Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya

Judul : Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya

Penulis : Gunawan Maryanto

Penerbit : Omahsore 2008, Yogyakarta

Tebal : x + 75 hlm; 12.2 x 18 cm

ISBN : 978-979-19047-0-4

Harga: Rp 30.0000,-

Dalam puisi Gunawan Maryanto, saya menemukan kembali metafor visual yang memenuhi kanvas di awal abad ke 20 itu, tetapi dalam cara pandang yang berbeda. Jika sebagian besar kritikus Mooi Indie, termasuk S. Soedjojono menyebut bahwa para pelukis itu telah menghamba pada selera para kolonialis, maka pada puisi Gunawan, kita menemukan bahwa objek-objek itu merupakan bagian yang wajar dari keseharian kita.

Misalnya, dalam sajak “Kampung dan Ladang Jagung”, Gunawan menulis:

Aku masih berada di belakang rumah nenek/Melewatkan sore dan film-film kartun/Melewatkan jalan kecil yang kau tunjuk dalam sebuah peta/–kita bisa sembunyi di sana sampai benar-benar dewasa …. Cari tempat sembunyi yang aman dari belukar dan ular.

Atau, mari kita dengarkan “Mereka”:

Langit oranye di matamu/bunga-bunga rumput di sweatermu/–tapi tak ada lagu… Harus kunamakan apa/cinta yang berjatuhan di kaki candi/Kataku kepadamu dengan tangan terentang/laiknya burung terbang…. Serakan andesit sakit dan ilalang/seribu kehilangan demi kehilangan. 

Sebagaimana para pelukis zaman Mooi Indie, Gunawan menggunakan metafor yang cenderung menggambar lanskap seperti belakang rumah nenek, jalan kecil hingga belukar dan ular, batu andesit hingga burung terbang. Tetapi, ia tidak menggunakannya untuk membawa kita pada petualangan atas sesuatu yang asing, sebaliknya, dengan cara tertentu, pembaca disadarkan keberadaan objek-objek tersebut sebagai bagian yang amat wajar dari hidup sehari-hari. Alam desa tidak dihadirkan untuk merujuk pada “sang liyan”, tetapi bagian dari “kita”. (Alia Swastika, Penulis)

Wayang adalah dongeng yang dikembangkan masyarakat Jawa berdasarkan dongeng yang semula diciptakan oleh masyarakat lain nun jauh di barat, yakni India. Di sini terletak keunikan posisi wayang sebagai dongeng Jawa yang sampai hari ini bertebaran dalam karya sastra kita, yang ditulis oleh Jawa maupun oleh sastrawan yang berasal dari kebudayaan lain. Kalau kita katakan sekarang bahwa Gunawan Maryanto telah memanfaatkan wayang sedemikian rupa agar sesuai dengan situasi komunikasi modern yang telah menuntutnya untuk di sana-sini mengubahnya, dongeng yang diubahnya itu sebenarnya juga merupakan usaha pujangga-pujangga sebelumnya untuk melakukan hal serupa. Demikianlah maka dongeng, dalam maysarakat mana pun, menjadi tradisi karena senantiasa mengalami proses serupa itu. Tradisi adalah proses, bukan sesuatu yang berhenti dan menjadi fosil. Dari sudut pandang ini, Gunawan Maryanto telah melaksanakan tugas sebaik-baiknya untuk memberikan sumbangan dalam menciptakan tradisi dongeng Jawa. Dengan berbagai piranti puitik yang dikuasainya dengan sangat baik, ia telah memanfaatkan – baca: mengocok, memelintir, menggarisbawahi, menyalahartikan – dongeng wayang (dan juga berbagai dongeng lain yang dikembangkan masyarakatnya) telah menjadi sangat dominan sebagai alat pengucapan dalam puisinya. (Sapardi Djoko Damono, Penyair)

Sejumlah Perkutut buat Bapak

Judul : Sejumlah Perkutut buat Bapak

Penulis : Gunawan Maryanto

Penerbit : Omahsore 2010, Yogyakarta

Tebal : viii +48 hlm; 12 cm x 18 cm

ISBN : 978-979-19047-9-7

Harga: Rp. 30.000,-

Kumpulan Puisi Sejumlah Perkutut Buat Bapak ini terdiri dari 3 buah puisi: Kayon Gapuran, Kayon Blumbangan dan Sejumlah Perkutut Buat Bapak itu sendiri. Ketiganya sama-sama adalah puisi yang melukiskan (nyandra dalam istilah Jawanya). Kayon Gapuran dan Kayon Blumbangan adalah penggambaran kembali kedua jenis kayon. Kayon adalah gunungan dalam pertunjukan wayang di Jawa. Kedua puisi tersebut berusaha untuk menurunkan atau menerjemahkan kembali kayon-kayon itu lewat kata-kata. Demikian pula dengan Sejumlah Perkutut Buat Bapak. Puisi panjang ini terdiri dari 30 bagian. 30 bagian dengan masing-masing judul yang berbeda ini adalah 30 macam ciri mathi perkutut bagi orang Jawa. Ciri mathi kurang lebih adalah ciri fisik, jenis anggungan (suara), dan juga karakter. Selain lewat ciri mathi perkutut bagi orang Jawa juga dibedakan berdasar katuranggan atau bentuk badannya. Tapi dalam Sejumlah Perkutut Buat Bapak saya hanya berangkat dari ciri mathi perkutut saja. Melalui ciri mathi orang Jawa berusaha memaknai perkutut bagi kehidupan pribadi dan sosialnya. Jenis-jenis perkutut tertentu akan mendatangkan kebahagiaan, jenis yang lain akan mendatangkan kebalikannya. Jenis perkutut tertentu akan membuat pemeliharanya sukses dalam kerjanya. Jenis perkutut tertentu akan membuat Anda memiliki kedudukan yang kuat dalam masyarakat.

Barangkali pembaca akan terganggu dengan judul-judul yang terasa aneh dalam kumpulan ini, tapi demikianlah, nama-nama yang terasa tak akrab itu tetap saya pertahankan. Pertama karena susah untuk diterjemahkan, kedua karena merupakan nama—tentu kita tak perlu bersusah payah untuk menerjemahkan sebuah nama. Namun demikian setiap nama selalu memiliki arti dan makna. Arti dan makna itulah yang sebagian besar menjadi isian bagi puisi-puisi tersebut, selain penggambaran tentang ciri mathi-nya. Semoga dengan membaca dan menikmati puisi-puisi dalam kumpulan ini pembaca bisa lebih mengenal bagaimana orang Jawa memaknai dunianya. Tetapi sebagai sebuah puisi tentu Anda bisa bebas menafsirnya sendiri, dan barangkali pengantar ini adalah sebuah gangguan tersendiri. Jika demikian abaikanlah pengantar ini. Sebagai sebuah puisi yang berusaha menggambarkan sesuatu tentu ada banyak hal yang tak mampu dengan mudah saya gambarkan kembali melalui kata-kata. Saya juga tak bisa menahan diri saya untuk menyusupi puisi-puisi dalam kumpulan ini dengan soal-soal personal maupun sosial yang tengah saya hayati. Jadi sebenarnya puisi-puisi dalam kumpulan ini tak ubahnya puisi pada umumnya. Anda tak perlu terganggu dengan ciri mathi dan tetek-bengek kejawaan yang bertebaran di mana-mana.

Terakhir saya ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besar kepada Inez Dikara dan Kinu Triatmojo yang telah bersusah payah menghadirkan buku kumpulan puisi ini. Terimakasih juga saya sampaikan kepada rekan-rekan di Teater Garasi yang terus-menerus menginspirasi saya selama ini. Kumpulan ini adalah kado kecil buat bapak saya, seorang mantan peternak perkutut, juga persembahan buat Anda pecinta puisi Indonesia. Terimakasih.