Mbak Mendut

Di jalan Bugisan Jogja dulu ada sebuah warung rokok. Kecil dan seadanya, berdiri di atas trotoar jalan. Sebuah warung berbentuk gerobak dengan 2 roda sepeda gembos terpasang di kedua sisinya. Tak ada yang istimewa dari warung itu, tak beda dengan warung-warung rokok lainnya. Rokok yang dijual pun rokok biasa yang dengan mudah kaudapatkan di warung lainnya. Yang istimewa adalah penjualnya. Namanya Mendut. Aku memanggilnya Mbak Mendut. Asli pesisir katanya. Datang ke Jogja karena sebuah kecelakaan. Kecelakaan dalam tanda kutip.

Ini semua sebuah kesalahan, Mas, katanya pada suatu sore saat aku membeli sebungkus rokok kretek di warungnya. Harusnya saya masih di kampung menunggu para nelayan pulang membawa ikan. Sore-sore seperti ini sepantasnya saya merajut jala di teras rumah. Mungkin pula saya tengah menunggu suami saya, seorang nelayan muda yang gagah pulang dari laut. Sore-sore seperti ini tak selayaknya saya ngobrol berdua bareng Sampeyan. Di pinggir jalan pula.

Acara membeli rokok yang mestinya cuma sebentar bisa menjadi lama, tertahan oleh ceritanya yang serupa air sungai. Mengalir tak pernah habis. Menuju samudra yang begitu dirindukannya.

Mbak Mendut datang kurang lebih setahun yang lalu. Dibawa oleh seseorang lelaki bernama Alap-Alap. Pemuda dari kota Jogja itu berjanji akan memberinya pekerjaan.

Sebenarnya saya nggak mau, Mas. Tapi bapak maksa. Adik-adik masih kecil dan butuh duit buat sekolah. Maka ikutlah saya dengan Mas Alap-Alap bersama dengan beberapa gadis lain dari kampung saya. O ya, Teluk Cikal nama kampung saya. Kampung nelayan kecil di tepi Pantura. Kami dibawa naik bis ke Jogja. Setengah hari kami baru sampai di kota ini karena bis itu harus mampir ke banyak kampung lain. Mengambil gadis-gadis seusia kami. Saya diam saja sepanjang perjalanan. Pikiran saya penuh dengan bayangan-bayangan yang menakutkan. Perasaan saya mendukung pikiran saya. Jadinya tubuh saya dipenuhi ketakutan. Keringat dingin tumbuh di sekujur tubuh saya. Leher, dada, punggung dan ketiak saya basah oleh keringat. Badan saya serasa pliket, lengket, pengen rasanya segera mandi air yang segar. Tapi perjalanan tampaknya masih jauh. Tak mungkin saya menghentikan laju bis. Bahkan ketika saya hampir tak kuat menahan pipis. Siapa pula saya ini. Bis baru berhenti ketika Mas Alap-Alap menghendakinya. Mampir di pom bensin. Atau berhenti di warung kopi. Tapi kami tak turun. Kami tak berani turun. Kecuali terpaksa harus pipis di WC umum yang banyak terdapat di pom bensin. Sepasang mata Mas Alap-Alap memang mirip burung Alap-Alap. Mengawasi kami dengan tajam.

Aku kenal Mendut belum terlalu lama. Sejak gerobak warungnya nongkrong di tepi jalan yang tak jauh dari rumahku beberapa bulan yang lalu aku sama sekali tak pernah mampir ke ke sana. Jika membutuhkan rokok aku biasanya ke warung kelontong Samidi langgananku. Atau kalau tidak aku akan pergi ke Indomaret yang berdiri persis di seberangnya. Atau kalau tidak ya ke Alfamart di sebelah Indomaret. Warung rokoknya yang mungil hanya kulewati saja. Aku bahkan tak pernah benar-benar menyadari kehadirannya. Beberapa pemuda tanggung yang nongkrong di sekitar warung juga membuatku semakin malas mampir ke sana.

Hingga di sebuah malam.  Persis tengah malam aku kehabisan rokok—ini sebuah bencana bagiku—dan terpaksa harus mampir ke warungnya lantaran seluruh warung di sekitarku telah tutup. Samidi biasa tutup pintu warung pukul sebelas malam. Demikian juga dengan Indomaret dan Alfamart di seberangnya, mereka tutup setengah jam sebelum Samidi. Yang tersisa hanyalah warung-warung Indomie. Ada juga rokok di sana. Tapi mereka hanya mau menjualnya eceran, batang per batang. Tentu saja jatuhnya lebih mahal jika aku membeli satu bungkus sekaligus. Akhirnya dengan enggan aku mampir ke warung Mbak Mendut. Tumben sepi. Tak ada satu pun pemuda yang nongkrong di dekat warungnya. Mungkin karena hujan atau apa. Aku lupa. Malam itu hujan atau tidak. Aku hanya ingat malam itu begitu sepi. Dingin memaksaku mengenakan jaket dan berjalan pelan menuju warung Mbak Mendut. Hanya dingin dan sepi yang tertanam dalam ingatanku. Selebihnya adalah wajah Mbak Mendut. Sepenuhnya. Wajah yang mengingatkanku pada pantai yang jauh, pada ombak lautan, pada cakrawala yang membentang tak tersentuh. Wajah yang membuatku gemetar setiap kali mengingatnya.

Tiba-tiba saja aku mengutuk diriku sendiri yang selama ini menyia-nyiakannya. Diriku yang berlalu lalang di depan warungnya tanpa pernah menoleh sedikit pun. Bagaimana bisa gadis serupa Mbak Mendut tak kusadari kehadirannya selama ini. Malam itu aku tak bisa tidur. Sebungkus rokok yang kubeli darinya sama sekali tak menarik perhatianku.

Mendut dalam bahasa Jawa berarti kenyal, mengeper, atau manggut-manggut, bisa juga berarti penganan yang dibuat dari tepung ketan yang diisi dengan unti (kelapa parut yang diberi gula jawa) lalu dikukus dengan daun pisang. Tapi bagiku Mendut  adalah sesuatu yang tak keras tapi juga tak empuk. Ia berada di antara keduanya. Ia seperti sesuatu yang belum jadi. Seperti sebuah perjalanan—dan kita tak tahu menuju ke mana. Dan pertemuanku dengan Mbak Mendut membuat perasaanku terus bergerak seperti tengah menempuh sebuah perjalanan.

Tumbas rokok, kataku. Tak ada jawaban dari dalam gerobak rokok itu. Tumbas rokok, kataku sekali lagi. Lebih keras. Tetap tak ada jawaban. Aku melongok ke dalam gerobak. Tak ada siapa-siapa ternyata. Gerobak itu kosong. Tiba-tiba saja entah karena apa bulu tengkukku berdesir. Ada angin berhembus pelan di belakang punggungku. Oh, sepi benar-benar telah menjadi. Dan menjadikanku benar-benar merasa seorang sendiri. Baru saja aku memutuskan untuk berbalik dan pergi sebuah suara menyapaku: rokok apa, Mas? Suara itu datang tepat dari belakangku. Dengan kaget aku berbalik. Kali ini bukan karena takut. Tapi malu. Seperti pencuri kecil yang tertangkap tangan. Atau seorang pengintip yang ketahuan. Gelagapan aku menjawab, Samsu kretek, Mbak. Berapa? Sahutnya cepat sambil bergerak masuk ke dalam gerobak warungnya. Satu. Jawabku tak kalah cepat. Satu apa? Satu batang atau satu bungkus? Ia lebih cepat lagi. Kini aku dapat melihat dengan jelas wajahnya. Wajah yang membuatku takjub dan tak bisa segera menjawab pertanyaannya. Satu batang atau satu bungkus? Tanyanya sekali lagi membuyarkan ketakjubanku. Eh.. satu bungkus, Mbak.

Ia tersenyum. Lagi banyak pikiran ya, Mas? Tanyanya sambil menyerahkan sebungkus kretek Samsu. Ah, enggak kok. Jawabku kagok. Ya, mikir Sampeyan itu, Mbak, batinku. Senyum Sampeyan itu lho, Mbak. Seperti perahu kecil yang mengambang tenang di laut pasang. Pikiranku terus bergerak hingga lupa memerintahkan tanganku merogoh dompet di saku celana. Sepuluh ribu tiga ratus, Mas. Perahu mungil itu bergerak pelan dengan indahnya. Tenang tapi menghancurkan pikiranku. Membuatku tergopoh-gopoh merogoh dompet di saku celana. Sepuluh ribu berapa, Mbak? Tanyaku beneran karena aku sama sekali tak mendengar dengar jelas harga yang disebutkannya. Tiga ratus. Jawabnya. Masih dengan senyum yang sama tapi dengan makna yang berbeda menurutku. Senyum jengkel mungkin. Senyum yang sebentar lagi mungkin akan berubah menjadi serangai yang menakutkan.

Aku menyerahkan uang sebesar sebelas ribu kepadanya. Dengan cepat ia menerima lembaran uangku dan mencari kembaliannya. Maaf receh ya, Mas. Katanya sambil menyerahkan kembalian. Gak apa-apa, Mbak. Aku mencoba tersenyum. Baru saja aku mau bilang terimakasih untuk menutup percakapan dan segera beranjak pergi ia telah memotong dengan pertanyaan: Mas yang tinggal di sanggar teater itu ya? Pertanyaan itu sangat mengagetkanku. Eh, iya, Mbak. Jawabku agak malu. Ia mengenalku dan aku tak mengenalnya. Sungguh tak sopan rasanya. Nama saya Mendut, Mas Gunawan. Gubrak. Seluruh hal tiba-tiba runtuh menimpaku. Ia bahkan tahu namaku. Gusti Allah! Eh, kok tahu? Sahutku sekenanya. Ia tersenyum. Ya, sebagai orang baru saya harus cepat mengenal semua yang ada di sini. Yang datang lebih dulu dari saya. Jawabnya dengan enteng. Seenteng senyumnya malam itu.

Sebagian dari diriku ingin segera pergi dari dari hadapannya. Secepat mungkin. Tak kuat rasanya menanggung seluruh kehancuran diriku di muka warung rokoknya. Tapi ada bagian diriku yang lain yang justru tak mau beranjak pergi. Ingin tetap di sana. Selama-lamanya. Edan. Dan aku harus mendamaikan keduanya—di bawah tatapan Mbak Mendut yang serupa bintang kembar.

Gak apa-apa, Mas. Saya bukan siapa-siapa kok. Tak perlu Sampeyan merasa bersalah. Toh sekarang kita sudah saling kenal. Ia terus nyerocos sambil seolah membaca pikiranku. Aku tak tahu dengan persis kalimat apa lagi yang keluar dari mulutnya. Seluruh diriku tak berada di sana. Entah di mana. Yang jelas tak berada di hadapan Mbak Mendut. Aku tak tahu berapa lama seluruh diriku berangsur kembali dari pelariannya. Lama rasanya. Sampai akhir aku bisa menutup perkenalan itu sebaik yang aku bisa dan pulang. Meninggal sepasang bintang dan sebuah perahu nelayan di kejauhan dengan gamang.

Sampai di Jogja Mbak Mendut dan teman-temannya diserahkan kepada seseorang bernama Wiraguna. Seeorang lelaki tua berusia hampir 70 tahun. Lalu Alap-Alap pun hilang tak kelihatan lagi batang hidungnya. Terbang entah ke mana.

Oleh Wiraguna mereka ditempatkan di sebuah asrama. Atau barak lebih tepatnya. Selama belum mendapatkan pekerjaan mereka harus tinggal di sana, tidur berdesakan di sebuah ruangan semacam bangsal yang di kompleks rumah Wiraguna. Mereka juga tak boleh keluar dari pagar rumah Wiraguna. Tidak enak dengan tetangga, begitu penjelasan Wiraguna. Ia takut dikira penyalur tenaga kerja liar. Padahal niatnya cuma ingin membantu saja. Begitulah yang berkali-kali dikatakan oleh Wiraguna. Seluruh kebutuhan mereka disediakan oleh Wiraguna dan beberapa orang pembantunya. Juga pekerjaan, konon Pak Wira sendiri yang mencarikannya. Ia punya banyak koneksi, katanya.

Sebenarnya Pak Wira meminta saya untuk tidur di rumah utama, bukan di bangsal bersama teman-teman saya, kata Mbak Mendut suatu sore kepadaku. Ada kamar kosong yang bisa saya pakai kata Pak Wira. Tawaran ini khusus buat kamu, bukan buat yang lain, kata Pak Wira lagi. Tapi saya nggak mau, Mas. Gak enak sama teman-teman yang lain. Terlebih lagi pada diri saya sendiri. Mosok saya tidur di sana. Di kamar yang sama sekali bukan hak saya. Dengan halus saya menolaknya. Lho, memangnya Pak Wira nggak punya isteri? Tanyaku. Mbak Mendut menggeleng. Katanya sudah meninggal 5 tahun yang lalu, Mas. Tapi nggak tahulah. Sebab kata Jondil, pembantunya, meskipun Nyonya Wiraguna sudah meninggal Pak Wira masih punya banyak isteri, tapi semuanya simpanan. Entah disimpan di mana. Priyayi kaya raya seperti dia mungkin saja melakukannya. Kata Jondil Pak Wiraguna seneng sama saya. Pengen saya jadi isterinya yang resmi. Terus terang saja saya nggak percaya. Mosok priyayi Mataram seperti dia jatuh cinta sama saya, cewek dari kampung nelayan yang miskin. Jelek dan amis. Apa gak akan membuatnya turun derajat. Didandani kayak apa saja saya itu gak pantes dibawa ke kondangan. Mbak Mendut tertawa. Mungkin ia merasa geli dengan bayangan-bayangannya sendiri. Aku pun ikut tertawa. Tapi bukan karena membayangkan Mbak Mendut yang tak pantas mendampingi Wiraguna. Aku tertawa pada kepolosannya. Orang cantik sesungguhnya tak tahu kalau dirinya cantik. Dan orang cantik tak perlu apa pun untuk mempercantik dirinya.

Tapi Pak Wira tak putus asa untuk membujuk saya, Mas. Hampir tiap hari ia kembali menawarkan kebaikannya. Sampai suatu kali ia menyampaikan perasaannya. Ia jatuh cinta pada saya. Priyayi Mataram itu jatuh cinta pada gadis pesisir seperti saya. Saya bingung bagaimana mesti menjawabnya. Apa saya berhak menjawab? Akhirnya terus terang saya bilang kepadanya bahwa saya masih ingin sendiri. Saya datang ke Jogja untuk mencari kerja, bukan mencari suami. Wajahnya merah padam, Mas. Mungkin baru kali itu ia mendapat penolakan. Tapi ia tak meledak marah. Hanya diam dan menatap mata saya dalam-dalam. saya melihat kesedihan di sana. Kesedihan yang menyala-nyala dan siap membakar apa saja. saya gemetar, Mas. Bukan karena takut.

Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau menjadi isteri saya. Kamu tetap boleh tinggal di sini sampai kamu mendapatkan pekerjaanmu. Tapi tak ada yang gratis di dunia ini. Tak ada yang percuma. Mulai besok kamu harus membayar seluruh biaya yang sudah aku keluarkan. Semuanya. Termasuk uang yang sudah aku bayarkan pada Alap-Alap. Kalimat-kalimat itu meluncur dengan tenang dan dingin dari mulut Pak Wira. Hampir tanpa tekanan. Datar saja. Tapi bagi saya kalimat itu seperti pisau yang menusuk dada saya berulang. Dari mana saya mesti membayar itu semua. Saya sama sekali tak memegang uang. Pekerjaan yang dijanjikan pun tak tak jelas kapan datang. Dan bisa saja Pak Wira menunda-nunda pekerjaan itu sampai akhirnya saya menyerah dan mau menjadi isterinya.

Aku geram mendengar cerita Mbak Mendut. Ingin sekali aku bertemu dengan orang bernama Wiraguna itu dan memukulinya.

Malam itu saya tak bisa tidur. Pikiran saya ke mana-mana. Ingin rasanya saya kabur dari penjara Pak Wira tapi bagaimana caranya. Tembok itu begitu tinggi. Dan saya tahu, beberapa anak buah Pak Wira diam-diam mengawasi kami dari kegelapan. Pernah sekali kejadian, salah seorang dari kami mencoba pergi dari rumah itu. Ia berhasil melompat pagar tembok itu. Tapi tak berapa lama ia sudah kembali bersama kami. Dengan wajah babak belur. Sejak malam itu kami tahu bahwa hidup kami berada di tangan Pak Wira. Pikiran saya melayang ke kampung halaman. Menyaksikan bapak dan adik-adik saya. Menyaksikan teman-teman saya. Menyaksikan masa lalu saya. Lalu saya jatuh tertidur. Lelah dengan bayangan-bayaangan yang beredar dalam kepala saya barangkali.

Paginya saya bangun. Seperti ada sebuah keberanian menyusup ke dalam dada saya, membangunkan saya dengan kesegarannya. Setelah mandi saya datang ke rumah utama. Mengetuk pintu rumah Pak Wira tanpa ragu. Ia membuka pintunya lebar-lebar. Dengan senyum yang lebar pula. Wajahnya seperti jenderal yang baru saja memenangkan sebuah pertempuran. Saya menatap matanya. Pagi itu saya merasa seperti kuda liar dari Sumba. Kuda liar yang lapar. Dan Pak Wira tak ubahnya rumput hijau sebuah padang yang baru saya temukan. Tahu-tahu sudah saya lumat bibirnya yang tebal dan kering itu. Batin saya meringkik sekeras-kerasnya. Saya desak tubuhnya ke daun pintu. Dan saya habiskan rumput hijau yang tiba-tiba tumbuh di mulutnya.

Ah, susah sekali membayangkan kejadian itu. Membayangkan Mbak Mendut melayani nafsu bandot tua seperti Wiraguna. Terus terang ini bagian yang paling tak kusukai dari cerita-ceritanya. Bagian yang akan kuhapus jika kelak aku menulis kisah hidupnya.

Lalu saya pergi, Mas. Meninggalkannya pagi itu juga. Ia hanya bisa membiarkan punggung saya meninggalkannya pelan-pelan. Seluruh tenaganya habis saya kuras. Saya lega bisa terbebas darinya. Sepasang tangan saya seperti berubah menjadi sayap Garuda. Tapi saya tahu ia kembali mengejar saya. Lelaki seperti Wiraguna tak akan pernah putus asa. Mbak Mendut ketemu lagi dengan Wiraguna? Mbak Mendut tersenyum. Mas Gun, ini baru awal dari kisah saya, katanya sambil menyerah sebungkus rokok samsu ke tanganku.

Keesokan harinya saat aku hendak membeli rokok di warungnya aku kaget bukan kepalang. Banyak orang berkerumun di sekitar warungnya. Beberapa polisi tampak berjaga di sana. Jantungku berdetak makin kencang. Segera aku mempercepat langkahku menuju kerumunan orang-orang itu. Ada apa, Pak? Ada apa? Aku bertanya kepada salah seorang dari mereka. Pembunuhan, katanya. Siapa?

Mendut!

Mbak Mendut ditemukan tewas di warung rokoknya. Sebuah peluru melubangi kepalanya. Berita tentang terbunuhnya penjual rokok bernama Mendut muncul di koran-koran lokal hari berikutnya. Polisi dikabarkan masih terus mencari pelakunya. Sempat juga terdengar kabar polisi tengah mencari seseorang bernama Pranacitra. Pemuda itu dicurigai sebagai pembunuh Mbak Mendut. Tapi sampai sekarang tak terdengar lagi kabar beritanya. Pembunuh Mbak Mendut tak pernah diketemukan. Warung rokok itu pun tak ada lagi. Dibakar oleh warga sekitar. Agar hantu Mbak Mendut pergi dari sini, kata orang-orang. Tapi Mbak Mendut tak pernah pergi. Aku tahu. Ia ada di tiap batang rokok yang aku hisap. Ia menari di kepulan asap yang kuhembuskan pelan dari mulutku.

 

 

Jogjakarta, 2011

 

Dipublikasikan di Koran Tempo, 19 Pebruari 2012

 

 

Berita Pagi

Selamat pagi. Seorang perempuan membakar diri pagi ini. Ia membakar diri di kamar mandi bersama dua anak balitanya. Di kamar mandi, masih di kotaku yang kecil ini, seorang perempuan mengguyur tubuhnya dengan bensin. Ia tak lupa mengguyur pula dua gundul anaknya yang lucu-lucu itu. Ia tak hendak membersihkan kutu di kepala mereka. Ia ingin mengakhiri hidupnya. Hidup mereka bertiga. Sebelumnya ia menulis di selembar kertas mengingatkan kepada suaminya bahwa ia masih memiliki hutang duapuluh ribu rupiah kepada Bu Turiyah. Lalu api pun membakar tubuh mereka bertiga. Mandi api di pagi hari kata seorang tetangganya seperti sedang berpuisi. Ledakan terdengar memecah pagi jam delapan di perkampungan tanggung itu—desa sudah bukan kota masih belum. Turiyah yang tengah memasak segera berlari menuju sumber ledakan: kamar mandi di sebuah rumah kos-kosan. “Waktu saya lagi masak dengan suara keras dari rumah Umi, saya langsung mendatangi rumahnya. Pas masuk dengar anak teriak-teriak di kamar mandi. Lalu saya dekati ternyata pintu kamar mandinya dikunci dan mengeluarkan banyak asap.” Turiyah tak bisa berbuat apa-apa. Kamar mandi terkunci dari dalam. Turiyah keluar mencari bala bantuan. Tak lama beberapa orang telah datang dan mendobrak pintu kamar mandi. 3 tubuh gosong tergeletak.

Selamat pagi. Ternyata ini juga perkara cinta. Hutangnya sudah dibayar 3 bulan yang lalu, kata Turiyah. Sumber lain mengatakan hutang tersebut sebenarnya belum dibayar tapi Turiyah telah lama mengikhlaskannya. Kabar buruk segera merebak menutup bau daging gosong: si suami, seorang penjual es krim, punya wanita simpanan. Mereka bertengkar satu hari sebelum kejadian naas itu. Tapi polisi segera menepis kabar itu. “Dari pemeriksaan, kemungkinan besar bunuh diri ini bukan diakibatkan oleh percekcokan,” ujar Kapolsek Depok Barat AKP Andreas Dodi Kusuma saat ditemui di lokasi kejadian. Ia menunjukkan isi surat wasiat itu: “Mas aku nyileh duit Mbak Turiyah Rp 20.000, sok nek duwe duit, tolong dibalekno yo (Mas aku pinjam uang mbak Turiyah Rp 20.000, besok kalau punya uang, tolong dikembalikan ya).” Tapi ibu korban yakin penyebab kematian anaknya adalah kelakuan suaminya. “Beberapa hari sebelumnya ia memergoki suaminya bertemu dengan perempuan lain,” tegasnya dengan berapi-api. “Anak saya tak akan berbuat senekad itu. Apalagi sampai membakar kedua cucu. Pasti karena sakit hati. Putus asa. Dan tak tahu apalagi yang harus dilakukan. Meski gak pernah cerita dengan jelas apa yang terjadi dalam keluarganya, sebagai ibunya saya tahu anak saya pasti menderita. Sampai beberapa hari yang lalu anak saya cerita kalau melihat suaminya pergi dengan perempuan lain. Melihat mereka boncengan di jalan.”

Selamat pagi. Apakah cinta musti dikabarkan dengan bakar diri. Perempuan itu bukanlah Sinta. Kedua balita yang turut tewas mengenaskan itu bukan pula Lawa dan Kusa. Di alun-alun Sinta membakar diri untuk menyatakan kesuciannya. Sekaligus juga menyatakan kekalahannya—ia toh tak perlu membuktikan apa-apa sebenarnya. Ia tak perlu peduli gunjingan orang senegara tentang ketidaksuciannya. Perkara suaminya terganggu dengan gunjingan biarlah—lelaki biasanya seperti itu—tak perlu ia berkorban lebih besar lagi. Tinggal pergi saja. Atau menghilang di dalam hutan Dandaka. Tapi Walmiki menentukan lain. Sinta mesti berkorban sekali lagi setelah seluruh penderitaannya reda dengan membakar diri. Tapi perempuan itu bukan Sinta. Ia bukan tokoh dari negeri dongeng yang aeng. Membakar diri adalah cara bunuh diri yang mengerikan. Teman saya pernah cerita ketika ia menemukan temannya tengah membakar diri di sebuah hutan. Proses kematiannya cukup lama. Ia menjerit-jerit kesakitan cukup lama sebelum tujuannya tercapai. Perempuan itu, Umi atau entah siapa namanya, bukanlah Sinta. Mungkin sekali aku pernah bertemu dengannya. Di sebuah tempat. Di sebuah papasan.

Selamat pagi. Apakah kemiskinan demikian menggelapkan hingga ia membutuhkan api untuk membakar sekujur tubuhnya agar terang seluruh jalannya. “Sebelum kejadian saya masih melihatnya menyapu di halaman rumahnya,” kata seorang tetangga, “ia terlihat sehat dan baik-baik saja. Tapi saya tak sempat menyapanya.” Ia tampak menyesal kenapa tak menyapanya. Tidak tahu kenapa ia musti menyesal. Perempuan itu pati obong pasti bukan karena ia alpa menyapanya. “Saya tak menyangka akan ada kejadian begini. Seharusnya ia membakar sampah seperti biasanya. Tapi malah membakar dirinya dan anak-anaknya.”

Selamat pagi. Saya hendak ke kamar mandi. Semoga saya tak membakar diri meski kemiskinan masih menghantui dan cinta tetaplah barang pecah belah. Di dalam kamar mandi saya akan menikmati kesendirian saya. Menikmati dunia di sekitar saya yang makin lama makin menyerupai dongengan.

Jogjakarta, 2012

Dipublikasikan di Kedaulatan Rakyat, 22 Januari 2012

Panji Reni

Di hari naas itu Angreni bangun sedikit terlalu siang. Ia tak mendapati Panji Inu Kertapati di sebelahnya. Lelaki yang dicintainya itu telah sibuk di kebun belakang ketika matanya menemukan seekor kupu-kupu hinggap di bantal sebelahnya. Ia sama sekali tak menaruh firasat apa-apa. Di hari yang lain mungkin ia akan membatin tentang akan datangnya seorang tamu penting ke rumah mereka. Tapi tidak. Ia segera beranjak dari tempat tidur, membuka jendela kamarnya, dan menemukan punggung Inu Kertapati yang mengkilat oleh keringat. “Pagi, Kangmas.” Inu Kertapati menoleh. “Siang.” Jawabnya sambil tersenyum. Ia meletakkan cangkulnya dan segera mendekat ke jendela. “Perempuan cantik tetap akan cantik meski ia baru bangun tidur.” Godanya. “Meski bangunnya kesiangan?” Angreni balas menggoda. Panji Inu Kertapati tak menjawab. Tapi dengan cepat ia memeluk isterinya itu. Yang dipeluk pura-pura telat menghindar. “Gak mau. Gak mau. Badan kakang basah keringat!” Tapi Inu Kertapati tak mau melepaskannya. “Perempuan cantik akan tetap wangi meski ia belum mandi” Katanya sambil menciumi wajah Angreni. Sekali lagi Angreni pura-pura menghindar sambil tersipu malu. “Bau rambutmu seperti bau hutan di pagi hari.” Angreni tersipu malu.

“Pagi itu seperti pagi yang biasanya. Tak ada hal-hal yang khusus yang terjadi.” Kata Prasanta. “Mereka seperti lumrahnya pasangan yang baru saja menikah. Setiap saat adalah saat yang tepat untuk saling mencumbu.” Lelaki tua itu tersenyum tapi kesedihan seperti tak mau pergi dari wajahnya. “Ya, tapi begitulah. Pagi itu adalah terakhir kalinya bahagia itu ada.” Tambahnya setelah berhenti agak lama. Tampaknya ia baru saja kembali dari pagi yang terjadi tiga tahun yang lalu itu. “Nakmas, sudah tahu kelanjutannya, bukan?” Aku mengangguk. Jenggala memang kehilangan cahaya sejak pagi itu. Angreni ditemukan terbunuh di ruang tamu rumahnya dan Panji Inu Kertapati hilang dengan menggendong mayat isterinya tersebut. “Saya menyesal tak mengikuti jejaknya. Saya benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Saya hanya melihat majikan saya itu berjalan dengan membopong tubuh isterinya. Kejadian itu memaku seluruh tubuh saya. Juga pikiran saya.”

Itulah kali terakhir Prasanta melihat majikannya. Jurudeh, rekannya, juga tak jauh berbeda ceritanya. “Tak akan ada yang menyangka pembunuhan yang keji akan terjadi pagi itu. Saya bisa merasakan betapa terpukulnya hati majikan saya. Bayangkan saja, belum genap seminggu ia menikah, ia harus berpisah dengan isterinya dengan cara setragis itu. Tapi sungguh ia adalah seorang kstaria yang halus perasaannya. Ia tak membalas dendam kepada sang pembunuh. Tapi memilih pergi. Ia lebih memilih menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematian itu. Nakmas tahu kan siapa yang paling bertanggungjawab atas pembunuhan itu?” Aku kembali mengangguk.

Cerita yang lain baru kudapatkan ketika aku berhasil menemui Panji Kartala, adik Panji Inu Kertapati, yang tak lain adalah sang pembunuh keji itu. Agak susah menemukan kediamannya sejak peristiwa berdarah tersebut. Mungkin perasaan bersalah terus mengejarnya hingga ia memilih mengasingkan diri dari keramaian. Kini ia tinggal di sebuah gubug di lereng Gunung Wilis. Pada kedatanganku yang pertama ia sama sekali tak mau bercerita. Ia terus menutup pintunya rapat-rapat apalagi ketika tahu maksud kedatanganku. Aku sama sekali tak sempat melihat wajahnya. Ya, aku tahu kedatanganku pasti mengungkit luka lamanya. Tapi aku tak menyerah begitu saja. Aku tahu ia masih ada di balik pintu itu, menungguku melangkah pergi meninggalkan gubuknya.

“Raden, saya tak bermaksud mengungkit-ungkit kembali peristiwa itu. Saya hanya ingin mendengar cerita yang sebenarnya, langsung dari mulut Raden. Saya hanya seorang tukang cerita yang ingin tahu cerita sebenarnya. Apakah Raden ingin dikenal sebagai pembunuh keji sepanjang hidup Raden. Mungkin pengakuan dari Raden bisa menjernihkan kejadian itu.” Ia tak menyahut. Tapi aku yakin ia belum melangkah pergi dari balik pintu kayu itu. Pasti ia mendengar seluruh perkataanku dengan jelas.

“Baiklah, Raden. Jika Raden belum siap saya akan datang ke sini 3 hari lagi. Saya tidak akan memaksa Raden untuk bercerita. Apa pula hak saya. Tapi mungkin cerita Raden akan bisa sedikit meringankan penderitaan yang bertahun-tahun Raden sandang.” Sehabis kalimat itu aku segera melangkah pergi.

3 hari kemudian, ketika sore sudah hampir habis, aku datang lagi dan mendapati pintu kayu itu setengah terbuka. Sebuah pertanda baik, batinku. “Masuklah, Tuan.” Sebuah suara terdengar datar dari dalam ruangan. Suara Panji Kartala. Aku segera masuk ke dalam ruangan, satu-satunya ruangan yang ada dalam gubuk tersebut. Sempit dan gelap. Sama sekali tak ada cahaya. Sisa-sisa matahari sore seperti tak berani masuk ke dalam gubuk. Hatiku bergetar. Mungkin seekor kambing pun akan menolak dikandangkan di situ. Tak terbayangkan olehku, seorang anak raja yang seharusnya tinggal dalam kasatrian yang megah harus berdiam dalam ruangan sempit yang pengap dan gelap seperti itu. Saking gelapnya aku tak bisa segera menemukan sosoknya. “Duduklah, Tuan. Maaf keadaannya seperti ini.”  Suaranya kembali terdengar. Mungkin sengaja untuk menuntunku yang tampak kebingungan menempatkan diri dalam gelap. Suaranya persis datang dari arah depanku. “Duduk saja sesuka Anda, Tuan. Tak ada apa-apa dalam ruangan ini. Jadi Anda bisa duduk di mana saja.” Aku segera duduk di tempatku berdiri saat itu. Menurut dugaanku Panji Kartala tengah duduk di depanku. Jadi saat itu kami tengah duduk saling berhadapan. Semoga saja pandanganku segera terbiasa dengan kegelapan sehingga bisa mengenali sosoknya yang misterius. Tapi harapanku sepertinya tak akan terkabul. Cahaya benar-benar telah menyingkir dari hidup Panji Kartala.

“Saya bukan pembunuh, Tuan.” Ia segera memulai ceritanya. “Bukan saya yang membunuhnya. Saya mencintai Kangmas saya. Saya juga mencintai Angreni yang telah membuat Kangmas saya begitu bahagia.” Panji Kartala berhenti. Ia mengambil nafas panjang, seperti tengah mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan ceritanya. “Malam itu ayah memanggil saya. Saya diminta untuk segera menghabisi nyawa Angreni. Perempuan itu telah merusak seluruh agenda keluarga kami, demikian alasannya. Rencana pernikahan Kangmas dengan Sekartaji jadi berantakan karena kehadirannya. Seperti Anda tahu, jika bisa terlaksana, pernikahan Panji Inu Kertapati dengan Sekartaji itu bukan pernikahan biasa, tapi pernikahan dua negeri; Jenggala dan Kediri. Jadi jalan satu-satunya untuk melancarkan kembali rencana itu adalah dengan menyingkirkan Angreni.” Panji Kartala kembali terdiam. Sepi. Saya bahkan tak mendengar hembusan nafasnya. Lelaki perkasa yang saat itu duduk di hadapan saya benar-benar telah mati sebelum waktunya.

“Malam itu saya tak bisa tidur, Tuan. Perasaan saya kacau balau antara melaksanakan atau menolak perintah itu. Panji Inu Kertapati adalah seorang kakak yang begitu saya hormati dan cintai. Saya tak akan sampai hati melukai perasaannya dengan menyingkirkan Angreni. Saya tahu kakak saya sangat mencintai perempuan itu hingga ia rela menanggalkan seluruh gelar kebangsawanannya demi mendapatkan perempuan desa itu. Tapi perintah raja adalah perintah dewata. Mau tidak mau saya harus melaksanakannya. Kalau pun saya menolak tentu ayah akan mengutus saudara-saudara saya yang lain. Sama saja. Angreni tetap akan tersingkirkan.”

Cerita Panji Kartala terus mengalir deras seperti Sungai Brantas. Mungkin baru kali itulah ia membeberkan semuanya. Aku seperti tengah menyaksikan sebuah bendungan yang jebol. Ia menumpahkan seluruh perasaannya yang aku tahu tak akan mengubah kenyataan—ia juga tahu pastinya: Angreni tak akan bisa hidup lagi.

Ia berlama-lama dalam menggambarkan kebimbangan hatinya. Mungkin dengan demikian perasaan bersalahnya akan sedikit berkurang. Ia seperti ingin menunjukkan bahwa ia tak melakukan pembunuhan itu sepenuh hatinya. Ia hanya sekadar menjalankan perintah. Aku tak terlalu tertarik dengan ceritanya di bagian tersebut meski aku bisa merasakan kesungguhan ceritanya. Bahkan jika aku menuruti perasaanku mungkin aku akan hanyut dalam kesedihannya. Barulah ketika ia menceritakan detil peristiwa di rumah Panji Inu Kertapati ia kembali berhasil menarik perhatianku. Bagian itulah yang selama ini tidak pernah berhasil aku dapatkan. Hanya 3 orang yang mengetahui dengan pasti apa yang sesungguhnya terjadi di rumah kecil di pinggir hutan itu: Panji Inu Kertapati, Angreni dan lelaki menyedihkan di hadapanku itu.

“Kangmas menerima kedatangan saya dengan gembira. Ia memeluk saya lama sekali. Kedatangan saya dianggapnya sebagai pertanda baik bagi hubungannya dengan kerabat yang lain. Angreni juga menyambut saya dengan terbuka. Sungguh seorang perempuan yang mulia. Betapa beruntungnya Kangmas karena bisa mendapatkan perempuan serupa itu. Kecantikan dan keramahannya melebihi puteri-puteri kraton yang pernah saya kenal. Setelah berbasa-basi di ruang tamu saya segera menjalankan rencana yang telah saya susun sepanjang perjalanan.”

Sebuah siasat telah disusunnya. Ia membuat berita palsu bahwa Lembu Amiluhur, ayah mereka, sakit keras. Satu-satunya jalan bagi kesembuhannya adalah dengan obat bernama Tlutuhing Kayu Kastuba Roning Sandilata. Seluruh kerabat sudah berusaha mendapatkannya tapi tak ada satu pun yang pulang membawa hasil. Harapan satu-satunya kini berada di pundak Panji Inu Kertapati.

“Mendengar kabar itu Kangmas langsung tampak sedih. Ia menduga penyakit yang diderita ayah disebabkan oleh pernikahannya dengan Angreni. Pagi itu ia berencana kembali ke Jenggala untuk menengok ayah. Tapi saya buru-buru mencegatnya. Saya katakan yang terpenting saat ini adalah mendapatkan obat. Perkara keluarga bisa diselesaikan kemudian setelah ayah berhasil disembuhkan. Angreni sedari awal hanya diam mendengarkan percakapan kami. Wajahnya sedikit berubah ketika saya pertama kali menyebut nama obat itu. Saya takut ia telah mengendus siasat saya. Dan memang demikianlah yang saya rasakan. Perempuan itu seperti mampu membaca pikiran saya. Tapi anehnya ia hanya diam saja. Kenyataan itu membuat nyali saya makin ciut.”

Panji Inu Kertapati telah termakan siasat adiknya. Ia memutuskan berangkat pagi itu juga menuju Gunung Penanggungan di mana obat itu konon berada. Panji Kartala diminta tinggal untuk menjaga Angreni selama kepergiannya. Aku heran, jika benar Angreni telah mengendus rencana jahat Panji Kartala, kenapa ia membiarkan suaminya pergi. Tapi pertanyaan itu segera terjawab.

“Memang demikianlah yang saya harapkan. Kangmas Inu Kertapati pergi dan saya bisa membunuh Angreni tanpa rintangan siapa pun. Kami melepas kepergian Kangmas di pintu depan. Ia pergi dengan diiringi Jurudeh dan Prasanta sebagaimana biasanya. Hanya tinggal kami berdua di rumah kecil itu: saya dan Angreni, perempuan yang harus segera saya bunuh.”

Kemudian cerita berhenti. Lama sekali. Panji Kartala tak ingin melanjutkannya.

“Ini bagian tersulit, Tuan. Semoga Anda bisa memahaminya. Semoga Anda menghormati perasaan saya. Saya benar-benar tak bisa melanjutkannya.”

Aku pun meninggalkan gubuk itu. Tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membujuknya menceritakan bagian terpenting dari peristiwa pembunuhan di sebuah pagi 3 tahun yang lalu itu. Aku seperti hampir mencapai sebuah tempat dan tiba-tiba saja harus berhenti. Dipaksa untuk berhenti. Tak ada yang bisa kulakukan lagi. Ia satu-satunya sumber yang ceritanya tentu akan sangat kupertimbangkan dibanding kabar-kabar burung yang santer terdengar tentang kisah pembunuhan Angreni. Sumber yang lain adalah Angreni. Untuk itu aku harus menunggu mati untuk bisa menemuinya. Dan kelak jika aku berhasil bertemu dengannya seluruh cerita ini tak akan ada gunanya. Cerita ini penting bagi yang hidup. Bukan yang mati. Dan tentu saja aku tak bisa menyalahkan Panji Kartala yang tak mau meneruskan ceritanya. Sebagaimana Panji Inu Kertapati, aku lebih menyalahkan diriku atas kegagalan tersebut. Mengutuk kelemahanku yang tak mampu mengorek cerita lebih jauh dari mulut Panji Kartala. Sebagaimana Panji Kartala, lebih baik aku melupakan saja cerita ini.

Sebuah keajaiban datang pada sebuah pagi, beberapa bulan setelah pertemuanku dengan Panji Kartala. Keajaiban itu datang dalam wujud sepucuk surat. Surat dari Panji Kartala. Tampaknya ia sudah berubah pikiran. Memilih untuk menuntaskan ceritanya. Aku sama sekali tak menduganya. Pikiranku sudah disibukkan oleh cerita-cerita yang lain, yang tak kalah seru dan menyentuh. Berikut aku kutipkan sebagian yang merupakan kelanjutan ceritanya. Yang lain tak penting benar aku sampaikan.

Sehabis kepergian Kangmas Inu Kertapati ke Gunung Penanggungan, Angreni segera mempersilakan saya kembali masuk ke dalam. “Mari masuk, Dik. Ada yang ingin kubicarakan.” Katanya dengan penuh kelembutan. Saya mengikutinya ke ruang tamu. Hati saya makin berdebar-debar. Mungkin ia akan membuka muslihat saya. Tapi bukan perkara itu benar yang saya risaukan. Karena bagaimanapun saya harus segera membunuhnya. Mengakhiri muslihat saya. Perkara yang lebih penting adalah apakah saya sanggup membunuh perempuan itu. Apakah saya sanggup melukai hati Kangmas Inu Kertapati. Dan saya akan segera menemukan jawabannya. Tapi terlebih dulu saya ingin mendengar apa yang hendak disampaikan Angreni.

Ia mengambil tempat duduk persis di seberang saya. Di antara kami hanya ada sebuah meja kayu sederhana. Tak ada hiasan apa-apa di atasnya. Hanya tiga gelas air putih sisa pertemuan tadi. Perempuan itu menatap saya dengan lembut. Tak berlebihan jika saya katakan bahwa tatapan semacam itu hanya bisa dimiliki oleh seorang bidadari. Kemudian jantung saya berdetak lebih keras dari yang seharusnya. Keringat dingin mulai mengalir di seluruh tubuh saya.

“Dik, aku sudah siap. Di mana Adik akan melakukannya?”

Hati saya benar-benar ciut. Perempuan itu sudah membaca segalanya. Dan yang lebih menggentarkan lagi, ia sama sekali tak menolak kenyataan yang mesti dihadapinya.

“Aku kan obat yang dibutuhkan oleh ayahanda Lembu Amiluhur?”

Saya menundukkan kepala saya dalam-dalam. Rasanya leher saya sudah tak sanggup lagi untuk menegakkannya.

“Akulah Tlutuhing Kayu Kastuba Roning Sandilata. Darahkulah getah kayu Kastuba. Tubuhkulah daun Sandilata yang akan menyembuhkan sakit beliau, benar demikian kan, Dik?”

Saya benar-benar tak bisa bicara, Tuan. Perempuan mulia itu telah mengalahkan saya.

“Lakukanlah apa yang mesti kaulakukan, Panji Kartala. Tugasmu adalah membunuhku. Dan jika memang benar kematianku akan membahagiakan Jenggala aku rela menyerahkan nyawaku. Apalagi jika kematianku akan membuat hidup Kangmas Panji Inu Kertapati lebih bahagia dari apa yang didapatnya sekarang bersamaku.”

Perempuan itu kini telah bersimpuh di hadapan saya.

“Lakukan sekarang atau aku akan melakukannya sendiri.”

Kejadian selanjutnya berlangsung begitu cepat. Keris yang semula berada di pinggang saya telah berpindah tempat. Keris itu tahu-tahu sudah menancap di dada Angreni. Saya baru menyadari kejadian itu ketika tubuhnya jatuh menimpa paha saya. Perempuan itu tewas di pangkuan saya, Tuan. Tubuhnya mengejang sebentar kemudian diam untuk selama-lamanya.

Demikianlah, Tuan. Kemudian saya bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Saya ingin pergi sejauh-jauhnya. Saya ingin melupakan peristiwa itu.

Cerita dari Panji Kartala itu setidaknya cukup menjawab teka-teki seputar pembunuhan Angreni yang telah menyebabkan Panji Inu Kertapati hilang ingatan dan pergi tak jelas di mana rimbanya. Tentu saja cerita ini bukanlah kebenaran tunggal yang layak untuk dipercaya begitu saja. Ah, aku ingin cepat-cepat menyelesaikan cerita ini. Lalu segera menyerahkannya kepada Entit[i]. Petani desa yang kaya raya itu pasti sudah tak sabar menunggu cerita pesanannya jadi.

Jogjakarta, 2011


[i] Seorang petani buruk rupa yang merupakan penyamaran dari Panji Inu Kertapati

Dipublikasikan melalu Suara Merdeka,  10 Juli 2011