Dalang sepakat dan ia melanjutkan pertunjukan. Kami, dengan senyum kemenangan, kembali menabuh gamelan.

Beberapa saat setelah Ki Dalang melanjutkan cerita, dua orang menyelinap di sesela kami dan ikut menabuh gamelan. Wajah dua orang itu tampak pucat dan berkeringat. Mereka kelihatan gelisah dan seperti ketakutan jika dilihat orang. Kami tak terlalu mempedulikan mereka. Toh, lambat atau cepat kami akan tahu siapa mereka.

Memang benar demikian, Saudara kami. Beberapa saat kemudian salah satu dari mereka mulai memperkenalkan diri. Mereka bernama Pentung Luyung dan Jugil Awarawar. Mereka adalah pencuri yang baru saja lolos dari kejaran peronda. Semula mereka berempat, tetapi begitu ketahuan oleh para peronda ketika mereka tengah melakukan aksinya, dua orang kawannya yang lain, Kutila dan Langkir, menghilang entah ke mana. Mereka adalah kelompok pencuri yang paling ditakuti oleh orang-orang yang berada. Kutila bertugas menentukan sasaran, Jugil Awarawar bertugas membuat jalan masuk ke rumah korban, Pentung Luyung berjaga-jaga atas seluruh kemungkinan yang bisa menggagalkan usaha mereka dan Langkir bertugas membawa lari hasil curian.

Adegan perang kembang sudah lama lewat. Kini hanya tinggal kesedihan yang memeluk seluruh tubuh kami dengan dingin. Suluk-suluk yang dilantunkan Ki Dalang adalah sebuah tangisan panjang yang tak habis-habis di telinga kami. Tak ada yang bisa meredakannya, begitulah kelihatannya. Dan kantuk datang bagai wabah yang tak terbantah oleh apa saja. Juga oleh Kala. Ia bahkan sudah jatuh tertidur sedari tadi.

Ki Dalang melempar dua butir telur ayam ke mulut Kala yang setengah terbuka. Ia terbangun dan geragapan mendapati hari sudah mendekati pagi. Ia pamit kepada Ki Dalang. Katanya mau keluar sebentar. Ki Dalang membiarkannya berlalu dan mengambil dua buah boneka dari dalam kotak. Sepasang boneka laki-laki dan perempuan itu ditarikannya. Mengajak kami mengingat kembali rentetan peristiwa yang telah sepanjang malam dihadirkannya. Tapi kami memilih pergi. Kala sudah tak mengancam kami lagi.

Kami melangkah dengan tenang melewati jalan-jalan desa yang dingin dan lengang. Sesekali kami berhenti untuk menikmati pagi dan burung-burung. Lalu kami melanjutkan perjalanan lagi.

Menapaki jalan-jalan di sepanjang tubuh Kala.

Jangan bilang-bilang.

Jogjakarta, November 2004

Catatan:

Cerita ini berangkat dari Murwakala dan Ruwatan dalam serat Centhini, versi Kyai Demang Reditanaya, versi Raden Mas Citrakusuma dan versi S. Padmosoekotjo.


[i] Kami adalah anak-anak yang lahir tanpa saudara, lahir kembar, lahir berdua, lahir bertiga yang tengah-tengah laki-laki, lahir bertiga yang tengah-tengah perempuan, lahir berempat semuanya laki-laki, lahir berempat semuanya perempuan, lahir berempat salah satunya laki-laki, lahir berempat salah satunya perempuan, lahir berlima laki-laki semua, lahir berlima perempuan semua, lahir berlima salah satunya laki-laki, lahir berlima salah satunya perempuan, lahir ketika desa kami menggelar wayang kulit, lahir dalam bungkusan, lahir jam duabelas siang, lahir saat matahari terbenam, lahir saat matahari terbit, lahir terlilit usus, lahir berkalung usus, lahir prematur, lahir tanpa tangis, lahir dalam perjalanan dan lahir di tengah pesta.

Kami adalah anak-anak yang bertubuh kerdil, berbadan bungkuk, berkulit putih, berkulit hitam, berkulit separuh hitam separuh putih dan berkulit belang-belang.

Kami adalah orang-orang yang berjalan di tengah hari tanpa bernyanyi, pergi jauh sendirian, pergi jauh berduaan, pergi jauh bertiga, tidak menutup pintu di sore hari, membangun rumah tanpa atap, membangun rumah belum selesai tapi sudah roboh duluan, membuat wadah tanpa tutup, tidak pernah membakar kemenyan, punya balai-balai tapi tak punya tikar, punya kasur tak punya seprei, punya lumbung tak punya alas, membuat sumur di depan rumah, menjatuhkan dandang nasi, menyiapkan dandang tapi belum mencuci beras, mematahkan batu pelindas obat dan alasnya, meletakkan batu pelindas dan alasnya sembarangan dan meramu obat menghadap utara, selatan atau timur.

Kami adalah orang-orang yang tidak pernah menyapu, menyapu tengah malam, membersihkan tempat tidur dengan kain, membersihkan kasur dengan tangan, menimbun sampah, membuang sampah di kolong tempat tidur,  membuang sampah lewat jendela, berdiri di tengah-tengah pintu, bergantung di kusen pintu, bersandar di pintu, kotor dan suka bertelanjang dada, senang mengurai rambut, bertopang dagu, menggigit kuku, memotong kuku tengah malam, membersihkan gigi dengan kuku, gemar bersumpah, membohongi miliknya sendiri, senang membakar rambut, senang membakar tulang, membakar kulit bawang, membakar dahan kelor, membakar kulit pohon dadap, membakar sendok sayur, membakar kipas, membakar entong, membakar sapu lidi, membakar kayu bekas alas tidur, membuang kutu rambut hidup-hidup, membuang garam, membuang nasi berkuah, makan kembali nasi berkuah yang sudah ditinggal pergi, tidur memakai kaos kaki, memanjat pohon di tengah hari dan turun dari pohon tapi memanjat lagi pohon yang sama.

Kami adalah orang-orang yang tidur di pagi hari, tidur tengah siang, tidur di sore hari, tidur telentang, tidur telungkup, tidur berbantal baju, memukul-mukul perut tengah malam, makan sambil tiduran, makan sambil berjalan, makan dengan rambut terurai, makan nasi tapi masih panas, makan malam tanpa lampu, makan di tempat tidur, makan di tempat sepi, habis makan tidak cuci tangan, makan pakai sendok dari daun dan tidak menyobeknya setelah selesai, menyimpan piring kotor, membiarkan nasi basi, menyimpan kerak nasi, mencari kutu tengah malam, mencari kutu di rambut tengah malam, senang berjemur dan berdiang di dekat api, bikin kandang hewan di dalam rumah, duduk beralas bantal atau guling, mengusap wajah dengan baju atau jarik, mengusap bibir dengan baju atau jarik, sehabis makan memegang jarik dan   menyobek bungkusan.

Kami adalah orang-orang yang mencium bocah tidur, menimang bocah pada tengah malam, tengah hamil tapi menduduki penampi, membuka payung di dalam rumah, meniup serunai di dalam rumah, menaruh gulungan tikar dalam posisi berdiri, menaruh sapu lidi dalam posisi berdiri, menyimpan tikar tanpa dilipat, memanggil bapak ibu hanya dengan namanya saja, menuang air kendi ke dalam kendi yang lain, melangkahdi atas tombak, melangkah di atas dahan kelor, mengucapkan kata harimau di tengah malam, mengucapkan kata ular di tengah malam, menyimpan batu cendana di dalam rumah, bercermin sambil tertawa, bercermin sambil mengunyah makanan, membunuh kepinding tanpa mencium setelahnya, melumat telur kutu di kepala, bekerja tanpa henti sampai sore hari, bekerja lembur di malam Jumat, memasang dinding bekas, memakai bambu bekas, meludahi bayang-bayang, menanam pohon pisang emas di halaman depan dan membakar sampah di hari Jumat Legi atau Jumat Wage.