Berita Pagi

Selamat pagi. Seorang perempuan membakar diri pagi ini. Ia membakar diri di kamar mandi bersama dua anak balitanya. Di kamar mandi, masih di kotaku yang kecil ini, seorang perempuan mengguyur tubuhnya dengan bensin. Ia tak lupa mengguyur pula dua gundul anaknya yang lucu-lucu itu. Ia tak hendak membersihkan kutu di kepala mereka. Ia ingin mengakhiri hidupnya. Hidup mereka bertiga. Sebelumnya ia menulis di selembar kertas mengingatkan kepada suaminya bahwa ia masih memiliki hutang duapuluh ribu rupiah kepada Bu Turiyah. Lalu api pun membakar tubuh mereka bertiga. Mandi api di pagi hari kata seorang tetangganya seperti sedang berpuisi. Ledakan terdengar memecah pagi jam delapan di perkampungan tanggung itu—desa sudah bukan kota masih belum. Turiyah yang tengah memasak segera berlari menuju sumber ledakan: kamar mandi di sebuah rumah kos-kosan. “Waktu saya lagi masak dengan suara keras dari rumah Umi, saya langsung mendatangi rumahnya. Pas masuk dengar anak teriak-teriak di kamar mandi. Lalu saya dekati ternyata pintu kamar mandinya dikunci dan mengeluarkan banyak asap.” Turiyah tak bisa berbuat apa-apa. Kamar mandi terkunci dari dalam. Turiyah keluar mencari bala bantuan. Tak lama beberapa orang telah datang dan mendobrak pintu kamar mandi. 3 tubuh gosong tergeletak.

Selamat pagi. Ternyata ini juga perkara cinta. Hutangnya sudah dibayar 3 bulan yang lalu, kata Turiyah. Sumber lain mengatakan hutang tersebut sebenarnya belum dibayar tapi Turiyah telah lama mengikhlaskannya. Kabar buruk segera merebak menutup bau daging gosong: si suami, seorang penjual es krim, punya wanita simpanan. Mereka bertengkar satu hari sebelum kejadian naas itu. Tapi polisi segera menepis kabar itu. “Dari pemeriksaan, kemungkinan besar bunuh diri ini bukan diakibatkan oleh percekcokan,” ujar Kapolsek Depok Barat AKP Andreas Dodi Kusuma saat ditemui di lokasi kejadian. Ia menunjukkan isi surat wasiat itu: “Mas aku nyileh duit Mbak Turiyah Rp 20.000, sok nek duwe duit, tolong dibalekno yo (Mas aku pinjam uang mbak Turiyah Rp 20.000, besok kalau punya uang, tolong dikembalikan ya).” Tapi ibu korban yakin penyebab kematian anaknya adalah kelakuan suaminya. “Beberapa hari sebelumnya ia memergoki suaminya bertemu dengan perempuan lain,” tegasnya dengan berapi-api. “Anak saya tak akan berbuat senekad itu. Apalagi sampai membakar kedua cucu. Pasti karena sakit hati. Putus asa. Dan tak tahu apalagi yang harus dilakukan. Meski gak pernah cerita dengan jelas apa yang terjadi dalam keluarganya, sebagai ibunya saya tahu anak saya pasti menderita. Sampai beberapa hari yang lalu anak saya cerita kalau melihat suaminya pergi dengan perempuan lain. Melihat mereka boncengan di jalan.”

Selamat pagi. Apakah cinta musti dikabarkan dengan bakar diri. Perempuan itu bukanlah Sinta. Kedua balita yang turut tewas mengenaskan itu bukan pula Lawa dan Kusa. Di alun-alun Sinta membakar diri untuk menyatakan kesuciannya. Sekaligus juga menyatakan kekalahannya—ia toh tak perlu membuktikan apa-apa sebenarnya. Ia tak perlu peduli gunjingan orang senegara tentang ketidaksuciannya. Perkara suaminya terganggu dengan gunjingan biarlah—lelaki biasanya seperti itu—tak perlu ia berkorban lebih besar lagi. Tinggal pergi saja. Atau menghilang di dalam hutan Dandaka. Tapi Walmiki menentukan lain. Sinta mesti berkorban sekali lagi setelah seluruh penderitaannya reda dengan membakar diri. Tapi perempuan itu bukan Sinta. Ia bukan tokoh dari negeri dongeng yang aeng. Membakar diri adalah cara bunuh diri yang mengerikan. Teman saya pernah cerita ketika ia menemukan temannya tengah membakar diri di sebuah hutan. Proses kematiannya cukup lama. Ia menjerit-jerit kesakitan cukup lama sebelum tujuannya tercapai. Perempuan itu, Umi atau entah siapa namanya, bukanlah Sinta. Mungkin sekali aku pernah bertemu dengannya. Di sebuah tempat. Di sebuah papasan.

Selamat pagi. Apakah kemiskinan demikian menggelapkan hingga ia membutuhkan api untuk membakar sekujur tubuhnya agar terang seluruh jalannya. “Sebelum kejadian saya masih melihatnya menyapu di halaman rumahnya,” kata seorang tetangga, “ia terlihat sehat dan baik-baik saja. Tapi saya tak sempat menyapanya.” Ia tampak menyesal kenapa tak menyapanya. Tidak tahu kenapa ia musti menyesal. Perempuan itu pati obong pasti bukan karena ia alpa menyapanya. “Saya tak menyangka akan ada kejadian begini. Seharusnya ia membakar sampah seperti biasanya. Tapi malah membakar dirinya dan anak-anaknya.”

Selamat pagi. Saya hendak ke kamar mandi. Semoga saya tak membakar diri meski kemiskinan masih menghantui dan cinta tetaplah barang pecah belah. Di dalam kamar mandi saya akan menikmati kesendirian saya. Menikmati dunia di sekitar saya yang makin lama makin menyerupai dongengan.

Jogjakarta, 2012

Dipublikasikan di Kedaulatan Rakyat, 22 Januari 2012

Akupa (24)

24

Radite bisa tidur dengan nyaman malam itu. Target pertamanya sudah tercapai. Masuk ke jantung Dakawu. Ia yakin Ki Raspati akan mempertimbangkan dirinya menjadi prajurit Dakawu. Bukankah Ki Raspati sudah melihat sendiri bagaimana kekuatannya mampu menumbangkan Sepasang Gagak dari Kwak dalam satu kali gebrakan. Besok pagi Ki Raspati memintanya menghadap. Pada saat itulah ia akan mengajukan dirinya menjadi prajurit. Bahkan dengan pangkat serendah apa pun akan ia terima dengan senang hati. Lalu sesuai dengan rencananya sedikit demi sedikit ia akan menunjukkan pengorbanannya bagi kejayaan Dakawu. Niscaya jabatan dan pangkatnya akan semakin meninggi. Anggara dan Buda tentu akan banyak membantunya mengingat mereka telah berhutang nyawa. Radite memejamkan matanya, tak sabar menunggu hari esok tiba. Dan ia pun segera terlelap dalam tidur yang paling dalam. Gelap.

Gelap. Tak ada cahaya sama sekali. Budug terus berlari. Beberapa kali ia terjatuh karena membentur bebatuan, menabrak tebing-tebing atau terperosok ke dalam jurang. Ia jatuh bergulingan. Ia terlempar ke belakang. Ia terlontar ke depan. Tapi ia bangun. Dan kembali berlari. Dalam gelap ia merasa seluruh tubuhnya telah terluka. Keringat dan darah telah bercampur melumuri sekujur tubuhnya. “Budug!” suara perempuan yang sedari tadi mengejarnya terus terdengar. “Budug!” Suara itu seperti mengikutinya dengan rapat sekencang apa pun ia berlari. “Buduggg!”

Radite terbangun dari tidurnya. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Jantungnya berdetak dengan cepat. Sialan! Umpatnya. Aku bermimpi lagi. Mimpi yang sama lagi. Entah kenapa mimpi itu selalu datang mengunjunginya di saat-saat tertentu. Dan tiap kali ia terbangun dari mimpi buruknya, bayangan Sinta kembali hadir. Wajah ibunya itu kembali datang mengganggunya. Jika saja kau tak memukulku sore itu, Bu. Mungkin saat ini kita masih hidup bersama. Sore yang buruk itu melintas lagi di langit-langit kamar Radite.

Tidak. Tidak sakit. Luka di kepalaku tidak terlalu sakit. Tepatnya aku tidak terlalu merasakannya. Tapi mata ibu sore itu. Sepasang mata itulah yang menyakitiku. Sepasang mata yang tajam dan mengerikan. Entah setan macam apa yang berdiam di sana. Belum pernah kulihat ibu semengerikan sore itu. Sepasang mata itu seperti tak mengenaliku. Anaknya satu-satunya. Yang dibesarkannya sendirian tanpa bantuan siapa pun. Ya, memang, sore itu aku nakal sekali. Tapi anak mana yang tak nakal. Aku hanya mau minta nasi. Lapar setelah bermain seharian. Tapi sebuah pukulan mendarat dengan keras di ubun-ubun kepalaku. Kau sibak saja rambutku, kau akan menemukan bekas luka yang sepertinya tak akan pernah kering itu—kenanganku atas sepasang mata ibu selalu membasahi bekas luka itu.

Aku jatuh terbanting ke lantai tanah yang lembab. Kupegangi kepalaku sambil melihat ibu yang masih menggenggam entong nasi. Entong itu bersimbah darah. Darah dari kepalaku. Ibu seperti perempuan yang linglung. Mata yang mengerikan itu telah menjadi kosong. Aku tak melihat apa pun di sana, bahkan bayanganku sendiri. Kosong.

Lalu entong itu jatuh ke tanah seperti ranting kayu yang jatuh dari pohon. Pelan. Pelan sekali. Aku bisa melihat dengan jelas perjalanan entong itu dari tangan ibuku hingga kemudian pada akhirnya jatuh membentur lantai tanah. Ibu yang semula terpatung mulai bergerak. Ia seperti berlari menuju ke arahku. Pelan sekali. Seperti tak akan pernah sampai padaku. Pada saat itulah aku bangkit. Sebongkah tenaga yang luar biasa besar telah memenuhi dadaku hingga sesak. Sebongkah tenaga yang makin lama makin besar. Dadaku seperti tak akan kuasa menampungnya. Lari, Budug! Lari! Sebab ia tengah berlari untuk menerkammu. Melukaimu sekali lagi! Sebongkah tenaga itu menjelma suara. Keras sekali menghantam telingaku. Lari, Budug! Lari!

Aku berlari sekuat tenaga meninggalkannya. Aku sama sekali tak berani menoleh ke belakang. Aku tak tahu apakah ia mengejarku atau tidak. Aku hanya terus berlari menembus hujan yang entah sejak kapan turun dengan deras.

Malam yang gelap memaksaku berhenti. Malam yang begitu mengerikan. Itulah kali pertama dalam hidupku aku pergi sendirian. Sendirian dan tanpa tujuan. Selain berlari meninggalkan ibuku. Aku yakin ia tengah mencariku. Samar-samar aku masih bisa mendengar suaranya memanggil-manggil namaku. Mataku memandang sekeliling. Mencoba mengenalinya. Tidak. aku sama sekali tak sanggup mengenali tempat itu. Entah di mana aku saat itu. Beberapa pohon tegak menjulang di sekitarku. Pohon-pohon randu alas yang perkasa. Lalu rasa lelah menuntunku untuk menyandarkan tubuhku di salah satu batang pohon-pohon itu. Lelah sekali rasanya. Belum pernah aku berlari sekencang dan selama itu. Tubuhku seperti mati rasa. Tenaga yang sedari tadi menggerakkanku entah lenyap ke mana.

Batang pohon randu memeluk tubuhku yang lemah. Sudah jauh malam. Tak kulihat bintang atau bulan di langit. Tiba-tiba aku merasa benar-benar sendirian. Aku baru bisa merasakannya. Ibuku, satu-satu yang kumiliki sudah tak ada lagi. aku hanya memliki diriku sendiri beserta segala perasaan yang berkecamuk di dalamnya. Lalu lap! Aku terlelap dalam tidur. Selamat malam diriku.

Entah berapa lama aku terlelap. Bisa sebentar. Bisa pula lama. Tapi yang jelas hari masih tetap gelap dan menyeramkan. Dan sepasang mata hijau tampak bercahaya di hadapanku. Diakah yang mengusik tidurku? Belum sempat aku menduga-duga sepasang mata itu meloncat ke arah bagai dua kunang-kunang yang melesat terbang. Dengan spontan aku berguling ke samping. Grrrrhhh! Pemilik sepasang mata hijau itu menggeram. Seekor harimau kumbang! Jantung berdetak kembali dengan kencang. Harimau untuk kembali mencoba menerkamku. Aku berguling kembali tapi terlambat. Kuku-kukunya yang tajam sempat menggores lenganku. Gagal menerkam mangsanya untuk kedua kali membuat harimau itu marah. Dan sekali lagi ia melayang ke arahku. Lebih cepat dari sebelumnya. Aku berteriak ketakutan. (bersambung)

Akupa (23)

23

“Kami juga tak habis pikir kenapa mereka menyerang kami.” Jawab Sitawaka kemudian. Akupa hanya diam saja. Ia membiarkan Sitawaka mewakili dirinya. Toh jawaban yang keluar akan sama. Meski dengan bahasa yang berbeda.

“Hmm… Aneh. Kedatangan mereka persis di belakang kedatangan kalian. Sepertinya mereka telah mengikuti perjalanan kalian. Dan menilik dari lokasi mereka yang jauh di pegunungan selatan, tentu ada sebab yang kuat hingga mereka sampai di kaki gunung Merapi ini.”

“Mungkin benar dugaan Ki Kasa. Mereka telah mengikuti langkah kami sejak dari luar Kayuwangi ini.” Sitawaka membenarkan dugaan Kasa. Pikiran Sitawaka melayang jauh ke belakang. Ia menduga akan menemukan jawabannya di sana. Terang mereka mengikutiku, batinnya. Bukan Akupa. Pemuda dari telaga Liman ini baru saja keluar dari sarangnya dan aku adalah manusia pertama yang ditemuinya. Ia belum memiliki persoalan dengan siapa pun. Sitawaka memeriksa kembali ingatannya. Apakah semua ini berhubungan dengan pertapa dari pegunungan selatan yang pernah ditemuinya beberapa tahun yang lewat. Sitawaka mengulang kembali peristiwa itu dalam kepalanya.

Kejadian itu berlangsung beberapa bulan yang lalu saat ia mengembara di wilayah selatan sebagai bagian dari usahanya menemukan kura-kura yang kesepian sebagaimana telah dibisikkan suara gaib di telinganya. Sitawaka sampai di tepi hutan pegunungan selatan di mana tinggal seorang petapa sakti bernama Bujangga Manik. Ia sengaja menemui pertapa itu untuk mencari tahu di mana ia bisa menemukan kura-kura yang kesepian. Tapi sang pertapa yang tengah bertapa tak menggubris kedatangannya. Ia bahkan tak menjawab salam yang sopan. Tak menjawab pertanyaannya yang telah disampaikan sehalus mungkin. Berhari-hari Sitawaka menunggu jawaban. Berhari-hari pula ia mengulang kembali pertanyaannya. Di hari yang keempat puluh kesabaran Sitawaka habis sudah. Dengan marah ia meninggalkan sang pertapa dan masuk ke dalam hutan. Tapi ia tak bermaksud pergi karena menyerah kalah. Ia masuk ke dalam hutan untuk menangkap seekor macan. Tak terlalu lama ia telah berhasil mewujudkan amarahnya. Seekor macan betina berhasil diringkusnya. Segera pula ia kembali ke hadapan sang pertapa. Dan di sanalah ia melampiaskan kemarahannya atas sikap sang pertapa dengan memenggal kepala macan itu persis di hadapan sang Bujangga Manik. Lalu kepala macan betina itu ditaruhnya ke pangkuan sang pertapa. Darah macan yang merah membasahi jubah putih yang dikenakan. Tapi Bujangga Manik tetap bergeming di tempatnya. Ia sama sekali tak terganggu dengan perlakuan Sitawaka yang mengerikan itu.  Malah Sitawaka yang kemudian terduduk lemas. Menyerah kalah oleh keheningan sang pertapa. Ia menangis sejadi-jadinya. Menyesali perbuatannya. Mengutuk ketidaksabarannya. Dan terakhir sebelum pergi ia meminta ampunan dari sang Bujangga Manik atas segala perbuatannya yang kotor. Bujangga Manik tetap terlelap dalam keheningan dewa-dewa saat Sitawaka melangkah pergi melanjutkan perjalanannya.

Apakah kedatangan mahkluk-mahkluk separuh macan itu berhubungan dengan kejadian itu? Sitawaka tak bisa memastikannya. Tapi itulah satu-satunya persentuhannya dengan hutan di pegunungan selatan di mana para Shima Daksinarga konon tinggal. Ataukah itu pesan yang dikirimkan oleh Bujangga Manik kepadanya, bahwa kura-kura kesepian telah berhasil ditemukannya? Kura-kura kesepian yang tak lain adalah Akupa yang sekarang tengah bengong di sampingnya mendengarkan kisah berdirinya Kayuwangi yang tengah dituturkan oleh Kasa dan Lahru. Sitawaka menarik nafas dalam-dalam. Ia telah kembali dari lamunannya. Kini ia terhanyut oleh tembang Kasa dan Lahru yang bergantian menuturkan Babad Kayuwangi, cerita tentang para leluhur Kayuwangi. Syair yang halus dan indah. Suara yang merdu dan menghanyutkan apa saja yang dilintasinya. Tanpa sadar Sitawaka merogoh suling dari kantungnya. Ia meniupnya, mengiringi tembang yang mendayu-dayu itu. Malam tampak lebih indah dari yang sudah-sudah. Bagi Akupa, suara tembang yang berpadu dengan suling yang tengah dinikmatinya mampu memupus kerinduannya pada telaga Liman. Diam-diam ia menikmati wajah Sitawaka. Kehadiran perempuan beraroma kenanga itu telah memenuhi hatinya. Getar-getar tak ternamakan telah menguasainya. Hanya saja ia tak tahu kenapa. Tapi ia sangat menikmatinya. Saat itu Akupa belum mengenal kata cinta.

Kayuwangi tumbuh dari cinta

Pemuda dan kekasih hatinya

Sayang cinta mereka berdua

Jatuh menjadi duka dan luka

Di ranjang Landep gelisah. Ia berkali-kali mencoba tidur tapi tak bisa. Tiap kali ambang kesadarannya hampir sirna selalu ada membangunkannya kembali. Keringat dingin keluar membasahi tubuhnya. Membuat sarung bantal dan sprei basah dan mencipta bayangan tubuhnya. Apakah yang tiba-tiba mengganggu kenyamanan hidupnya. Dosa-dosa yang datang dari masa lalu? Raspati belum kembali dari tempat huru-hara. Karena itukah? Landep tak yakin. Tiba-tiba saja bayangan Sinta melintas dengan jelas di langit-langit kamarnya. Apa kabarmu, Kakakku? Bagaiaman keadaanmu sekarang? Anak yang dulu kaukandung tentu sudah menjelma seorang pemuda atau gadis yang tengah menginjak dewasa sekarang ini. Malam ini tiba-tiba saja aku ingin bertemu denganmu. Aku tahu kau akan menolak pelukanku. Juga permintaan maafku. Tapi demikianlah yang telah digariskan, Kakakku yang cantik—apakah kau masih secantik dulu? Demikianlah jalan hidup kita. Aku di sini dan kau entah berada di mana saat ini. Tapi kelak suatu saat kita pasti akan kembali bersama. Duduk berdampingan sebagaimana sediakala. Bukankah kita sama terlahir dari tetes airmata ayah kita. Dua butir air mata terakhirnya.

Derit pintu kamar membuyarkan lamunan Landep. Raspati telah datang. Landep segera bangun dari ranjang dan menyambut kedatangannya denga pelukan.

“Aku mencemaskanmu, Kakang Raspati.” Bisiknya pelan di telinga Raspati. Raspati membalas dengan pelukan yang hangat. Sehangat perasaannya malam itu.

“Kedua anakku telah kembali.” Katanya. Landep melepas pelukannya.

“Anakmu, Kakang?”

“Iya. Anggara dan Buda. Anak dari Soma isteri pertamaku.”

“Oh…” Landep mendesah sambil tersenyum. Mencoba menemani kebahagiaan suaminya.

“Mereka juga anakku, Kakang.” Katanya kemudian. Lalu keduanya berjalan pelan menuju peraduan. (bersambung)