Bon Suwung (Indonesia)

Aku pingin bercerita. Panjang. Tapi apakah kamu sanggup? Aku sanggup?

Eka adalah satu adalah bumi tempat mahluk hidup dan dihidupi. Dwi adalah dua adalah sawah tempat tumbuhan tumbuh. Tri adalah tiga adalah air rumah para ikan. Catur adalah empat adalah angkasa rumah bangsa burung. Panca adalah lima adalah gunung yang mengukuhkan semesta. Sad adalah enam adalah manusia penata dunia. Sapta adalah tujuh adalah raja manusia nabi di bumi. Hasta adalah delapan adalah pendeta yang tekun bertapa. Nawa adalah sembilan adalah dewa yang dipuja manusia. Dasa adalah sepuluh adalah penanda kesempurnaan.

Bencana di musim ketiga. Bumi kehilangan seluruh dirinya, tak ada hujan, kalau pun ada ia jatuh di musim yang salah, membuat tumbuh-tumbuhan sekarat. Tanah kering rekah selebar-sedalam jurang berisi hewan melata yang berbisa. Para binatang meraung di jalan-jalan. Panas yang mengerikan tanpa tempat berteduh, mencipta kematian di mana-mana. Banyak tumbuhan tak bisa tumbuh, mati oleh sepinya air, menjerit dimangsa hewan-hewan lapar. Langkanya tumbuh-tumbuhan membuat langka makanan. Manusia-manusia menderita. Kejahatan menjadi-jadi, saling berebut kehidupan menghalalkan segala cara. Hewan-hewan air, bangsa ikan menderita di mana-mana, panas tak mendapat kesejukan. Yang kecil mati jadi mangsa yang besar, ibarat makan kawan sendiri pun bisa terjadi. Bangsa burung merintih mencari pengungsian, saling makan, hingga banyak yang mati jatuh ke tanah, berserak di mana-mana. Gunung penyangga semesta terjungkal, hingga bumi hilang keseimbangnya, kejatuhan yang mencipta sengsara. Gempa bumi terjadi, katakanlah, duapuluhsatu kali sehari, merusak keindahan dunia. Orang kebanyakan menderita, kematian menjadi-jadi, yang kuat makan yang lemah, hilanglah tatanan semesta.

Raja tak kuasa menghentikan bencana, karena hanya manusia biasa yang tak luput dari bahaya. Pendeta tekun memanjatkan doa, meminta anugrah dewa memohon lenyapnya sang bencana. Mereka berlari ke puncak-puncak gunung, menghujankan bunga-bunga, tapi bencana tak kunjung reda. Akhirnya pasrah pada dewata, hati sumarah pada Yang Kuasa, jika hendak melebur dunia. Dewa bisa sakit tapi tak bisa mati, menderita tak terkira. Sempurna sudah bencana, di langit, gelap pekat, kilat dan petir bertubi-tubi, berkelebatan, ekor Hyang Anantaboga berpusing seperti kitiran, tanduk lembu Andini, kawah Candradimuka menggelegak, meluap lahar hingga ke bumi, makin menambah kesengsaraan.

Lega hati Yang Kuasa, telah memberi ujian pada dunia, sebagai peringatan untuk manusia pada Sang Pencipta.

Tetapi ada mahluk serupa bocah kembar. Yang satu membawa cambuk, ingin menggiring angin, yang satu membawa tempurung, maksud hati menguras samudera. Keduanya berpapasan di sebuah perempatan, salah kata salah ucap berubah menjadi perkara, bergumul berebut unggul, demikianlah asal muasal bencana.

Tersebutlah, selepas bencana. Di langit timur tampak segurat garis cahaya setajam lidi jantan. Selepas cahaya tersilak pelataran luas tanpa nama tanpa pohonan. Bon Suwung. Ada bocah lanang memetik bunga. Lalu dibuang. Memetik lagi. Dibuang lagi. Lalu ada bocah perempuan mendekat. Berkaca-kaca melihat sampah bunga-bunga. Lalu jongkok memungutinya satu persatu. Ditata di atas sebuah pagar bata.

Sekarang keduanya sudah tumbuh dewasa. Sudah menemukan jalannya sendiri-sendiri. Hingga suatu hari Si Lelaki teringat pernah membuang bunga. Teringat pernah berlari ke timur.

Geragapan Si Lelaki mengetuk pintu berupa alang-alang. “Bu, aku pulang.”

“E, masuk sini. Bocah nakal.” Suara ibunya sedikit pun tak berubah. Masih seperti duapuluh tahun yang lalu.

“Aku kangen ibu. Ibu kangen aku tidak?”

“Tidak. Rambutmu berdebu. Sampai di mana saja kamu?”

Si Lelaki tertunduk. Seperti bocah kecil yang ketakutan karena pulang bermain terlalu sore.

“Pasti bermain di bendungan lagi. Bocah kok, nggak bisa dibilangin. Anak siapa sih, kamu? Apa mau jadi tumbal bendungan kayak Sugeng?”

“Bapak tidak pulang, Bu?”

“Dimakan anjing, kali.”

Keduanya menangis. Ibu dan anaknya. Perempuan dan tanggung jawabnya.

Leng-leng gatining kang. Awan saba-saba. Nikeng Ngastina. Samantara tekeng. Tegal milu ring karya. Krena lakunira. Parasu Rama. Kanwa Janaka. Dulur Narada. Kapanggih ing ika. Jumurung ing karsa. Saparti tala. Sang bupati[i].

“Aku sudah tak berani berharap kamu pulang, seperti bapakmu. Biar. Biar malam sepi-sepi saja. Tak perlu ada harap, bulan dan bintang. Tidak perlu ada apa-apa. Dan sekarang kamu pulang. Rambutmu berdebu. Ada apa? Tidak ada apa-apa, kan? Tidak perlu ada apa-apa.”

“Aku tidak berniat pulang. Tidak sekalipun. E, ternyata malah pulang. Tiba-tiba ketemu pintu tembusan belakang rumah. Perasaan aku sudah berlari begitu jauh. Tak menengok belakang sama sekali. Ternyata…”

“Pintu sudah kaututup belum? Nanti anjing-anjing hutan masuk.”

“Aku kangen ibu. Ibu kangen aku tidak?”

“Tidak.”

Si Ibu membelai rambut anaknya. Mencari kutu, ketombe dan cerita yang terselip di sesela rambut kaku itu. Tak satu pun ketemu. Termasuk air matanya duapuluh tahun yang lalu. Lalu masuk ke belakang. Pura-pura bikin kopi.

“Katanya kamu mau pulang. Mana? Katanya: aku mau pulang. Lewat jalan yang lalu. Tunggu aku di Bon Suwung. Aku pulang naik naga Taksaka. Tadi sore Parikesit baru saja mati. Mayatnya dihanyutkan di Bengawan Silugangga. Tanpa doa. Tanpa upacara. Biar saja. Yang terang aku mau pulang. Tunggu aku!”

“Kopinya sudah jadi. Diminum. Nanti keburu dingin.”

“Bapak belum pulang, Bu?”

“Nggak tahu. Tadi aku seperti mendengar suaranya. Nggak tahulah. Dimakan anjing, kali. Sudahlah. Kamu menunggu siapa?”

“Pacar.”

“Yang mana? Siapa? Yang dulu pernah kaubawa ke rumah itu? Yang rambutnya panjang? Yang kaupanggil-panggil tiap malam? Yang mana? Ibu kok lupa.”

“Yang baru.”

“Siapa namanya?”

“Nggak tahu.”

Dalam tubuh naga Taksaka. Seorang perempuan jatuh tertidur. “Tolong, bawa lari aku. Sejauh kau bisa!” Begitu rintihnya sebelumnya. Pada siapa?

Lelaki muda di sampingnya membuat puisi. Tentang seorang perempuan yang jatuh tertidur. Dibaca sekali, teringat Marquez, kertas itu disobek-sobeknya, disebar sepanjang rel. Melihat puisi beterbangan, mbak pramugari segera datang membawa secangkir kopi. Cangkir kecil berwarna hijau. Plastik.

Lelaki muda membangunkan Si Perempuan.

“Kopinya sudah jadi. Diminum. Nanti keburu dingin.”

“Sudah sampai mana, Mas? Sudah sampai Bon Suwung belum?”

“Dik, kereta ini menuju Jogja. Aku nggak tahu bon suwung-mu itu terletak di mana?”

“Aku juga nggak tahu. Dulu aku pernah menanam airmataku di sana. Kupupuk dengan tahi babi seminggu sekali. Lalu tumbuh subur. Daunnya lebat, hijau, beterbangan setiap sore. Aku suka duduk-duduk di bawahnya, menggembala angin. Lalu datang masa sekolah. Anak-anak tak pernah lagi pulang ke rumah. Antar aku ke tempat itu, Mas.”

Buta Pandawa tata gati wisaya. Indriyaksa sara maruta. Pawana bana margana samirana.

“Sudah, diamlah, Dik. Adikku, lihat bulan bulat seperti kepala raksasa yang menakutkan.”

Sebenarnya aku ingin bercerita. Panjang. Tapi apa kau sanggup? Aku sanggup?

Suatu sore aku melihatmu. Berlarian di pelataran luas. Tidak mengejar kupu-kupu. Lalu berhenti. Termangu. Berdiri di depan sampah bunga-bunga matahari. Lalu kamu bernyanyi, entah lagu apa, aku tak pernah mendengarnya. Kira-kira di bait ke lima tanganmu mulai mengambil bunga-bunga yang berserakan itu. Lalu kamutata di atas sebuah pagar bata. Begitulah. Berulang kali.

Kamu tak menangis.

Malamnya arwah-arwah bunga itu mengganggu tidurmu. Kamu mengigau. Menyebut-nyebut sebuah nama. Entah nama siapa aku tak mengenalnya. Dan nama yang kamupanggil-panggil itu tak kunjung datang. Begitulah sampai malam terbangun.

Paginya aku membawa cahaya sore yang kubungkus kertas koran. Kamu tak suka. Sayang. Kamu cuma diam. Memeluk lutut. Menunduk.

Kamu tak menangis.

Aku pingin bercerita. Panjang. Tapi buat siapa?

Musim hujan. Kau tergila-gila pada hujan. Tak sembuh-sembuh. Tak juga beranjak dari kursi taman dan melayat ke rumahku, bangsat. Tak berziarah ke kuburanku. Apa lagi berdoa bagi cerita-cerita lama. Gawat. Aku terlanjur mati. Dan kau tak juga segera paham.

“Aku minta maaf, Mas. Aku tak bisa apa-apa selain minta maaf. Dan terakhir, tolong antar aku sampai di Bon Suwung.”

Stasiun Tugu. Si Lelaki berjalan ke timur. Pegangan pada bintang sendirian memanggil pagi hari. Aku ingin mencari embun yang serupa dengan airmatamu, begitu pamitnya pada Si Perempuan. Si Perempuan berteriak, tapi sudah kehilangan lacak. Si Lelaki sudah hilang di perempatan.

Jogjakarta, 2002


[i] Suluk Greget-saut Sanga

Bon Suwung

Aku pingin crita. Dawa. Nanging apa kowe kuwawa? Aku kuwawa?

Eka sawiji, bumi dununging titah. Dwi loro, sawah unggyan tetuwuhan. Tri telu, tirta pasabaning mina. Catur papat, akasa pasabaning iber-iberan. Panca lima, ardi pikukuhing jagad. Sad enem, janma pranataning bawana. Sapta pitu, ratu janma nabining bumi. Hasta wolu, pandhita kang bentur tapane. Nawa sanga, dewa panutaning janma. Dasa sepuluh, tetengering kasampurnan.

Gara-gara ing mangsa katiga. Bumi kelang-kelangan, tan ana udan, lamun ana kepara salah mangsa, karya curesing tetuwuhan. Siti samya nela anjurang cerung isi gegremetan mawa wisa. Sato kewan pating bilunglung tambuh-tambuh paraning marga. Panas anggegirisi tan antuk pangeyuban, temahan pejah pating selebar sapara-para. Kathah tetanduran tanpa tuwuh, cures dening sepining tirta, tambuh-tambuh kaalap dening sato kang tan antuk tetedha. Curesing tetuwuhan anjalari sepining boga. Kathah janma kasangsaya. Culika angambra-ambra rebut gesang tan wigih tindak durhaka. Sato tirta, mina raksaka sapepadhane sami kasangsaya ingendi-endi, panas tan antuk panonoban. Kang alit-alit pejah dadya mangsa kang ageng-ageng, bebasan ana titah mangan rowang katemahan. Iber-iberan tambuh-tambuh paraning ngungsi pangayoman, memangsan saged pinangguh, temah samya pejah tumibeng bantala, pating selebar pating beseser saenggen-enggen. Gunung pepathoking jagad njomplang, kang bumi tan timbang, jugrug karya sangsaya. Lindhu bebasan ping selikur sedina, karya rusaking wewangunaning bumi. Janma kathah-kathah kasangsaya, pepati angambra-ambra, kang rosa mangan kang ringkih, sirna pranataning madyapada.

Ratu tan kuwawa ngendhak kang gara-gara, jer muhung titah sawantah tan kantun kapanduking baya. Pandhita adreng memuja, meminta sih nugrahaning bathara sirepa kang gara-gara. Samya lumajeng ing pucuking arga, angudanaken sekar-sekar, lumrang kang banjaran sari, nanging tan kendhak gara-garaning bumi. Temah samya pasrah ing jawata, pepuntoning nala sumarah mring Kang Kawasa, yen karsa anglebur bawana. Dewa kena lara tan kena ing pati, nandhang kasangsaya tan taha-taha. Sampurna wijiling gara-gara, ing bawana sintru, peteng ndhedhet, kilat thathit sesonderan, dhedhet erawati ngakak, kumitir pethite Hyang Anantaboga, sungune lembu Andini, kawah Candradimuka kinebur, mbleber lendhut blegedaba luber mring bumi, tambah-tambah karya kasangsaya.

Enggar tyase Kang Murbeng Titah, wus andadar kahananing madyapada, minangka paenget-engeting janma mring Kang Akarya Jagad.

Parandene ana titah awujud bajang sakembaran. Siji anggawa pecut karsanya anggiring maruta, sajuga anyangking bathok bolu, sanggupe arsa nawu sagara. Kekarone papagan ing dlanggung prapatan, sulayaning rembag dadya pancakara, dreg-udregan rebut unggul, wijining kang gara-gara!

Wau ta, sasirnaning kang gara-gara. Ing bang wetan katon ana teja manther sasada lanang gedhene. Sasirnaning teja kasilak pelataran jembar tanpa aran tanpa tetuwuhan. Kebon Suwung. Ana bocah lanang methik kembang. Terus dibuwang. Methik maneh. Dibuwang maneh. Tekan sore. Banjur lunga mangetan. Banjur ana bocah wadon teka. Tawang-tawang tangis weruh larahan kembang. Nuli jengkeng njumuki siji mbaka siji. Ditata sandhuwuring pager bata.

Saiki kekarone wis samya gedhe. Wis nemu margane dhewe-dhewe. Nuju sawijining dina sing lanang kelingan yen nate mbuwang kembang. Kelingan nate mlayu mangetan.

Gurawalan sing lanang ndhodhog lawang arupa alang-alang. “Bu, aku bali.”

“E, kene mlebu kene. Bocah nakal.”  Suwarane keng ibu babar pisan ora owah. Isih kaya rongpuluh tahun kapungkur.

“Aku kangen banget karo ibu. Ibu kangen karo aku apa ora?”

“Ora. Rambutmu kok kebak awu? Tekan ngendi wae kowe?”

Bocah lanang kuwi mung tumungkul. Kaya bocah cilik sing keweden marga mulih dolan kesoren.

“Mesthi dolan neng kedhung maneh. Bocah kok ra isa dipenging. Anake sapa kowe? Apa pingin dadi wadale kedhung kaya Sugeng kae pa?”

“Bapak ra bali, Bu?”

“Dipangan asu, paling.”

Sakloron tetangisan. Ibu lan anake. Wong wadon lan sanggane.

Leng-leng gatining kang. Awan saba-saba. Nikeng Ngastina. Samantara tekeng. Tegal milu ring karya. Krena lakunira. Parasu Rama. Kanwa Janaka. Dulur Narada. Kapanggih ing ika. Jumurung ing karsa. Saparti tala. Sang bupati.

“Aku wis ora wani ngarep-arep kowe bakal bali, kaya bapakmu. Ben. Kareben ta wengi sepi-sepi wae. Ora perlu ana pangarep-arep, wulan lan lintang. Ora perlu ana apa-apa. Lan saiki kowe bali. Rambutmu kebak lebu. Ana apa? Rak ra ana apa-apa, ta? Ora perlu ana apa-apa.”

“Niyatku ya ora bali. Ora pisan-pisan bali. E, jebule malah bali. Dalanne muter. Ujug-ujug nemu lawang butulan mburi omah. Rumangsaku aku wis mlayu adoh. Ora mengo mburi babar blas. Jebul…”

“Lawange wis mboknepke durung? Engko mundhak asu-asu ajage dha mlebu.”

“Aku kangen banget karo ibu. Ibu kangen karo aku apa ora?”

“Ora.”

Si ibu ngelus-elus rambute si anak. Nggoleki lingsa, tuma, sindap lan cerita sing nyelip saselane rambut kaku iku. Siji-sijia ora ana sing ditemu. Kalebu luhe rongpuluh tahun kapungkur. Banjur mungkur. Ethok-ethok gawe kopi.

“Jarene kowe arep bali. Endi? Jarene: Aku arep bali. Niti dalan kawuri. Entenana neng bon suwung. Aku bali numpak naga Taksaka. Mau sore Parikesit nembe wae mati. Bathange dilarung neng bengawan Silugangga. Ra nganggo donga. Ra nganggo upacara. Ben. Kareben wae. Sing terang aku arep bali. Entenana!”

“Galo kopine wis dadi. Ndang diombe. Mundhak kesusu adhem.”

“Bapak durung bali pa, Bu?”

“Mbuh. Kaya-kaya aku mau ya krungu swarane. Ning embuh. Dipangan asu, paling. Ora. Kowe ki ngenteni sapa?”

“Pacar.”

“Sing endi? Sapa? Sing biyen tau mbokgawa mulih kae pa? Sing rambute dawa? Sing mbokceluk-celuk saben wengi kae pa? Sing endi? Ibu kok lali.”

“Pacarku sing anyar.”

“Sapa jenenge?”

“Aku ra ngerti.”

Jroning naga Taksaka. Bocah wadon turu kepati. “Tulung, gawanen mlayu awakku iki. Saisamu, saadoh-adohmu!” Mangkono panjelihe sadurunge. Marang sapa?

Nom-nom lanang neng jejere gawe puisi. Babagan bocah wadon sing turu kepati. Diwaca sepisan, kelingan Markues, kertas kuwi banjur disuwek-suwek, disebar sadawane rel. Weruh ana puisi diburke, mbak pramugari gage teka nggawa wedang kopi. Cangkire ijo cilik banget. Plastik.

Sing lanang nggugah sing wadon.

“Galo kopine wis dadi. Ndang diombe. Mundhak kesusu adhem.”

“Wis tekan endi, Mas? Wis tekan Bon Suwung apa durung?”

“Dhik, kreta iki arep neng Jogja. Aku ra ngerti bon suwungmu kuwi mapan nang endi.”

“Aku ra ngerti. Biyen aku tau nandur luhku nang kana. Takrabuk tai babi seminggu sepisan. Banjur tuwuh ngrembaka. Godhonge akeh, ijo royo-royo, mabur-mabur saben sore. Pendhak-pendhak yen lagi pingin, aku lingguh sangisore, angon angin. Banjur tekan mangsane sekolah. Bocah-bocah ra tau bali maneh aneng omah. Terna aku neng papan kuwi, Mas.”

Buta Pandawa tata gati wisaya. Indriyaksa sara maruta. Pawana bana margana samirana.

“Wis, menenga, Dhik. Adhiku, kae mbulane ndadari kaya ndhas buta nggilani.

Janjane aku pingin crita. Dawa. Nanging apa kowe kuwawa? Apa aku kuwawa?

Sawijining sore aku weruh kowe. Playon aneng pelataran jembar. Ora ngoyak kupu. Banjur mandheg. Mangu. Ngadeg sangarepe larahan kembang srengenge. Kowe nembang, mbuh tembang apa, aku ra nate krungu. Kira-kira gatra kaping lima tanganmu wiwit njumuki kembang sing pating blasar iku. Nuli kotata sandhuwuring pager bata. Kaya mangkono. Makaping-kaping.

Ora. Kowe ora nangis.

Wengine layon-layon kembang kuwi ngreridhu impenmu. Kowe kagum-kagum. Nyeluk sawijining jeneng. Mbuh jenenge sapa aku ra kenal. Lan jeneng sing koksebut-sebut kowe ora enggal teka. Mangkono nganti wengi tangi.

Esuke aku teka nggawa bang-bang wetan takbungkus kertas koran. Kowe ra doyan. Eman. Kowe mung meneng. Ngekep dhengkul. Tumungkul.

Ora. Kowe ora nangis.

Aku ngerti kowe pingin crita. Dawa. Nanging kanggo sapa?

Mangsa udan. Kowe kedanan udan. Ra enggal waras. Ra enggal menyat saka kursi taman lan layat neng omahku, bangsat. Ora nyekar neng kuburanku. Apa maneh ndonga kanggo dongeng-dongeng lawas. Ketiwasan. Aku kebacut mati. Lan kowe ora enggal ngerti.”

“Sepuramu sing gedhe, Mas. Aku ra isa apa-apa maneh saliyani njaluk pangapuramu. Lan kang pungkasan, tulung terna aku tekan bon suwung.”

Stasiun Tugu. Sing lanang mlaku mangetan. Gujengan lintang dhewekan ngudang parak esuk. Aku pingin golek bun sing padha karo luhmu, kaya ngono pamitane marang sing wadon. Sing wadon mbengok, nanging wis kelangan enggok. Sing lanang wis ilang neng prapatan.

Jogjakarta, 2002

Usaha Menjadi Sakti

Setelah gagal memperoleh kesaktian dengan jalan bertapa di kebun belakang rumah, aku jadi tak banyak bicara. Hanya Budi yang tahu kesedihanku. Dia pula satu-satunya orang yang tahu bahwa aku pernah bertapa di bawah pohon melinjo yang kelak tumbang berbarengan dengan meninggalnya ibuku. Tak perlu kuceritakan bagaimana jalannya samadiku yang pertama dan terakhir itu. Yang terang tak sehening Begawan Ciptoning di cerita wayang. Tak ada setan atau bidadari yang menggoda dan duduk di pahaku. Tak ada Narada atau Jibril yang datang membawa wahyu. Cuma sejumlah semut rangrang, menggigitku berulang-ulang.