Mustakaweni

ia memutuskan menyamar menjadi lelaki
—dengan sayap tumbuh di punggungnya
tak lupa ia pasang bintang di dadanya
menutup sepasang payudara yang menggoda

sebelum berangkat ia berkaca mematut tubuh
dan menyadari kumis belumlah tumbuh
di atas bibirnya yang merah jambu

tergesa ia oleskan minyak kelapa
pada belati dan dibakarnya menjadi jelaga

kini kumis yang tebal hitam berkilat
sudah melintang dengan garang
di atas bibirnya yang merah jambu

saatnya terbang membalas seluruh kehilangan
menang atau kalah biarlah dalang yang mengabarkan
ia hanya perlu menjaga agar kumisnya tak luntur oleh hujan

Jogja, 2012

Sepasang Arca

seketika kita menjelma arca
berpelukan di sebuah gunung
menunggu peziarah
yang datang tak tentu

kita tak bergerak ke mana pun
sementara tahun
ajek mengugurkan daun-daun

jalan sudah kadung kaulipat rapi
dan bakar di sebuah malam
masa depan tinggal asap
yang sekejap hilang
muksa dibawa lari angin

jadi di sinilah kita
memintal waktu
menebalkan kulit
dengan lumut dan debu

Jogja, 2012

Selo Blekithi

puisi ini kecil saja
seperti semut yang berarak
melintasi punggung
batu-batu gunung
tapi seluruh dalang akan merapalnya
di tengah malam
menjelang hari pemberangkatan itu
dan saat rampogan itu bergetar di layar
kita tahu, diam-diam, siapa yang sesungguhnya bergetar
tak penting lagi siapa kalah siapa menang
barisan rapi semut itu bergerak tenang
menuju dadamu yang lengang
tambur perang hanyalah lagu sedih di kejauhan
terdengar sesekali. pun lirih sekali

Jogja, 2011