Gunawan Maryanto adalah seorang sutradara, aktor dan penulis. Lahir di Jogjakarta, 10 April 1976. Bekerja di Teater Garasi/Garasi Performance Institute sebagai Associate Artistic. Dalam 7 tahun terakhir mengelola IDRF (Indonesia Dramatic Reading Festival) selaku penata program. Saat ini menetap di Jogjakarta.

Bukunya yang telah terbit antara lain Waktu Batu (naskah lakon, ditulis bersama Andre Nur Latif dan Ugoran Prasad, Indonesiatera, 2004), Bon Suwung (kumpulan cerpen, Insistpress, 2005), Galigi (kumpulan cerpen, Koekoesan 2007), Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya (kumpulan puisi, Omahsore, 2008), Usaha Menjadi Sakti (kumpulan cerpen, Omahsore, 2009), Sejumlah Perkutut Buat Bapak (kumpulan puisi, Omahsore 2010—mendapatkan Hadiah Sastra Khatulistiwa), The Queen of Pantura (kumpulan puisi, Omahsore, 2013), Sukra’s Eyes and Other Stories (short stories, Lontar, 2015) dan terbaru Pergi Ke Toko Wayang (kumpulan cerita, Tan Kinira 2015).

Karya penyutradaraannya bersama Teater Garasi di antaranya adalah Sri (adaptasi dari Yerma karya F Garcia Lorca, 1999), Repertoar Hujan (2001, 2005), Dicong Bak (2006), Gandamayu (2012) dan Krontjong Mendoet (2012).

Ia juga kerap bekerja sama dengan (Alm) Ki Slamet Gundono, Kelompok Sahita, Miroto, dan Eko Nugroho dalam berbagai proyek penciptaan. Selain itu ia juga membintangi sejumlah film seperti Toilet Blues (Sutradara Dirmawan Hatta, 2013), Optatissimus (Sutradara Dirmawan Hatta, 2013), Guru Bangsa: Tjokroaminoto (Sutradara Garin Nugroho, 2015), Mencari Hilal (Sutradara Ismail Basbeth, 2015), Aach… Aku jatuh Cinta! (Sutradara Garin Nugroho, 2015), Nyai (Sutradara Garin Nugroho, 2016) dan Istirahatlah Kata-Kata (Sutradara Yosep Anggi Noen, 2016).

Penghargaan seni yang pernah diraihnya adalah Anugrah Budaya dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk Media Cetak dan Elektronik kategori puisi pada tahun 2007, FTI Award 2008 dan Anugrah Sastra Khatulistiwa 2010 untuk katagori puisi. Cerpen dan puisi-puisinya juga masuk ke dalam Cerpen Indonesia Terbaik dan Puisi Indonesia Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana 2008  dan 2009. Terakhir ia dinobatkan sebagai aktor film terbaik 2016 pilihan Majalah Tempo untuk permainannya sebagai Wiji Thukul dalam film Istirahatlah Kata-Kata.

Sebagai penulis ia pernah diundang untuk membacakan karyanya di Bienal Sastra Internasional Utan Kayu 2005, Ubud Writers and Readers Festival 2006, Global Voices in Borobudur 2009, Korean ASEAN Poetry Literary Festival II 2011 dan Frankfurt Book Fair 2015. Dan sebagai teaterawan pada tahun 2005 ia diundang untuk mengikuti Physical Theatre Festival di Tokyo, mengikuti residensi teater di Cheuncheon, Korea Selatan pada tahun 2012, mengikuti OzAsia Festival di Adelaide, Australia pada tahun 2015. Terakhir bersama Wayang Bocor dan Eko Nugroho melawat ke New York, North Carolina dan Los Angeles (2017)

Comments (5)

  1. wah, sampeyan sudah punya website. welcome to the cyberworld …

  2. iya nih, ka :)

  3. Nulis geguritan ora Dab? aku nulis sithik2….

  4. geguritan wos ora nulis meneh, mas

  5. […] di Jogja sebagai penulis dan Sutradara seni pertunjukan di Teater Garasi . Profilnya bisa dilihat disini ) This entry was posted in 1000burungkertas and tagged 1000burungkertas, Gunawan Maryanto. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *