Mito si Pelawak

Saat menyaksikan sebuah pertunjukan ludruk mahasiswa di kampus sebelah kampung Mito berkata kepada kami bahwa ia bisa lebih lucu dari mereka. Aku punya banyak parikan jenaka dalam kepalaku, tambahnya. Wajahnya begitu bersinar malam itu. Tampaknya pertunjukan ludruk itu telah menyalakan lampu yang tertanam di dalam tengkorak kepalanya. Menyalakan kembali tepatnya. Karena beberapa tahun sebelumnya aku juga pernah melihat wajahnya semenyala malam itu. Waktu itu kami bersama-sama menonton pertunjukan ketoprak di Auditorium RRI. Lakonnya aku ingat betul: Rampok[1]. Dalam perjalanan pulang Mito tak henti memuji-muji pertunjukan itu. Kelompok ketoprak di kampung kami harus mementaskan lakon itu, begitulah ujung dari seluruh puja-pujinya pada pertunjukan tersebut.

Keesokan malamnya saat kami bertemu di pos ronda ia mengulang kembali keinginannya itu. Dengan berapi-api ia menceritakan kembali lakon Rampok itu. Lakon itu pas sekali dengan situasi kampung kita sekarang, tegasnya. Aku diam. Sebagai kanak-kanak aku tak layak angkat bicara. Tapi sebenarnya aku mengiyakannya. Perseteruan Raden Sudrajat dan Raden Legowo di Lumajang dalam lakon tersebut memang mirip dengan perseteruan Suwandi dan Suwondo di kampung kami. Sama-sama kakak beradik. Sama-sama tengah memperebutkan kursi kekuasaan. Sama-sama penuh kekotoran. Orang-orang segardu mengangguk-angguk mendengarkan cerita Mito. Tapi tepat jam 11 malam satu per satu mereka meninggalkannya. Keliling kampung mengambil beras jimpitan, demikian pamit mereka. Aku juga mengikuti jejak mereka. Bukan untuk mengambil jimpitan tapi. Jam 11 adalah waktunya aku tidur. Maka tinggal Mito di gardu. Aku di sini saja, katanya, menunggu gardu sambil bikin orek-orekan tentang Rampok. Besok sudah bisa difotokopi.

Kurang lebih seminggu Mito kerasukan Rampok. Di mana setiap ada kesempatan ia selalu mengutarakan keinginannya agar ketoprak Sekar Dalu kampung kami memainkan lakon itu. dan ia minta jatah peran sebagai pelawak. Semua orang manggut-manggut setiap kali Mito memulai mimpinya. Tapi aku tahu tak seorang pun benar-benar mendengarkannya. Aku juga tahu bahwa Sudi membakar orek-orekan lakon yang sudah disusun Mito semalam suntuk itu dengan dalih akan memfotokopinya. Dan pelan-pelan nyala lampu di wajah Mito pun padam. Cerita Rampok dan keinginannya untuk mementaskan lakon itu sudah hilang dari mulutnya. Kami telah merampok mimpi itu dari kepala Mito.

Aku tak mengenal Mito dengan baik sebenarnya. Usia kami jauh berbeda. Ia sepantaran dengan ayahku. Aku hanya berkawan akrab dengan anaknya, Antok. Mito merupakan anak ke-3 dari Mbah Dukun, seorang dukun bayi di pojok kampung. Aku tak tahu apa pekerjaannya. Antok hanya bilang bahwa ayahnya pandai menangkap ular. Tapi ketika aku menanyakan hal itu kepada ayahku ia malah tertawa. Ular apa? kata ayah di sela tawanya. Aku menarik kesimpulan bahwa Mito tak punya pekerjaan. Setidaknya tak punya pekerjaan tetap. Buktinya Antok dan ke-4 adiknya semuanya putus sekolah.

Mito memiliki wajah yang selalu mengingatkanku pada pelawak favoritku: Idur[2]. Pelawak dengan nama asli Daryadi itu sudah meninggal di pertengahan tahun 90. Sumpah. Wajah keduanya benar-benar mirip. Dan tampaknya Mito pun menyadari betul kemiripan wajahnya. Tak berbilang ia mengusulkan dirinya menjadi pelawak dalam ketoprak kampung kami. Mirip wajahnya bukan berarti mirip otaknya. Begitulah kata orang-orang. Tentu saja tak langsung ke Mito. Dan Mito pun harus berpuas diri menjadi prajurit bala dupak dalam setiap pertunjukan. Ia tak pernah berhasil membuktikan dirinya. Orang-orang kampung seperti selalu menutup jalan bagi Mito. Tapi menuruku ia memang tak bisa melucu sama sekali. Guyonan-guyonannya garing. Tapi ia bilang bahwa seorang pelawak tak harus lucu di keseharian. Ia akan lucu pada saatnya: ketika berada di atas panggung.

Kembali ke pertunjukan ludruk di awal cerita. Pertunjukan itu, sebagaimana mungkin pertunjukan-pertunjukan yang lain, kembali membakar Mito. Dan tampaknya, kali ini dan mungkin kali ini saja, Tuhan berpihak padanya. Kesempatan manggung itu akhirnya datang.

Kelompok ketoprak Sekar Dalu sudah lama tak terdengar kabarnya. Mungkin mati. Tapi kata bapak kelompok ketopraknya itu hanya tidur. Nanti akan bangun lagi kalau ada cukup duit. Biasanya Sekar Dalu manggung satu tahun sekali dalam perayaan tujuhbelasan di kampung kami. Tapi sudah  beberapa tahun terakhir panggung tujuhbelasan hanya diisi oleh gerak dan lagu kanak-kanak, karaoke dangdut  dan pengumuman sejumlah lomba. Itu pun tak berlangsung lama. Panggung tujuhbelasan kemudian tak pernah ada lagi. Persis seperti panggung wayang kulit di tiap bulan Sapar yang sudah lebih dulu menghilang. Alasannya sama. Tak ada uang.

Waktu itu aku tak tahu benar berapa jumlah kebutuhan dana yang diperlukan untuk sebuah panggung perayaan. Tentunya besar sekali. Tapi para pemuda tak pernah berhenti berusaha. Menjelang bulan Agustus mereka selalu berkeliling dari rumah ke rumah untuk memungut iuran perayaan. Hasilnya: uang tak pernah terkumpul dengan cukup. ayahku, setahuku, hanya mau menyisihkan seribu rupiah saja tiap kali para pemuda itu datang. Jika semua kepala keluarga di kampung seperti ayah, maka hanya akan terkumpul tak lebih dari dua ratus ribu saja. Tentu uang tersebut tak cukup di tengah harga kebutuhan yang  terus merayap naik di tahun 90an. Duit sebesar itu hanya cukup untuk membuat malam tirakatan pada tanggal 16 Agustus. Demikian berlangsung beberapa tahun. Dan pada sebuah bulan Agustus, bersamaan dengan pertunjukan ludruk yang ditonton Mito, para pemuda itu sudah lelah berusaha. Diputuskan tak ada lagi perayaan tujuhbelasan di kampung kami. Jika ada RT-RT yang ingin membuat perayaan sendiri di wilayahnya silahkan saja. silahkan diurus sendiri-sendiri.

Begitulah sejak tahun itu, 1993, hingga sekarang saat cerita ini dituliskan, perayaan tujuhbelasan di kampung kami hanya berlangsung di tingkat RT. Tak pernah lagi ada panggung besar di bon suwung maupun di perempatan jalan. Menyedihkan memang. Tapi justru dengan cara demikian perayaan-perayaan dapat terus diberlangsungkan—meski kecil dan sederhana.

Awalnya memang terasa aneh. Biasanya kami kumpul bersama-sama di puncak perayaan, tapi kini malah harus terpisah-pisah dalam perayaan-perayaan kecil dan sederhana di halaman ketua RT masing-masing. tapi malah dalam sitasi ini masing-masing RT dituntut untuk kreatif. Bakat-bakat terpendam mulai bermunculan. Seperti di RT-ku misalnya. Ada seseorang bernama Emut yang mengisi malam perayaan dengan mendalang semalam suntuk menggunakan wayang kertas dan iringan gamelan dari kaset. Atau Neng Atik, biduan campursari yang selama ini lewat dari pantauan di RT sebelah. mungkin bakat-bakat itu tak akan bermunculan jika saja perayaan masih memakai pola yang lama. Disatukan dalam perayaan besar satu kampung sekaligus. Jelas mereka sudah gugur duluan, kalah saing dengan pengisi-pengisi tetap setiap tahunnya.

Berkah situasi ini juga diterima oleh Mito. Ia akan tampil mengisi acara lawak di RT-nya. Pak Un, RT-nya yang terkenal baik hati, tak kuasa menolak sumbangan acara dari Mito.  Berita ini cepat menyebar. Aku sendiri benar-benar penasaran. Apakah Mito bisa membuktikan seluruh ucapannya selama ini. Bahwa ia adalah seorang pelawak yang jagoan. Banyak orang mungkin juga memendam perasaan yang sama denganku. Selama ini Mito berkilah bahwa ia tak pernah mendapat kesempatan. Dan kini Mito akan mendapatkannya. Kesempatan yang bertahun-tahun ditunggunya.

3 hari menjelang perayaan tujuhbelasan di RT-nya Mito hilang. Seisi kampung geger. Geger bisa jadi berlebihan. Tapi intinya adalah banyak orang mencari Mito. Tak sungguh-sungguh mencari sebenarnya. Hanya bertanya-tanya saja. Beberapa malah mentertawakannya. Mito pasti grogi berat sehingga memilih minggat, kata sebagian. Sebagian lagi ada yang percaya bahwa Mito sedang mencari ilham untuk lawakan-lawakannya nanti. Mungkin ia sedang berziarah ke makam para pelawak kondang. Aku bertanya ke Antok. Ternyata ia pun tak tahu. Bapak minggat begitu saja dan nggak ninggal uang sepeser pun, katanya. Matanya berkaca-kaca saat menjawab, membuatku menyesal karena telah bertanya.

Siang menjelang perayaan tujuhbelasan di RT-nya, Mito tak juga menampakkan wajah Idur-nya. Para niyaga yang sudah jauh hari diminta mengiringinya mulai gelisah. Genjik si penabuh kendang tertawa dengan kecut. Ketidakmunculan Mito adalah bukti bahwa ia sama sekali tak bisa melawak, demikian simpulnya, sambil memasukkan sebatang kendang yang belum selesai dijemur. Mbak Atun, calon pasangannya main, bingung setengah mati. Ia merasa perlu sedikit latihan dengan Mito karena belum pernah manggung bersamanya. Lha kok sampai sekarang belum muncul, keluhnya. Ia tentu saja tidak ingin mendapat malu hanya karena pasangannya bermain dengan buruk.

Pak Un tampak tenang saat beberapa orang bertanya mengenai hilangnya Mito. Gak apa-apa. Masih banyak acara lain kok nanti malam, jawabnya sambil tersenyum-senyum. Lagi pula sebelum pergi Mito sudah pamit denganku. Katanya ia butuh waktu untuk mempersiapkan diri. Ia pasti datang. biasa kan seniman seperti itu. Pak Un tergelak menutup percakapan.

Menjelang Maghrib Mito tiba-tiba muncul. Ia sudah memakai kostum ala Dagelan Mataram: jarik, surjan dan iket. Semua orang lega. Tapi juga cemas. Bagaimana jika nanti Mito sama sekali tidak bisa melawak di atas panggung. Tetap saja itu adalah peristiwa yang menyedihkan bagi siapa pun. Nggendong kulkas orang bilang. Alias dingin. Tak ada sambutan. Dan itu adalah petaka bagi penampil. Bagaimana pun Mito sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kampung kami. Tak ada yang ingin ia mendapat malu di atas panggung. Penolakan-penolakan yang selama ini berlangsung terhadapnya tak pernah dilandasi oleh niat jahat.

Dengan cepat Mito menggandeng Mbak Atun dan para penabuh. Mereka segera berkumpul di ruang tamu Pak Un untuk merancang dagelan mereka malam itu. Kabar dengan cepat menyebar. Mereka akan membawakan cerita Pak Dengkek[3].

Kami pun berbondong-bondong menuju halaman kediaman Pak Un, di mana sebuah panggung telah didirikan. Dan tak berapa lama acara pun dimulai dengan berbagai kesenian sajian dari warga. Ada baca puisi, tarian anak-anak dan organ tunggal. Dan Lawak Mito Cs akan menjadi puncak acara perayaan.

Suasana benar-benar menegangkan. Setidaknya bagiku. Acara-acara tengah yang berlangsung sama sekali tak menarik perhatianku. Pikiranku terus-menerus tertambat pada wajah Mito. Saking penasarannya aku sempat mengintip ke dalam rumah Pak Un. Aku lihat Mito dengan kumis ala Hitler. Sumpah. Benar-benar mirip dengan Daryadi. Diam-diam aku berdoa semoga Mito juga selucu Daryadi. Bukan hanya kumisnya saja yang membuat tertawa tapi juga banyolan-banyolannya.

Dan saat yang ditunggu pun telah tiba. Gamelan sudah ditabuh. Kendangan ciblon Genjik terdengar mirip suara air yang tengah ditepuk-tepuk dengan nakal. Kendangan yang sudah lama tak terdengar di kampung kami. Suara Yu Painah yang melengking juga telah kembali. Semua gara-gara Mito. Sungguh kami terdiam waktu itu. Bukan hanya larut dalam buaian siter Pak Jumeyo. Bukan hanya cemas menunggu Mito naik pentas. Lebih dari itu, Mito telah mengembalikan apa yang hilang dari kampung kami. Sepertinya tak penting lagi apakah Mito bisa melawak atau tidak. Aku tak peduli lagi. Ia menjadi pahlawan kami malam hari itu.

Jogjakarta, 2012

Dipublikasi di Suara Merdeka, 29 Januari 2012

_______________________

[1] Die Räuber karya Friedrich Schiller (1781). Disadur oleh WS Rendra dengan judul Perampok (1977). Diadaptasi kembali oleh ketoprak RRI Nusantara II Yogyakarta dengan judul Rampok dan dipanggungkan  pada tahun 1990. Pertunjukan inilah yang disaksikan oleh Mito.

[2] Idur adalah nama panggung dari Daryadi. Salah seorang pelawak kondang di Jogja pada tahun 90-an. Semasa hidupnya Daryadi banyak berpasangan dengan Yati Pesek dan Marwoto Kawer.

[3] Pak Dengkek adalah salah satu lakon yang terkenal dari pelawak Basiyo. Lawakan Basiyo menjadi terkenal di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah melalui siaran radio, televisi (TVRI), dan berbagai rekaman. Lawakannya sering disebut sebagai Dagelan Mataram, sesuai dengan nama acaranya di RRI Yogyakarta. Pak Dengkek memiliki plot yang serupa benar dengan  Le Médecin malgré lui (The Doctor in Spite of Himself, 1666)  karya Molière (1622 – 1673). Naskah ini diterjemahkan oleh Asrul Sani ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Dokter Gadungan (Dunia Pustaka Jaya, 1979). Juga pernah disadur menjadi Tabib Tetiron oleh Suyatna Anirun (STB, 1976)

Berita Pagi

Selamat pagi. Seorang perempuan membakar diri pagi ini. Ia membakar diri di kamar mandi bersama dua anak balitanya. Di kamar mandi, masih di kotaku yang kecil ini, seorang perempuan mengguyur tubuhnya dengan bensin. Ia tak lupa mengguyur pula dua gundul anaknya yang lucu-lucu itu. Ia tak hendak membersihkan kutu di kepala mereka. Ia ingin mengakhiri hidupnya. Hidup mereka bertiga. Sebelumnya ia menulis di selembar kertas mengingatkan kepada suaminya bahwa ia masih memiliki hutang duapuluh ribu rupiah kepada Bu Turiyah. Lalu api pun membakar tubuh mereka bertiga. Mandi api di pagi hari kata seorang tetangganya seperti sedang berpuisi. Ledakan terdengar memecah pagi jam delapan di perkampungan tanggung itu—desa sudah bukan kota masih belum. Turiyah yang tengah memasak segera berlari menuju sumber ledakan: kamar mandi di sebuah rumah kos-kosan. “Waktu saya lagi masak dengan suara keras dari rumah Umi, saya langsung mendatangi rumahnya. Pas masuk dengar anak teriak-teriak di kamar mandi. Lalu saya dekati ternyata pintu kamar mandinya dikunci dan mengeluarkan banyak asap.” Turiyah tak bisa berbuat apa-apa. Kamar mandi terkunci dari dalam. Turiyah keluar mencari bala bantuan. Tak lama beberapa orang telah datang dan mendobrak pintu kamar mandi. 3 tubuh gosong tergeletak.

Selamat pagi. Ternyata ini juga perkara cinta. Hutangnya sudah dibayar 3 bulan yang lalu, kata Turiyah. Sumber lain mengatakan hutang tersebut sebenarnya belum dibayar tapi Turiyah telah lama mengikhlaskannya. Kabar buruk segera merebak menutup bau daging gosong: si suami, seorang penjual es krim, punya wanita simpanan. Mereka bertengkar satu hari sebelum kejadian naas itu. Tapi polisi segera menepis kabar itu. “Dari pemeriksaan, kemungkinan besar bunuh diri ini bukan diakibatkan oleh percekcokan,” ujar Kapolsek Depok Barat AKP Andreas Dodi Kusuma saat ditemui di lokasi kejadian. Ia menunjukkan isi surat wasiat itu: “Mas aku nyileh duit Mbak Turiyah Rp 20.000, sok nek duwe duit, tolong dibalekno yo (Mas aku pinjam uang mbak Turiyah Rp 20.000, besok kalau punya uang, tolong dikembalikan ya).” Tapi ibu korban yakin penyebab kematian anaknya adalah kelakuan suaminya. “Beberapa hari sebelumnya ia memergoki suaminya bertemu dengan perempuan lain,” tegasnya dengan berapi-api. “Anak saya tak akan berbuat senekad itu. Apalagi sampai membakar kedua cucu. Pasti karena sakit hati. Putus asa. Dan tak tahu apalagi yang harus dilakukan. Meski gak pernah cerita dengan jelas apa yang terjadi dalam keluarganya, sebagai ibunya saya tahu anak saya pasti menderita. Sampai beberapa hari yang lalu anak saya cerita kalau melihat suaminya pergi dengan perempuan lain. Melihat mereka boncengan di jalan.”

Selamat pagi. Apakah cinta musti dikabarkan dengan bakar diri. Perempuan itu bukanlah Sinta. Kedua balita yang turut tewas mengenaskan itu bukan pula Lawa dan Kusa. Di alun-alun Sinta membakar diri untuk menyatakan kesuciannya. Sekaligus juga menyatakan kekalahannya—ia toh tak perlu membuktikan apa-apa sebenarnya. Ia tak perlu peduli gunjingan orang senegara tentang ketidaksuciannya. Perkara suaminya terganggu dengan gunjingan biarlah—lelaki biasanya seperti itu—tak perlu ia berkorban lebih besar lagi. Tinggal pergi saja. Atau menghilang di dalam hutan Dandaka. Tapi Walmiki menentukan lain. Sinta mesti berkorban sekali lagi setelah seluruh penderitaannya reda dengan membakar diri. Tapi perempuan itu bukan Sinta. Ia bukan tokoh dari negeri dongeng yang aeng. Membakar diri adalah cara bunuh diri yang mengerikan. Teman saya pernah cerita ketika ia menemukan temannya tengah membakar diri di sebuah hutan. Proses kematiannya cukup lama. Ia menjerit-jerit kesakitan cukup lama sebelum tujuannya tercapai. Perempuan itu, Umi atau entah siapa namanya, bukanlah Sinta. Mungkin sekali aku pernah bertemu dengannya. Di sebuah tempat. Di sebuah papasan.

Selamat pagi. Apakah kemiskinan demikian menggelapkan hingga ia membutuhkan api untuk membakar sekujur tubuhnya agar terang seluruh jalannya. “Sebelum kejadian saya masih melihatnya menyapu di halaman rumahnya,” kata seorang tetangga, “ia terlihat sehat dan baik-baik saja. Tapi saya tak sempat menyapanya.” Ia tampak menyesal kenapa tak menyapanya. Tidak tahu kenapa ia musti menyesal. Perempuan itu pati obong pasti bukan karena ia alpa menyapanya. “Saya tak menyangka akan ada kejadian begini. Seharusnya ia membakar sampah seperti biasanya. Tapi malah membakar dirinya dan anak-anaknya.”

Selamat pagi. Saya hendak ke kamar mandi. Semoga saya tak membakar diri meski kemiskinan masih menghantui dan cinta tetaplah barang pecah belah. Di dalam kamar mandi saya akan menikmati kesendirian saya. Menikmati dunia di sekitar saya yang makin lama makin menyerupai dongengan.

Jogjakarta, 2012

Dipublikasikan di Kedaulatan Rakyat, 22 Januari 2012

Panji Reni

Di hari naas itu Angreni bangun sedikit terlalu siang. Ia tak mendapati Panji Inu Kertapati di sebelahnya. Lelaki yang dicintainya itu telah sibuk di kebun belakang ketika matanya menemukan seekor kupu-kupu hinggap di bantal sebelahnya. Ia sama sekali tak menaruh firasat apa-apa. Di hari yang lain mungkin ia akan membatin tentang akan datangnya seorang tamu penting ke rumah mereka. Tapi tidak. Ia segera beranjak dari tempat tidur, membuka jendela kamarnya, dan menemukan punggung Inu Kertapati yang mengkilat oleh keringat. “Pagi, Kangmas.” Inu Kertapati menoleh. “Siang.” Jawabnya sambil tersenyum. Ia meletakkan cangkulnya dan segera mendekat ke jendela. “Perempuan cantik tetap akan cantik meski ia baru bangun tidur.” Godanya. “Meski bangunnya kesiangan?” Angreni balas menggoda. Panji Inu Kertapati tak menjawab. Tapi dengan cepat ia memeluk isterinya itu. Yang dipeluk pura-pura telat menghindar. “Gak mau. Gak mau. Badan kakang basah keringat!” Tapi Inu Kertapati tak mau melepaskannya. “Perempuan cantik akan tetap wangi meski ia belum mandi” Katanya sambil menciumi wajah Angreni. Sekali lagi Angreni pura-pura menghindar sambil tersipu malu. “Bau rambutmu seperti bau hutan di pagi hari.” Angreni tersipu malu.

“Pagi itu seperti pagi yang biasanya. Tak ada hal-hal yang khusus yang terjadi.” Kata Prasanta. “Mereka seperti lumrahnya pasangan yang baru saja menikah. Setiap saat adalah saat yang tepat untuk saling mencumbu.” Lelaki tua itu tersenyum tapi kesedihan seperti tak mau pergi dari wajahnya. “Ya, tapi begitulah. Pagi itu adalah terakhir kalinya bahagia itu ada.” Tambahnya setelah berhenti agak lama. Tampaknya ia baru saja kembali dari pagi yang terjadi tiga tahun yang lalu itu. “Nakmas, sudah tahu kelanjutannya, bukan?” Aku mengangguk. Jenggala memang kehilangan cahaya sejak pagi itu. Angreni ditemukan terbunuh di ruang tamu rumahnya dan Panji Inu Kertapati hilang dengan menggendong mayat isterinya tersebut. “Saya menyesal tak mengikuti jejaknya. Saya benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Saya hanya melihat majikan saya itu berjalan dengan membopong tubuh isterinya. Kejadian itu memaku seluruh tubuh saya. Juga pikiran saya.”

Itulah kali terakhir Prasanta melihat majikannya. Jurudeh, rekannya, juga tak jauh berbeda ceritanya. “Tak akan ada yang menyangka pembunuhan yang keji akan terjadi pagi itu. Saya bisa merasakan betapa terpukulnya hati majikan saya. Bayangkan saja, belum genap seminggu ia menikah, ia harus berpisah dengan isterinya dengan cara setragis itu. Tapi sungguh ia adalah seorang kstaria yang halus perasaannya. Ia tak membalas dendam kepada sang pembunuh. Tapi memilih pergi. Ia lebih memilih menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematian itu. Nakmas tahu kan siapa yang paling bertanggungjawab atas pembunuhan itu?” Aku kembali mengangguk.

Cerita yang lain baru kudapatkan ketika aku berhasil menemui Panji Kartala, adik Panji Inu Kertapati, yang tak lain adalah sang pembunuh keji itu. Agak susah menemukan kediamannya sejak peristiwa berdarah tersebut. Mungkin perasaan bersalah terus mengejarnya hingga ia memilih mengasingkan diri dari keramaian. Kini ia tinggal di sebuah gubug di lereng Gunung Wilis. Pada kedatanganku yang pertama ia sama sekali tak mau bercerita. Ia terus menutup pintunya rapat-rapat apalagi ketika tahu maksud kedatanganku. Aku sama sekali tak sempat melihat wajahnya. Ya, aku tahu kedatanganku pasti mengungkit luka lamanya. Tapi aku tak menyerah begitu saja. Aku tahu ia masih ada di balik pintu itu, menungguku melangkah pergi meninggalkan gubuknya.

“Raden, saya tak bermaksud mengungkit-ungkit kembali peristiwa itu. Saya hanya ingin mendengar cerita yang sebenarnya, langsung dari mulut Raden. Saya hanya seorang tukang cerita yang ingin tahu cerita sebenarnya. Apakah Raden ingin dikenal sebagai pembunuh keji sepanjang hidup Raden. Mungkin pengakuan dari Raden bisa menjernihkan kejadian itu.” Ia tak menyahut. Tapi aku yakin ia belum melangkah pergi dari balik pintu kayu itu. Pasti ia mendengar seluruh perkataanku dengan jelas.

“Baiklah, Raden. Jika Raden belum siap saya akan datang ke sini 3 hari lagi. Saya tidak akan memaksa Raden untuk bercerita. Apa pula hak saya. Tapi mungkin cerita Raden akan bisa sedikit meringankan penderitaan yang bertahun-tahun Raden sandang.” Sehabis kalimat itu aku segera melangkah pergi.

3 hari kemudian, ketika sore sudah hampir habis, aku datang lagi dan mendapati pintu kayu itu setengah terbuka. Sebuah pertanda baik, batinku. “Masuklah, Tuan.” Sebuah suara terdengar datar dari dalam ruangan. Suara Panji Kartala. Aku segera masuk ke dalam ruangan, satu-satunya ruangan yang ada dalam gubuk tersebut. Sempit dan gelap. Sama sekali tak ada cahaya. Sisa-sisa matahari sore seperti tak berani masuk ke dalam gubuk. Hatiku bergetar. Mungkin seekor kambing pun akan menolak dikandangkan di situ. Tak terbayangkan olehku, seorang anak raja yang seharusnya tinggal dalam kasatrian yang megah harus berdiam dalam ruangan sempit yang pengap dan gelap seperti itu. Saking gelapnya aku tak bisa segera menemukan sosoknya. “Duduklah, Tuan. Maaf keadaannya seperti ini.”  Suaranya kembali terdengar. Mungkin sengaja untuk menuntunku yang tampak kebingungan menempatkan diri dalam gelap. Suaranya persis datang dari arah depanku. “Duduk saja sesuka Anda, Tuan. Tak ada apa-apa dalam ruangan ini. Jadi Anda bisa duduk di mana saja.” Aku segera duduk di tempatku berdiri saat itu. Menurut dugaanku Panji Kartala tengah duduk di depanku. Jadi saat itu kami tengah duduk saling berhadapan. Semoga saja pandanganku segera terbiasa dengan kegelapan sehingga bisa mengenali sosoknya yang misterius. Tapi harapanku sepertinya tak akan terkabul. Cahaya benar-benar telah menyingkir dari hidup Panji Kartala.

“Saya bukan pembunuh, Tuan.” Ia segera memulai ceritanya. “Bukan saya yang membunuhnya. Saya mencintai Kangmas saya. Saya juga mencintai Angreni yang telah membuat Kangmas saya begitu bahagia.” Panji Kartala berhenti. Ia mengambil nafas panjang, seperti tengah mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan ceritanya. “Malam itu ayah memanggil saya. Saya diminta untuk segera menghabisi nyawa Angreni. Perempuan itu telah merusak seluruh agenda keluarga kami, demikian alasannya. Rencana pernikahan Kangmas dengan Sekartaji jadi berantakan karena kehadirannya. Seperti Anda tahu, jika bisa terlaksana, pernikahan Panji Inu Kertapati dengan Sekartaji itu bukan pernikahan biasa, tapi pernikahan dua negeri; Jenggala dan Kediri. Jadi jalan satu-satunya untuk melancarkan kembali rencana itu adalah dengan menyingkirkan Angreni.” Panji Kartala kembali terdiam. Sepi. Saya bahkan tak mendengar hembusan nafasnya. Lelaki perkasa yang saat itu duduk di hadapan saya benar-benar telah mati sebelum waktunya.

“Malam itu saya tak bisa tidur, Tuan. Perasaan saya kacau balau antara melaksanakan atau menolak perintah itu. Panji Inu Kertapati adalah seorang kakak yang begitu saya hormati dan cintai. Saya tak akan sampai hati melukai perasaannya dengan menyingkirkan Angreni. Saya tahu kakak saya sangat mencintai perempuan itu hingga ia rela menanggalkan seluruh gelar kebangsawanannya demi mendapatkan perempuan desa itu. Tapi perintah raja adalah perintah dewata. Mau tidak mau saya harus melaksanakannya. Kalau pun saya menolak tentu ayah akan mengutus saudara-saudara saya yang lain. Sama saja. Angreni tetap akan tersingkirkan.”

Cerita Panji Kartala terus mengalir deras seperti Sungai Brantas. Mungkin baru kali itulah ia membeberkan semuanya. Aku seperti tengah menyaksikan sebuah bendungan yang jebol. Ia menumpahkan seluruh perasaannya yang aku tahu tak akan mengubah kenyataan—ia juga tahu pastinya: Angreni tak akan bisa hidup lagi.

Ia berlama-lama dalam menggambarkan kebimbangan hatinya. Mungkin dengan demikian perasaan bersalahnya akan sedikit berkurang. Ia seperti ingin menunjukkan bahwa ia tak melakukan pembunuhan itu sepenuh hatinya. Ia hanya sekadar menjalankan perintah. Aku tak terlalu tertarik dengan ceritanya di bagian tersebut meski aku bisa merasakan kesungguhan ceritanya. Bahkan jika aku menuruti perasaanku mungkin aku akan hanyut dalam kesedihannya. Barulah ketika ia menceritakan detil peristiwa di rumah Panji Inu Kertapati ia kembali berhasil menarik perhatianku. Bagian itulah yang selama ini tidak pernah berhasil aku dapatkan. Hanya 3 orang yang mengetahui dengan pasti apa yang sesungguhnya terjadi di rumah kecil di pinggir hutan itu: Panji Inu Kertapati, Angreni dan lelaki menyedihkan di hadapanku itu.

“Kangmas menerima kedatangan saya dengan gembira. Ia memeluk saya lama sekali. Kedatangan saya dianggapnya sebagai pertanda baik bagi hubungannya dengan kerabat yang lain. Angreni juga menyambut saya dengan terbuka. Sungguh seorang perempuan yang mulia. Betapa beruntungnya Kangmas karena bisa mendapatkan perempuan serupa itu. Kecantikan dan keramahannya melebihi puteri-puteri kraton yang pernah saya kenal. Setelah berbasa-basi di ruang tamu saya segera menjalankan rencana yang telah saya susun sepanjang perjalanan.”

Sebuah siasat telah disusunnya. Ia membuat berita palsu bahwa Lembu Amiluhur, ayah mereka, sakit keras. Satu-satunya jalan bagi kesembuhannya adalah dengan obat bernama Tlutuhing Kayu Kastuba Roning Sandilata. Seluruh kerabat sudah berusaha mendapatkannya tapi tak ada satu pun yang pulang membawa hasil. Harapan satu-satunya kini berada di pundak Panji Inu Kertapati.

“Mendengar kabar itu Kangmas langsung tampak sedih. Ia menduga penyakit yang diderita ayah disebabkan oleh pernikahannya dengan Angreni. Pagi itu ia berencana kembali ke Jenggala untuk menengok ayah. Tapi saya buru-buru mencegatnya. Saya katakan yang terpenting saat ini adalah mendapatkan obat. Perkara keluarga bisa diselesaikan kemudian setelah ayah berhasil disembuhkan. Angreni sedari awal hanya diam mendengarkan percakapan kami. Wajahnya sedikit berubah ketika saya pertama kali menyebut nama obat itu. Saya takut ia telah mengendus siasat saya. Dan memang demikianlah yang saya rasakan. Perempuan itu seperti mampu membaca pikiran saya. Tapi anehnya ia hanya diam saja. Kenyataan itu membuat nyali saya makin ciut.”

Panji Inu Kertapati telah termakan siasat adiknya. Ia memutuskan berangkat pagi itu juga menuju Gunung Penanggungan di mana obat itu konon berada. Panji Kartala diminta tinggal untuk menjaga Angreni selama kepergiannya. Aku heran, jika benar Angreni telah mengendus rencana jahat Panji Kartala, kenapa ia membiarkan suaminya pergi. Tapi pertanyaan itu segera terjawab.

“Memang demikianlah yang saya harapkan. Kangmas Inu Kertapati pergi dan saya bisa membunuh Angreni tanpa rintangan siapa pun. Kami melepas kepergian Kangmas di pintu depan. Ia pergi dengan diiringi Jurudeh dan Prasanta sebagaimana biasanya. Hanya tinggal kami berdua di rumah kecil itu: saya dan Angreni, perempuan yang harus segera saya bunuh.”

Kemudian cerita berhenti. Lama sekali. Panji Kartala tak ingin melanjutkannya.

“Ini bagian tersulit, Tuan. Semoga Anda bisa memahaminya. Semoga Anda menghormati perasaan saya. Saya benar-benar tak bisa melanjutkannya.”

Aku pun meninggalkan gubuk itu. Tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membujuknya menceritakan bagian terpenting dari peristiwa pembunuhan di sebuah pagi 3 tahun yang lalu itu. Aku seperti hampir mencapai sebuah tempat dan tiba-tiba saja harus berhenti. Dipaksa untuk berhenti. Tak ada yang bisa kulakukan lagi. Ia satu-satunya sumber yang ceritanya tentu akan sangat kupertimbangkan dibanding kabar-kabar burung yang santer terdengar tentang kisah pembunuhan Angreni. Sumber yang lain adalah Angreni. Untuk itu aku harus menunggu mati untuk bisa menemuinya. Dan kelak jika aku berhasil bertemu dengannya seluruh cerita ini tak akan ada gunanya. Cerita ini penting bagi yang hidup. Bukan yang mati. Dan tentu saja aku tak bisa menyalahkan Panji Kartala yang tak mau meneruskan ceritanya. Sebagaimana Panji Inu Kertapati, aku lebih menyalahkan diriku atas kegagalan tersebut. Mengutuk kelemahanku yang tak mampu mengorek cerita lebih jauh dari mulut Panji Kartala. Sebagaimana Panji Kartala, lebih baik aku melupakan saja cerita ini.

Sebuah keajaiban datang pada sebuah pagi, beberapa bulan setelah pertemuanku dengan Panji Kartala. Keajaiban itu datang dalam wujud sepucuk surat. Surat dari Panji Kartala. Tampaknya ia sudah berubah pikiran. Memilih untuk menuntaskan ceritanya. Aku sama sekali tak menduganya. Pikiranku sudah disibukkan oleh cerita-cerita yang lain, yang tak kalah seru dan menyentuh. Berikut aku kutipkan sebagian yang merupakan kelanjutan ceritanya. Yang lain tak penting benar aku sampaikan.

Sehabis kepergian Kangmas Inu Kertapati ke Gunung Penanggungan, Angreni segera mempersilakan saya kembali masuk ke dalam. “Mari masuk, Dik. Ada yang ingin kubicarakan.” Katanya dengan penuh kelembutan. Saya mengikutinya ke ruang tamu. Hati saya makin berdebar-debar. Mungkin ia akan membuka muslihat saya. Tapi bukan perkara itu benar yang saya risaukan. Karena bagaimanapun saya harus segera membunuhnya. Mengakhiri muslihat saya. Perkara yang lebih penting adalah apakah saya sanggup membunuh perempuan itu. Apakah saya sanggup melukai hati Kangmas Inu Kertapati. Dan saya akan segera menemukan jawabannya. Tapi terlebih dulu saya ingin mendengar apa yang hendak disampaikan Angreni.

Ia mengambil tempat duduk persis di seberang saya. Di antara kami hanya ada sebuah meja kayu sederhana. Tak ada hiasan apa-apa di atasnya. Hanya tiga gelas air putih sisa pertemuan tadi. Perempuan itu menatap saya dengan lembut. Tak berlebihan jika saya katakan bahwa tatapan semacam itu hanya bisa dimiliki oleh seorang bidadari. Kemudian jantung saya berdetak lebih keras dari yang seharusnya. Keringat dingin mulai mengalir di seluruh tubuh saya.

“Dik, aku sudah siap. Di mana Adik akan melakukannya?”

Hati saya benar-benar ciut. Perempuan itu sudah membaca segalanya. Dan yang lebih menggentarkan lagi, ia sama sekali tak menolak kenyataan yang mesti dihadapinya.

“Aku kan obat yang dibutuhkan oleh ayahanda Lembu Amiluhur?”

Saya menundukkan kepala saya dalam-dalam. Rasanya leher saya sudah tak sanggup lagi untuk menegakkannya.

“Akulah Tlutuhing Kayu Kastuba Roning Sandilata. Darahkulah getah kayu Kastuba. Tubuhkulah daun Sandilata yang akan menyembuhkan sakit beliau, benar demikian kan, Dik?”

Saya benar-benar tak bisa bicara, Tuan. Perempuan mulia itu telah mengalahkan saya.

“Lakukanlah apa yang mesti kaulakukan, Panji Kartala. Tugasmu adalah membunuhku. Dan jika memang benar kematianku akan membahagiakan Jenggala aku rela menyerahkan nyawaku. Apalagi jika kematianku akan membuat hidup Kangmas Panji Inu Kertapati lebih bahagia dari apa yang didapatnya sekarang bersamaku.”

Perempuan itu kini telah bersimpuh di hadapan saya.

“Lakukan sekarang atau aku akan melakukannya sendiri.”

Kejadian selanjutnya berlangsung begitu cepat. Keris yang semula berada di pinggang saya telah berpindah tempat. Keris itu tahu-tahu sudah menancap di dada Angreni. Saya baru menyadari kejadian itu ketika tubuhnya jatuh menimpa paha saya. Perempuan itu tewas di pangkuan saya, Tuan. Tubuhnya mengejang sebentar kemudian diam untuk selama-lamanya.

Demikianlah, Tuan. Kemudian saya bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Saya ingin pergi sejauh-jauhnya. Saya ingin melupakan peristiwa itu.

Cerita dari Panji Kartala itu setidaknya cukup menjawab teka-teki seputar pembunuhan Angreni yang telah menyebabkan Panji Inu Kertapati hilang ingatan dan pergi tak jelas di mana rimbanya. Tentu saja cerita ini bukanlah kebenaran tunggal yang layak untuk dipercaya begitu saja. Ah, aku ingin cepat-cepat menyelesaikan cerita ini. Lalu segera menyerahkannya kepada Entit[i]. Petani desa yang kaya raya itu pasti sudah tak sabar menunggu cerita pesanannya jadi.

Jogjakarta, 2011


[i] Seorang petani buruk rupa yang merupakan penyamaran dari Panji Inu Kertapati

Dipublikasikan melalu Suara Merdeka,  10 Juli 2011